Berbuka Jangan Berlebihan: Picu Maag hingga Diabetes

Berbuka puasa yang berlebih-lebihan tidak baik bagi kesehatan. (Foto: Freepik)

MAKLUMAT — Berbuka puasa sering kali seolah menjadi momen “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus. Padahal Islam mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan, termasuk dalam makan dan minum.

Islam mengajarkan keseimbangan dalam segala hal, termasuk dalam pola makan. Allah Swt berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menjadi prinsip dasar kesehatan dalam Islam, terutama berkaitan dengan pola makan.

Namun, ketika menjelang berbuka puasa sering kali meja makan tampak dipenuhi aneka makanan berat hingga kudapan. Mulai gorengan, kolak, sirup, maupun makanan-makanan berat dalam jumlah besar.

Momentum buka puasa seolah hanya menjadi ajang “balas dendam” setelah menahan lapar dan dahaga selama seharian penuh, sejak subuh hingga magrib.

Secara medis, pola berbuka seperti itu justru membahayakan tubuh.

Setelah berpuasa selama lebih dari 12 jam, lambung berada dalam kondisi relatif kosong dan sensitif. Jika langsung diisi dengan makanan berat dalam jumlah banyak, kerja lambung akan meningkat secara drastis. Kondisi ini dapat memicu nyeri ulu hati, perut kembung, mual, muntah, hingga refluks asam lambung (GERD). Pada penderita maag, kebiasaan ini dapat memperparah keluhan.

Baca Juga  Sekda Bojonegoro Harap Muhammadiyah Jadi Pelopor Gerakan Hijau di Daerah

Selain gangguan lambung, lonjakan gula darah juga menjadi ancaman serius. Minuman manis dan makanan tinggi karbohidrat sederhana akan menyebabkan peningkatan gula darah secara cepat.

Jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari selama Ramadan, maka risiko diabetes melitus, obesitas dan gangguan metabolik akan meningkat. Rasulullah Saw memberikan teladan kesederhanaan dalam berbuka. Beliau bersabda:

“Tidak ada bejana yang lebih buruk untuk dipenuhi oleh manusia selain perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menegaskan bahwa makan secukupnya adalah kunci kesehatan. Selain berdampak pada tubuh, berbuka berlebihan juga berdampak pada ibadah. Perut yang terlalu kenyang menyebabkan rasa kantuk, malas bergerak dan sulit khusyuk dalam Salat Tarawih maupun tadarus Al-Qur’an.

Akhirnya, Ramadan yang seharusnya menjadi bulan peningkatan kualitas ibadah justru berubah menjadi bulan makan berlebihan.

Cara berbuka yang sehat dan sesuai sunnah:

  • Awali berbuka dengan air putih dan kurma secukupnya;
  • Beri jeda 10–15 menit sebelum makan besar, misalnya dengan Salat Magrib terlebih dahulu;
  • Makan perlahan dan berhenti sebelum kenyang;
  • Pilih menu yang seimbang: karbohidrat kompleks, protein, sayur dan buah;
  • Hindari minuman bersoda dan makanan tinggi gula berlebihan.
Baca Juga  Minum Air Hangat di Pagi Hari, Ini 8 Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Puasa sejatinya bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih disiplin dan pengendalian diri. Dengan berbuka secara sederhana dan sehat, kita menjaga amanah tubuh sekaligus meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadan.