MAKLUMAT – Daging dam (denda) jemaah haji Indonesia sebagian besar mengalir untuk membantu masyarakat Palestina, yang tengah didera krisis kemanusiaan. Pemerintah Indonesia mengambil langkah progresif pada musim haji 1447 H / 2026 M atas instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan pemerintah sat ini tengah mematangkan koordinasi dengan otoritas program Adahi, dan Pemerintah Arab Saudi agar proses birokrasi pengiriman berjalan mulus.
”Kami sudah meminta secara khusus kepada Adahi dan Pemerintah Arab Saudi agar daging-daging dam ini terdistribusi tepat sasaran ke masyarakat Palestina,” ujar Dahnil di Makkah dikutip, Senin (25/5/2026).
Dahnil menilai pengalihan rute distribusi ini akan memperluas esensi dan nilai manfaat dari ibadah hadyu (menyembelih hewan) jemaah Indonesia. Solidaritas kemanusiaan dunia Islam kini mewujud nyata lewat piring-piring makanan warga Palestina.
Lonjakan Data dan Transparansi Radikal
Selain membawa misi kemanusiaan ke Palestina, Kemenhaj tahun ini juga sukses merombak total tata kelola pembayaran dam menjadi lebih akuntabel. Berdasarkan data per Jumat pagi waktu Arab Saudi, sebanyak 126.832 jemaah haji Indonesia telah melunasi kewajiban hadyu mereka secara resmi. Angka ini memecahkan rekor pengelolaan haji nasional.
“Sepanjang sejarah perhajian, kita belum pernah memiliki basis data serapi ini. Tahun lalu yang terdata hanya berkisar 10 ribuan. Tahun ini melonjak tertib hingga 126 ribu,” kata Dahnil.
Dari total data tersebut, panitia akan menyembelih 90.956 hewan dam langsung di Arab Saudi melalui program Adahi. Sementara itu, sebanyak 32.691 hewan lainnya bakal dipotong di tanah air. Sisa jemaah lainnya memilih alternatif lain, yakni 3.195 jemaah menggantinya dengan berpuasa, dan 1.076 jemaah menunaikan haji ifrad (tidak terkena dam).
Untuk menjaga kepercayaan publik, Kemenhaj mengagendakan proses pemotongan hewan di Tanah Suci mulai 10 Zulhijah atau 27 Mei 2026. Perwakilan kementerian bersama para jurnalis akan memantau langsung proses jagal tersebut di lokasi.
Menariknya, teknologi juga ikut berbicara. Jemaah yang menyalurkan dam via Adahi tidak perlu lagi menebak-nebak nasib hewan kurbannya. Mereka akan menerima notifikasi status penyembelihan secara real-time langsung di layar ponsel melalui aplikasi Nusuk.
Langkah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membelokkan rute distribusi daging dam ke Palestina bukan sekadar aksi sosial, melainkan penegasan posisi geopolitik Indonesia di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, lonjakan drastis transparansi data dam dari yang semula hanya kisaran 10 ribu menjadi 126 ribu membuktikan bahwa digitalisasi sistem perhajian lewat program Adahi sukses menutup celah “pasar gelap” pengelolaan denda haji yang selama ini menjadi rahasia umum.













