Dari Putus Sekolah ke Panggung Open House: Kisah Marsya di Sekolah Rakyat Surabaya

sekolah rakyat

MAKLUMAT — Setiap anak memiliki impian dan asa untuk masa depan yang cerah. Namun beberapa faktor membuat mereka berhenti sebelum memulainya.

Begitulah yang sempat dirasakan Marsya Dwi Cahyani, salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya. Ia sempat terpaksa berhenti sekolah karena keterbatasan ekonomi keluarganya sejak setahun lalu.

Ayahnya, Siswandi, adalah seorang kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Hal ini berdampak kepada Marsya yang harus menunda pendidikannya selama lebih dari satu tahun.

Namun kini, gadis asal Kecamatan Semampir, Surabaya itu tampil penuh percaya diri di atas panggung, membawakan pertunjukan baris variasi di hadapan Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dalam acara Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa di SRMA 21 Surabaya, Jumat (26/6/2026).

Perubahan Marsya itu pula juga dirasakan sang ibunda, Ita Fitriani yang tak kuasa menahan air mata saat berdialog langsung dengan Gus Ipul. Ita menceritakan bagaimana putrinya kini jauh berbeda dari sebelumnya.

“(Sekarang) sudah berani tampil, sudah baik pokoknya, dulu pemalu sekali, tertutup anaknya,” ujar Ita sambil memeluk Marsya, melansir laman resmi Kemensos.

Baca Juga  Muktamar NU Digelar 1–5 Agustus 2026, PBNU Kebut Persiapan

Pada kesempatan ini, Ita juga mengungkapkan rasa syukurnya karena Marsya bisa kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat putus sekolah. “Dulu kan sempat putus dia, satu tahun lebih. Ingin jadi dokter juga,” tambahnya.

Marsya sendiri mengaku banyak perubahan yang ia rasakan sejak menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat selama hampir dua semester terakhir, terutama soal kedisiplinan dan kemampuannya mengatur waktu.

“Saya sendiri merasa lebih disiplin, disiplin salat, terus bisa memanajemen waktu juga,” katanya.

Bagi Marsya, perjalanan dari putus sekolah hingga berani tampil di atas panggung baru permulaan. Cita-citanya untuk menjadi dokter kini terasa lebih mungkin untuk diraih. Sebuah harapan yang lahir dari kesempatan kedua yang ia dapatkan lewat Sekolah Rakyat.

Kisah Marsya adalah satu dari sekian banyak cerita yang ditampilkan dalam acara tersebut. Panggung ini juga dipenuhi berbagai pertunjukan seperti hadrah, tari tradisional, pencak silat, pidato dua bahasa, paduan suara, hingga pembacaan puisi.

Usai menyaksikan rangkaian penampilan dan berdialog dengan sejumlah orang tua serta siswa, Gus Ipul menyebut perkembangan yang ditunjukkan anak-anak Sekolah Rakyat sejalan dengan harapan program yang telah berjalan.

“Proses pembelajarannya makin baik, anak-anak juga sudah mulai lebih percaya diri, berani tampil ke atas panggung, menjawab dengan tegas dan jelas setiap pertanyaan, dan yang penting mereka optimis untuk masa depan,” ujarnya.

Baca Juga  PDPM Surabaya Sambut Positif Rencana Pembatasan Jam Malam di Kota Pahlawan

Ia menjelaskan bahwa acara ini digelar untuk memberi kesempatan bagi calon siswa, orang tua, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah untuk melihat secara langsung perkembangan proses pembelajaran di Sekolah Rakyat selama 10 bulan terakhir setelah didirikan.

“Tadi kita lihat, terakhir ini, tampilan anak-anak di atas panggung, ya mereka sudah lebih percaya diri, berani tampil ke atas panggung, menjawab dengan tegas dengan jelas, setiap pertanyaan, dan yang juga penting mereka optimis untuk menghadapi masa depan,” ungkapnya.

Turut hadir dalam acara ini Walikota Surabaya Eri Cahyadi, Rektor Universitas Surabaya diwakili Wakil Rektor Bidang 2 Prof Bachtiar S Bachri, Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Restu Novi Widiani, Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati, Jajaran Staf Khusus Menteri dan Tenaga Ahli Mensos, serta pejabat terkait lainnya.

 

*) Penulis: Nasywa Athirah