29.3 C
Malang
Sabtu, April 5, 2025
Lebaran & MudikDosen UMM Bagikan Cerita Toleransi Tinggi Lebaran di Austria

Dosen UMM Bagikan Cerita Toleransi Tinggi Lebaran di Austria

Mirza Nuryady berbagi cerita menjalani ibadah Ramadan hingga berlebaran di Austria. foto: dok.UMM

MAKLUMAT – Menjalani ibadah puasa Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri di negeri orang memiliki pengalaman menarik. Setidaknya bisa belajar berbagai budaya dari saudara sesama muslim dari penjuru bumi, sebagai minoritas.

Itulah pengalaman Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc., dosen program studi pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Saat ini ia menempuh program doktoralnya di Institute of Parasitology, Veterinary Medicine University, Vienna, Austria.

Mirza sangat bersyukur bertemu dengan komunitas muslim asal Indonesia. Cukup banyak kegiatan Ramadan yang ia jalani di Masjid As-Salam, Vienna. Di mana setiap Selasa dan Jumat, menggelar buka puasa bersama dengan hidangan khas Indonesia, seperti opor dan semur ayam.

Sebagai catatan, Masjid As-Salam ini berdiri hasil donasi diaspora Indonesia yang sudah tinggal selama 30-40 tahun di Austria.

Durasi Puasa Lebih Cepat

“Alhamdulillah, saya berkesempatan menghabiskan waktu berpuasa Ramadan sekitar 14 jam setiap harinya. Durasi ini tergolong lebih cepat, dari tahun-tahun sebelumnya, yang bisa 18-20 jam pada musim panas. Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim dingin (winter),” kata Mirza.

Mirza menceritakan jika Idulfitri tahun 2025 jatuh pada Minggu, 30 Maret. Ketetapan ini berdasarkan hasil ijtihad Komunitas Muslim Austria. Selanjutnya ia bersama rekan muslim asal Indonesia berlebaran bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Vienna, yang menyediakan tempat untuk salat Ied.

Rutinitas ini nyaris sama setiap tahunnya. Di mana diaspora Indonesia dari berbagai kota berkumpul di KBRI untuk berlebaran. Kebetulan, Hari Raya Idulfitri tahun ini bertepatan dengan hari Minggu yang juga merupakan hari libur nasional di Austria.

Pelajari Toleransi dan Jalani Peran Minoritas

Hari tersebut merupakan hari tenang, di mana ada imbauan bagi para warga untuk mengurangi aktivitas dan tidak membuat kebisingan.

Austria dan beberapa negara Eropa lainnya tidak mengizinkan azan maupun takbir menggunakan pengeras suara. Keputusan ini untuk menghormati norma lokal yang berlaku.

Kebijakan tersebut merupakan bagian dari toleransi dan penghormatan terhadap aturan setempat. Sekaligus menghindari kericuhan serta hal yang tidak dinginkan. Ini sesuai dengan pepatah ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’.

Pengalaman Akademik

Meski demikian, Mirza sangat bersyukur memiliki pengalaman yang sangat berharga. Setidaknya ia memiliki perjalanan akademik sebagai seorang dosen UMM sekaligus mahasiswa S3 di Austria.

“Indah sekali hidup dalam toleransi dan saling menghargai. Senang sekali rasanya, ini kali pertama saya berlebaran dan berkumpul merayakan hari kemenangan. Selebihnya saya ucapkan, taqabballahu minna wa minkum semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Ramadan di tahun berikutnya. Aamiin,” ungkapnya.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL LAINNYA

Populer