Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana mengatakan hasil survei Disdik pada 2025 terhadap 70 satuan pendidikan menunjukkan lebih dari 60 persen siswa merasa lebih fokus belajar setelah gawai dibatasi. Apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta ini bisa menjadi Pilot Project provinsi atau kota/kabupaten di Indonesia di tengah kecanduan gawai di kalangan siswa/pelajar yang semakin memprihatinkan.
“Lebih dari 60 persen murid menyatakan pembatasan gawai membuat mereka lebih fokus belajar,” ujar Nahdiana di Jakarta, Selasa (20/1/ 2026).
Nahdiana menjelaskan temuan tersebut disampaikan dalam kegiatan Peluncuran Surat Edaran Pemanfaatan Gawai dengan Bijak di Lingkungan Satuan Pendidikan di Jakarta. Hasil survei itu juga diperkuat melalui diskusi kelompok terarah bersama perwakilan siswa SMP dan SMA.
Menurutnya, kebijakan hari tanpa gawai memberi pengalaman positif bagi peserta didik karena membuka ruang interaksi sosial secara langsung serta meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, kajian bertajuk Smartphone Regulation in Schools: Indonesia’s Context 2025 mencatat 53 persen guru menilai kehadiran ponsel di kelas membuat siswa kurang fokus saat pelajaran berlangsung. Sebanyak 64 persen guru juga menyebut siswa cenderung memilih menggunakan smartphone dibanding berinteraksi secara tatap muka.
Berdasarkan temuan tersebut, Disdik DKI Jakarta mengimbau sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk berperan aktif mendampingi anak dalam menggunakan gawai secara bijak agar tidak mengganggu konsentrasi dan produktivitas belajar.













