MAKLUMAT — Tadinya wartawan, kini menjajakan cabai. Sekilas terdengar ganjil, bahkan mengundang tanya: bukankah ini lompatan yang terlalu jauh? Namun justru dari situ pelajaran penting bermula. Kami yang biasanya berhadapan dengan narasumber, data, dan layar laptop, mendadak harus eye to eye dengan cabai, hasil panen petani dari daerah bencana Bener Meriah, Aceh.

Bermula setelah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memborong 40 ton cabai petani dari Aceh Tengah dan Bener Meriah menggunakan kocek pribadi pada 17 Desember 2025 lalu, muncul pekerjaan rumah (PR) berikutnya: bagaimana cabai itu segera terserap pasar, terutama di Jakarta? Di situlah kami, sekelompok eks wartawan yang terdampak badai Pemtusan Hubungan Kerja (PHK) atau layoff, terlibat langsung dalam proses yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya, menjadi penjual cabai dadakan.
Sebanyak sekitar tujuh ton cabai tiba di Jakarta pada dini hari 18 Desember 2025. Pagi itu, di Gedung Kementerian Pertanian (Kementan), kami dikumpulkan dan berdiri di depan kardus-kardus berisi cabai keriting merah dan rawit merah. Ada rasa kaget, canggung, sekaligus haru. Siapa sangka, profesi yang selama ini kami jalani tak lagi menjadi sekat untuk terjun langsung ke aktivitas ekonomi paling dasar: jual-beli hasil tani.
Tanpa banyak teori, kami belajar dengan cara paling klasik “learning by doing.” Delapan orang harus memutar otak agar cabai cepat terjual dan tidak menginap terlalu lama. Media sosial menjadi senjata awal, mulai status WhatsApp, pesan berantai di grup, hingga siaran langsung di TikTok. Harga pun ditetapkan realistis, cabai rawit merah Rp60 ribu per kilogram dan cabai keriting merah Rp40 ribu per kilogram.
Lapak sederhana dibuka di lingkungan Kementan, lengkap dengan timbangan digital, plastik kresek, dan kalkulator. Pembeli berdatangan, terutama ASN. Jam demi jam berlalu, tangan terasa panas terbakar oleh cabai rawit, meski sudah dilapisi plastik. Lelah, perih, dan panas bercampur, namun semangat tak surut. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat tumpukan cabai berkurang—tanda hasil panen petani mulai menemukan jalannya ke dapur-dapur konsumen.
Hari kedua dan ketiga memperlihatkan dinamika baru. Informasi di media sosial menjangkau pembeli dari luar Kementan, bahkan PD Pasar Induk Jaya ikut memborong cabai rawit keriting dalam jumlah besar hingga 1,4 ton. Namun tantangan pun datang silih berganti, dari cuaca hujan, hingga kabar mendadak bahwa lokasi jualan harus dikosongkan karena akan digunakan sebagai venue pernikahan. Sehingga, cabai harus disortir yang bahkan kami lakukan hingga nyaris tengah malam.
Puncak ujian barangkali terjadi saat negosiasi dengan tengkulak dari Cibitung pada Sabtu (20/12/2025) sekitar pukul 01.00 dini hari WIB. Tawaran harga Rp17.500 per kilogram bukan sekadar persoalan angka, melainkan alasan harga diri. Ini bukan cabai biasa, ini hasil jerih payah petani dari daerah bencana. Menjualnya dengan harga yang menekan dan sangat rendah hingga tak masuk akal terasa seperti menginjak harga diri, bukan hanya kami, tetapi juga para petani yang sedang berjuang bangkit.
Hari-hari berikutnya cabai dijual lewat bazar dengan harga yang disesuaikan kondisi. Ketika kualitas mulai menurun, harga diturunkan agar tetap terserap. Harga cabe rawit merah turun menjadi Rp40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp60 ribu per kilogram, sedangkan cabe keriting merah sudah habis terjual. Bahkan, cabai yang sudah tak layak jual pun tidak dibuang percuma, melainkan dibagikan agar bisa diolah.
Tuntas sudah lima hari berjualan cabai, sejak 18-22 Desember 2025, menjadi pengalaman yang tak ternilai. Pada hari terakhir, Senin (22/12/2025), kami hanya melakukan pengepakan untuk barang yang sudah dipesan di hari sebelumnya, sembari menyortir kembali cabai yang masih bagus dan yang sudah mulai menurun kualitasnya. Cabai disposal itu diputuskan diberikan ke para office boy (OB) di lingkungan Kementan supaya diolah menjadi produk cabe kering atau dimasak segera menjadi sambal dan dijual.
Dari sini kami belajar bahwa jurnalisme, kewirausahaan, dan kemanusiaan sesungguhnya bisa bertemu di satu titik. Kami ditempa bukan hanya menjadi penjual, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai solidaritas, menghubungkan petani di daerah bencana dengan konsumen di kota.
Pada akhirnya, ini bukan soal wartawan yang banting setir, melainkan tentang manusia yang bersedia turun tangan ketika keadaan menuntut. Dari cabai-cabai itulah kami belajar bahwa keberpihakan sosial harus dilakukan melalui tindakan nyata. Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat dan menolong penderitaan para saudara kita di daerah bencana Aceh. Ke depannya, kami akan terus memberikan sumbangsih ke daerah-daerah yang terkena bencana melalui aksi-aksi kemanusiaan lainnya dan tentunya dengan dukungan dari Mentan.