MAKLUMAT– Kasus diabetes tipe 2 yang dulu identik dengan usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada remaja, bahkan anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kondisi ini membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit tidak menular pada generasi muda.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan lonjakan kasus diabetes pada usia muda tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan. Perubahan pola hidup menjadi pemicu utama yang mempercepat munculnya penyakit tersebut.
“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 hingga 50 tahun ke atas. Namun sekarang mulai ditemukan pada remaja, bahkan beberapa kasus terjadi pada anak usia SMP,” kata Dante dikutip Rabu (3/6/2026).
Ia menyoroti berbagai kebiasaan yang kini melekat pada generasi muda, mulai dari kurang bergerak, terlalu lama menatap layar gawai, kurang tidur, hingga tingginya konsumsi minuman manis dan makanan ultra-proses.
Tidak hanya itu, tekanan mental yang meningkat pada kalangan remaja juga dinilai memperburuk risiko gangguan metabolik. Akibatnya, diabetes tipe 2 pada usia muda berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan kasus yang terjadi pada orang dewasa.
Dante menegaskan pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Perubahan gaya hidup sehari-hari jauh lebih penting daripada sekadar mengandalkan pengobatan.
Menurutnya, keluarga perlu membangun kebiasaan makan bersama, memastikan waktu tidur yang cukup, membatasi penggunaan gawai, serta memperbanyak aktivitas fisik.
Sebagai contoh, Dante mengaku rutin melakukan kegiatan luar ruang bersama keluarganya, termasuk mendaki Gunung Ciremai bersama putranya untuk menjaga kebugaran sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital.
Untuk menekan angka diabetes dan penyakit tidak menular lainnya, pemerintah saat ini menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis yang menyasar sekitar 25 juta pelajar di Indonesia.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan sistem pelabelan “nutri-level” pada produk makanan dan minuman. Label tersebut akan memberikan penanda kategori A hingga D berdasarkan kandungan gula sehingga masyarakat dapat lebih bijak memilih produk konsumsi.
Dari hasil pemeriksaan kesehatan di sekolah-sekolah, pemerintah juga menemukan berbagai masalah kesehatan lain yang mulai muncul sejak usia remaja, seperti hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.
“Kesehatan adalah modal utama untuk meraih cita-cita. Tubuh yang sehat menjadi fondasi bagi masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Pernyataan Wamenkes Dante menunjukkan adanya pergeseran serius pola penyakit di Indonesia. Jika sebelumnya diabetes tipe 2 didominasi kelompok usia dewasa, kini penyakit tersebut mulai menyerang remaja akibat gaya hidup sedentari, konsumsi makanan tinggi gula, dan ketergantungan pada gawai.
Fenomena ini menjadi alarm bagi orang tua, sekolah, dan pemerintah. Tanpa intervensi sejak dini, Indonesia berpotensi menghadapi lonjakan beban kesehatan dan pembiayaan penyakit kronis pada usia produktif dalam satu hingga dua dekade mendatang. Pencegahan melalui edukasi gizi, aktivitas fisik, serta pengendalian konsumsi gula menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.














