Dr. Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami: Merawat Ilmu, Menggerakkan Kampus

Rektor UNISA Surakarta 2026–2029

MAKLUMAT — Pelantikan Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami sebagai Rektor Universitas ‘Aisyiyah Surakarta, Kamis (15/1), bukan peristiwa seremonial semata. Momentum itu menandai naiknya seorang akademisi keperawatan ke ruang kendali kepemimpinan kampus—dengan bekal riset, kerja sunyi, dan keberpihakan nyata pada masyarakat.

Dyah melangkah ke kursi rektor periode 2026–2029 setelah bertahun-tahun mengasah diri di ruang kelas, laboratorium, dan medan pengabdian. Ia tidak datang dari jalur pintas. Ia tumbuh dari disiplin akademik yang menuntut ketekunan, empati, dan konsistensi.

Dyah memilih keperawatan bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup. Ia menekuni isu kesehatan remaja, kesehatan mental, dan stunting—tiga persoalan yang kerap hadir di rumah-rumah warga, bukan hanya di laporan statistik.

Dalam risetnya seperti dikutip dari laman Sinta kemdiktisaintek, Dyah mengangkat kesiapan mental remaja menghadapi menarche, kecemasan sosial akibat media digital, hingga kesehatan lansia. Ia menulis, meneliti, lalu menerjemahkan temuan itu ke bahasa yang bisa dipahami publik. Ia percaya ilmu harus bekerja, bukan hanya tersimpan di jurnal.

Nama Dyah tercatat dalam publikasi ilmiah terindeks SINTA (ID 5991407). Namun ia tidak berhenti pada capaian akademik formal. Ia membawa riset keluar kampus, menyentuh ibu rumah tangga, remaja sekolah, hingga komunitas akar rumput.

Dari Riset ke Media Edukasi

Dyah aktif melahirkan media edukasi kesehatan yang aplikatif. Ia terlibat sebagai inventor dalam berbagai karya berhak cipta: media edukasi penanganan stunting, video pertolongan pertama luka bakar, panduan pencegahan IMS bagi generasi muda, hingga edukasi sederhana menurunkan kolesterol dan mengelola nyeri asam urat.

Benang merahnya jelas. Dyah mengolah ilmu keperawatan menjadi pengetahuan praktis. Ia memilih video, panduan visual, dan pendekatan sederhana agar pesan kesehatan mudah diterima. Di tangannya, keperawatan berubah menjadi alat pemberdayaan.

Dosen yang Menjadi Pemimpin

Sebagai dosen Program Studi S1 Keperawatan UNISA Surakarta, Dyah membangun budaya akademik yang disiplin dan inklusif. Ia mendorong riset terapan, memperkuat pengabdian masyarakat, dan menumbuhkan kepekaan sosial mahasiswa.

Ketika amanah rektor datang, Dyah tidak mengubah haluan. Ia justru memperluas skala kerja. Dalam sambutan perdananya, ia menegaskan fokus pada mutu akademik, digitalisasi layanan, penguatan riset, dan jejaring nasional–internasional. Ia mengajak sivitas akademika bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Dyah memandang kepemimpinan sebagai kerja kolektif. Ia merawat tradisi kampus sambil mendorong inovasi. Ia menjaga nilai keislaman dan kemanusiaan tanpa mengorbankan daya saing global.

Merawat Kampus, Merawat Masa Depan

Sebagai bagian dari perguruan tinggi ‘Aisyiyah, Dyah memahami bahwa universitas bukan hanya mesin produksi lulusan. Kampus adalah ruang pembentukan nilai, karakter, dan keberpihakan sosial.

Kini, Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami memimpin UNISA Surakarta dengan satu keyakinan: ilmu harus berdampak, kampus harus hadir, dan pendidikan harus memuliakan manusia. Dari keperawatan menuju kepemimpinan, Dyah membawa semangat merawat—bukan hanya pasien, tetapi juga masa depan.***