MAKLUMAT — Panggung politik negeri ini belakangan terasa semakin mirip drama serial produksi Negeri Ginseng dengan bumbu plot twist tiada henti. Bedanya, jika aktor di layar kaca memukau penonton lewat tatapan emosional dan naskah rapi, para pemain kita justru sibuk berakrobat demi mempertahankan sorotan lampu sorot panggung. Fenomena ini menghadirkan parade para mantan pemangku kebijakan yang kini menjadi tunawisma kekuasaan, berjalan terhuyung-huyung mencari tepuk tangan yang kian pudar.
Ketika mandat rakyat telah selesai dan kursi empuk terpaksa diserahkan, sebagian orang ternyata gagal berdamai dengan kenyataan hidup yang sepi. Berada di luar lingkaran kekuasaan menciptakan sindrom kehampaan akut yang menuntut pelampiasan segera. Panggung baru pun dicari dengan segala cara, mulai dari siniar eksklusif, forum diskusi bertajuk penyelamatan bangsa, hingga mikrofon unjuk rasa yang disewa mendadak.
Ibarat karakter antagonis yang terbuang dari istana kerajaan fiktif, narasi yang dibangun selalu seragam dan mudah ditebak. Mereka memosisikan diri sebagai satu-satunya kesatria pembawa wahyu kebenaran di tengah kegelapan sistem yang sedang berjalan. Ironisnya, saat dulu memegang kendali penuh, resep mujarab yang kini mereka khotbahkan siang malam itu tak pernah sekalipun tampak di permukaan.
Panggung Baru Tanpa Naskah
Strategi paling murah untuk merebut kembali perhatian publik adalah dengan menyulut emosi massa lewat pernyataan kontroversial. Mereka mulai melempar diksi-diksi bernada ancaman, ramalan kiamat peradaban, serta tudingan kecurangan yang dikemas dengan bumbu kekhawatiran semu. Publik yang sedang berjuang mengurus inflasi dapur dan biaya sekolah anak tiba-tiba disuguhi hidangan konspirasi tingkat tinggi yang membuat kening berkerut.
Keresahan masyarakat sengaja dijadikan modal transaksi untuk menunjukkan bahwa mereka masih memiliki daya tawar di hadapan publik. Kalimat-kalimat ambigu dilontarkan ke ruang publik bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk memancing keributan di kolom komentar media sosial. Bagi mereka, semakin gaduh perdebatan di warung kopi, semakin tinggi nilai tawar sang mantan tokoh di mata pembuat kebijakan saat ini.
Media sosial pun seketika berubah menjadi arena gladiator wacana tempat kebencian diproduksi secara massal dan terstruktur. Sentimen identitas, luka masa lalu, dan prasangka antar-kelompok digali kembali dengan cangkul retorika yang tampak ilmiah namun rapuh. Tujuannya sangat sederhana, yaitu membuat publik merasa sedang berada di ambang jurang kehancuran bila tidak mendengarkan wejangan sang pahlawan kesiangan.
Retorika Murah Pembelah Bangsa
Menjual isu perpecahan memang merupakan jalan pintas paling empuk bagi mereka yang kehabisan gagasan segar untuk bangsa. Narasi kami versus mereka kembali dihidupkan demi menciptakan kubu-kubu fanatis yang siap membela sang idola tanpa filter akal sehat. Publik yang awalnya hidup rukun berdampingan perlahan diadu domba oleh pidato-pidato berapi-api yang sejatinya hanya bermotif frustrasi pribadi.
Sungguh sebuah pemandangan tragis ketika tokoh yang puluhan tahun menikmati fasilitas negara kini bertingkah seolah bangsa ini tidak pernah memberinya apa-apa. Kritik yang seharusnya menjadi vitamin penyehat sistem pemerintahan dibelokkan menjadi racun keputusasaan yang melumpuhkan optimisme generasi muda. Pernyataan yang keluar bukan lagi evaluasi berbobot atas kebijakan publik, melainkan erangan kekecewaan akibat kehilangan fasilitas pengawalan dan karpet merah.
Alih-alih memberikan sumbangsih pemikiran konstruktif sebagai negarawan senior, ruang publik justru dikotori provokasi bernada pesimistis. Mereka bertingkah persis komentator sepak bola yang mencela seluruh pemain di lapangan, padahal saat diberi kesempatan bermain, bola pun gagal ditendang lurus. Sikap kekanak-kanakan semacam ini sayangnya kerap dibungkus rapi dengan jubah moralitas dan pembelaan terhadap kaum tertindas.
Menonton Layar Kaca dengan Sadar
Masyarakat hari ini, untungnya bukan lagi penonton polos yang mudah terhipnotis oleh akting tangisan air mata buaya di layar kaca. Publik mulai paham bahwa di balik pekikan lantang membela rakyat, terselip kepanikan luar biasa karena takut dilupakan sejarah. Rakyat sudah kenyang dengan dongeng kepahlawanan palsu yang hanya muncul ketika sang tokoh tidak lagi kebagian jatah kue kekuasaan.
Melihat manuver para pencari panggung ini semestinya cukup disikapi dengan senyuman santai sembari menyeduh secangkir kopi panas di teras rumah. Anggap saja seluruh kegaduhan ini sebagai tontonan drama akhir pekan yang ceritanya terlalu dipaksakan agar musim penayangannya diperpanjang. Kita tidak perlu ikut terbakar emosi lalu bermusuhan dengan tetangga hanya karena membela elit yang bahkan tidak mengenal nama kita.
Masyarakat harus semakin cerdas dan matang agar tidak mudah terseret dalam arus sandiwara para mantan elite yang sedang gelisah mencari tepuk tangan pengganti kekuasaan. Kegaduhan yang mereka ciptakan bukanlah cerminan nasib rakyat, melainkan erangan kekecewaan pribadi yang dibungkus rapi dengan jubah kepahlawanan semu.
Sudah saatnya kita menyikapi setiap provokasi pemecah belah bangsa dengan kepala dingin dan kedewasaan berpikir, yakni dengan mengabaikan narasi destruktif tersebut serta menolak menjadi pion dalam panggung sandiwara mereka. Menjaga persatuan dan fokus pada kerja nyata adalah benteng terbaik agar energi bangsa ini tidak terkuras habis oleh drama murahan para pemburu panggung politik.
Energi kolektif bangsa ini jauh lebih berharga jika dialirkan untuk memperkuat solidaritas sosial dan produktivitas nyata di lingkungan terdekat. Membiarkan para politisi tanpa panggung berteriak sendirian di ruang hampa adalah cara terbaik mendidik mereka tentang arti kedewasaan berdemokrasi. Pada akhirnya, panggung sandiwara akan selalu runtuh dengan sendirinya ketika penonton memilih bubar dan menolak untuk bertepuk tangan.***
*) Penulis: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga; Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga












