Bencana di Sumut: Korban Jiwa Tembus 316 Jiwa, Tapanuli Tengah dan Sibolga Masih Terisolir

Bencana di Sumut: Korban Jiwa Tembus 316 Jiwa, Tapanuli Tengah dan Sibolga Masih Terisolir

MAKLUMATBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan fokus penanganan bencana banjir besar di Sumatera Utara kini diarahkan ke wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga. Akses menuju kedua wilayah tersebut masih terputus. Kepala BNPB, Suharyanto, menyampaikan bahwa hingga Ahad (30/11/2025), sejumlah daerah seperti Langkat dan Tebing Tinggi sudah tertangani, namun sebagian wilayah lain masih menghadapi situasi darurat.

Menurut data BNPB, jumlah korban meninggal dunia di Sumut mencapai 316 jiwa, korban hilang 289 orang, korban luka 618, dan total warga terdampak mencapai 277.700 jiwa. Kondisi ini menjadikan penanganan di Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, hingga sebagian Langkat sebagai pekerjaan besar yang harus dituntaskan segera.

“Tapteng dan Sibolga masih terisolasi. Satu-satunya akses hanya lewat udara,” ujar Suharyanto. Ia menambahkan, sempat beredar video viral warga mengambil logistik di Tapteng. “Itu bukan penjarahan, tetapi warga mengambil logistik yang memang dibutuhkan,” tegas Suharyanto dalam konferensi pers BNPB, Ahad (30/11/2025).

BNPB saat ini memprioritaskan pembukaan jalur darat menuju Tapteng dan Sibolga. Beberapa warga dilaporkan terjebak di jalur penghubung antara kedua wilayah tersebut. Sejumlah prajurit TNI dikerahkan untuk membantu warga yang terjebak.

Suharyanto memastikan kebutuhan dasar tercukupi, logistik telah disiapkan untuk kebutuhan satu minggu ke depan. Sebanyak enam helikopter dan satu pesawat Cessna dikerahkan, ditambah satu KRI yang dikirim dari Jakarta menuju Sibolga untuk mempercepat distribusi bantuan.

Baca Juga  Muhammadiyah Gerakkan Solidaritas Nasional untuk Korban Banjir dan Longsor Sumatera–Aceh

Keluhan Warga Membanjiri Media Sosial

Di tengah upaya penanganan, media sosial dipenuhi keluhan warga dari berbagai daerah terdampak, mulai Medan, Langkat, hingga Sibolga. Banyak yang mengeluhkan bantuan terlambat, listrik padam berjam-jam, hingga kelangkaan BBM.

Akun @bumbelbi1999 mengkritik pernyataan pejabat yang meminta warga “menunggu agak kering” sebelum bantuan maksimal diberikan. Sementara @fathullahfathu2 menyebut pemerintah pusat bergerak lambat dalam merespons bencana.

Dari Medan, akun @abdi_rakyat_24 menulis, “Tiga musibah sekaligus: banjir, listrik padam, dan BBM langka. Mobilitas warga lumpuh.”

Akun lain, @jhontm01, menyatakan kekecewaannya atas keterlambatan bantuan: “Bantuan telat itu biasa. Tapi baru kali ini lihat korban bencana sampai menjarah.” Sedangkan @tkgit1 mempertanyakan peran BNPB dan Basarnas: “Bintang-bintang sudah pegang kendali, tapi apa hasilnya?”

Keluhan serupa datang dari Langkat. Akun @clueless_violet melaporkan air telah mencapai tinggi kepala orang dewasa, namun bantuan belum masuk. “Listrik masih padam, warga kelaparan,” tulisnya.

Di Sibolga, warga meminta bukti CCTV di titik-titik publik dijaga, termasuk dari Masjid Agung Sibolga, untuk memastikan tidak terjadi penyalahgunaan informasi terkait dugaan penjarahan.

Tak sedikit pula yang menyindir prioritas pemerintah. “Kalau keterlambatan itu sudah tradisi. Tapi kalau donasi untuk Palestina cepat sekali,” cuit akun @morisgarage.

Harapan Warga: Akses Dibuka, Bantuan Dipercepat

Hingga berita ini diturunkan, laporan dari berbagai daerah menyebutkan air masih terus naik meskipun cuaca di beberapa tempat mulai cerah. Warga berharap pemerintah segera mempercepat pembukaan akses, terutama jalur darat menuju Tapteng dan Sibolga, serta memastikan distribusi bantuan menjangkau seluruh lokasi terisolasi.

Baca Juga  Keren! UMM Masuk Deretan Kampus Terbaik Asia

BNPB menyatakan seluruh sumber daya telah dikerahkan dan koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat untuk mengatasi dampak banjir yang meluas di Sumatera Utara.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *