MAKLUMAT — Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2015, Prof Dr HM Din Syamsuddin MA, menyerukan pentingnya kolaborasi umat lintas agama untuk membangun peradaban dunia baru yang berlandaskan nilai etika dan moral.
Hal itu ia sampaikan ketika didapuk sebagai pembicara dalam forum International Council Meeting of Religions for Peace yang berlangsung di Mauritius, Rabu (24/6/2026) lalu.
Forum internasional tersebut dihadiri sekitar 200 tokoh agama dari berbagai negara. Pertemuan dibuka langsung oleh Presiden Mauritius Dharam Gokhool dan turut dihadiri Sekretaris Jenderal Religions for Peace International, Francis Kuria.
Dalam forum tersebut, Din Syamsuddin yang menjabat sebagai Presiden Kehormatan Religions for Peace International, tampil sebagai pembicara pada sesi tematik tentang “Partnership for Inclusive Global Governance” atau Kemitraan untuk Pemerintahan Global Inklusif.
Ia menyoroti kondisi global yang dinilai sedang menghadapi berbagai krisis multidimensi sehingga membutuhkan arah baru bagi peradaban dunia.
Menghadapi situasi tersebut, Din menandaskan pentingnya umat lintas agama untuk menempatkan agama sebagai penyelesai persoalan global (problem solver), bukan justru menjadi bagian dari persoalan itu sendiri (part of the problem), apalagi menjadi pembuat masalahnya (problem maker).
Din Syamsuddin juga menekankan perlunya membangun gagasan peradaban baru yang bertumpu pada nilai etika dan moral sebagai alternatif dari peradaban lama yang dinilai terlalu berorientasi sekularistik dan liberalistik.
Sejalan dengan tema sidang “Forging Pathways for Shared Sacred Worldview” yang diangkat, Din Syamsuddin mengajukan gagasan “Shared Global Ethics” alias Etika Global Bersama.
Menurutnya, agama-agama di dunia memang memiliki perbedaan secara teologis, tetapi tetap memiliki titik temu dalam nilai etika dan moral universal. Dalam konteks tersebut, Etika Global Bersama dinilai penting untuk mulai diarusutamakan sebagai fondasi membangun peradaban yang lebih baik.
Sejumlah nilai utama yang dinilai perlu diperkuat antara lain cinta, kasih, toleransi, solidaritas, dan keadilan, dengan orientasi membangun kesejahteraan bersama.
Din Syamsuddin juga menilai kalangan agamawan tidak dapat bekerja sendiri dalam menyelesaikan persoalan dunia. Karena itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai kelompok lain, termasuk para politisi dan negarawan.
Menurutnya, kesadaran bahwa dunia tanpa etika akan mengalami kerusakan harus menjadi perhatian bersama. “Kolaborasi semacam ini mendesak. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau buka kita yg memulai siapa lagi,” tandas pria yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Sekadar diketahui, perwakilan dari Indonesia selain Din Syamsuddin, hadir pula Amany Lubis yang merupakan anggota Jejaring Wanita atau Women’s Network dalam organisasi tersebut.












