Dari Keresahan Muslimah, Diajeng Lestari Bawa HIJUP ke Pasar Fashion Dunia

Diajeng Lestari.

MAKLUMAT– Diajeng Lestari mengubah keresahan mencari busana muslim yang modis, elegan, dan sesuai syariat menjadi peluang bisnis. Pada 2011, ia mendirikan HIJUP, platform digital yang mempertemukan desainer fashion muslim dengan konsumen sekaligus membuka jalan bagi produk lokal menuju pasar internasional.

Langkah Diajeng tidak lahir dari perjalanan bisnis yang mudah. Perempuan kelahiran 17 Januari 1986 itu harus menghadapi cibiran, keterbatasan sumber daya, hingga tantangan memperoleh investor ketika mulai membangun HIJUP.

Bersama suaminya, Diajeng mengawali bisnis tersebut dari skala kecil. Ia menjalankan berbagai pekerjaan sekaligus sebelum merekrut karyawan pertama. Pada fase awal itu, skeptisisme dari sejumlah pihak juga menjadi bagian dari perjalanan HIJUP.

Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika Diajeng bertemu calon investor sambil membawa anaknya. Ia mengaku mendapat penolakan karena statusnya sebagai ibu.

“Saya nggak bisa ngasih karena kamu punya anak,” kata Diajeng mengingat ucapan calon investor tersebut.

Penolakan itu tidak menghentikan langkahnya. Diajeng terus mencari pendanaan hingga akhirnya HIJUP mendapatkan investor dan berkembang sebagai salah satu platform fashion muslim Indonesia.

Mengubah Masalah Menjadi Peluang

Diajeng melihat kebutuhan muslimah terhadap busana yang modis dan sesuai nilai Islam sebagai celah bisnis yang belum tergarap secara optimal.

Baca Juga  Refleksi Maulid: Halal Kaffah untuk Peradaban Global

Melalui HIJUP, ia tidak sekadar menjual produk fashion. Platform tersebut juga menjadi wadah bagi desainer lokal untuk memperluas pasar, termasuk menuju konsumen di luar Indonesia.

Konsep itu membuat HIJUP berkembang dari sebuah bisnis rintisan menjadi bagian dari ekosistem fashion muslim. Diajeng juga menerapkan proses kurasi terhadap produk yang masuk agar aspek estetika dan nilai keislaman tetap menjadi perhatian.

Sejak awal, ia membawa gagasan bahwa bisnis fashion muslim Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar global.

Diajeng menjelaskan bahwa misi HIJUP berkaitan dengan kepercayaan diri perempuan ketika mengenakan hijab.

“My mission for HijUp is to make women feel ‘up’,” ujar Diajeng.

Gagasan tersebut menunjukkan bahwa HIJUP dibangun bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan komersial, tetapi juga membawa pesan pemberdayaan perempuan melalui fashion.

Dari Indonesia Menuju Panggung Internasional

Perkembangan HIJUP kemudian membawa sejumlah desainer Indonesia ke panggung fashion internasional.

Pada 2018, HIJUP tampil dalam London Modest Fashion Week melalui tema HIJUP PROFOUND. Dalam ajang tersebut, HIJUP berkolaborasi dengan lima desainer muslimah, yakni Dian Pelangi, Ria Miranda, Aidijiuma, Vivi Zubaedi, dan Jenahara.

Baca Juga  Dr. Winai Dahlan Paparkan Bagaimana Mengembangan Sains Halal dan Tantanganannya

Ekspansi HIJUP juga menjangkau pasar Asia Tenggara, termasuk Malaysia. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana platform digital dapat menjadi jembatan bagi pelaku industri kreatif Indonesia untuk memperluas pasar.

Diajeng sendiri memandang kejujuran terhadap tujuan menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kewirausahaan. Dalam wawancara yang dikutip ABC News, ia mengatakan bahwa hambatan dalam membangun bisnis menjadi ujian atas kesungguhan seseorang menjadi entrepreneur.

“Bener enggak pengen jadi entrepreneur?” kata Diajeng.

Bisnis Halal Tidak Berhenti pada Keuntungan

Kisah Diajeng Lestari memperlihatkan bahwa peluang bisnis dapat muncul dari persoalan yang dialami konsumen sehari-hari.

Keresahan mencari fashion muslim yang sesuai kebutuhan kemudian ia ubah menjadi produk dan platform bisnis. Dari sana, HIJUP berkembang dengan menggandeng desainer lokal dan membawa karya mereka ke pasar yang lebih luas.

Model tersebut juga menunjukkan pentingnya konsistensi ketika membangun bisnis berbasis nilai. Bagi Diajeng, fashion muslim tidak hanya berkaitan dengan tren, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem industri halal dan pemberdayaan perempuan.

Pada akhirnya, pengalaman HIJUP menunjukkan bahwa bisnis halal dapat tumbuh ketika pelaku usaha mampu membaca kebutuhan pasar, menjaga identitas produk, membangun ekosistem, dan berani membawa produk lokal ke tingkat global.

Baca Juga  Antara Tren dan Nilai Religi, Di Mana Batas Fashion Muslim?

Peluang Besar di Balik Kebutuhan Muslimah

Kisah HIJUP menarik karena berangkat dari persoalan sederhana: sulitnya menemukan fashion muslim yang modis dan sesuai kebutuhan dalam satu tempat.

Diajeng kemudian mengubah persoalan tersebut menjadi model bisnis digital. Kekuatan pendekatan ini terletak pada kemampuan membaca kebutuhan konsumen sekaligus membuka ruang bagi desainer lokal.

Namun, perjalanan HIJUP juga menunjukkan bahwa membangun bisnis halal membutuhkan lebih dari sekadar label halal. Kualitas produk, inovasi, kepercayaan konsumen, kemampuan membaca tren, serta akses pasar menjadi faktor penting agar produk Indonesia mampu bersaing di tingkat global.

Bagi calon halalpreneur, pelajaran terbesarnya adalah keberanian memulai harus berjalan bersama kemampuan membaca masalah dan menciptakan solusi yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial.