Dulu Santri Melawan Penjajah, Bagaimana Sekarang?

Penulis: Akhmad Hasbul Wafi. *)

MAKLUMAT — Pada 22 Oktober 1945, para ulama dan santri menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melalui Resolusi Jihad yang digelorakan KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama, membela tanah air menjadi bagian dari tanggung jawab keagamaan. Semangat tersebut turut menggerakkan perlawanan rakyat terhadap upaya kembalinya kekuasaan kolonial.

Delapan puluh satu tahun berlalu, Indonesia tidak lagi menghadapi penjajahan dalam bentuk yang sama. Namun, satu pertanyaan patut direnungkan pada peringatan Hari Santri Nasional 2026: jika dahulu santri melawan penjajah, lalu apa yang seharusnya mereka lawan hari ini?

Pertanyaan ini penting karena perjuangan tidak semestinya berhenti sebagai ingatan sejarah. Kemerdekaan harus terus diisi dengan usaha membangun kehidupan bangsa yang lebih baik.

Hari ini, masyarakat masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan pendidikan, disinformasi, hingga kemerosotan etika digital. Persoalan tersebut bukan penjajahan kolonial, tetapi tetap dapat membatasi kesempatan manusia untuk hidup bermartabat.

Jihad Ilmu Pengetahuan dan Semangat Islam Berkemajuan

Perjuangan santri pada masa kemerdekaan menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab kebangsaan. Keimanan bukan hanya diwujudkan melalui ibadah individual, tetapi juga kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Dalam konteks hari ini, salah satu medan perjuangan terpenting adalah ilmu pengetahuan.

Baca Juga  Peringati HSN 2024, Khofifah dan Emil Tegaskan Peran Penting Para Santri

Kebodohan dan rendahnya literasi membuat masyarakat rentan terhadap manipulasi informasi dan ketertinggalan. Karena itu, memperjuangkan pendidikan bermutu merupakan bagian penting dari upaya mengisi kemerdekaan.

Pandangan ini sejalan dengan semangat tajdid Muhammadiyah. Sejak didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai jalan pembaruan umat.

Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa keimanan dan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan. Santri masa kini tidak cukup hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga perlu menguasai teknologi, berpikir kritis, dan memahami persoalan sosial.

Jika dahulu perjuangan membutuhkan keberanian menghadapi senjata, hari ini perjuangan membutuhkan keberanian untuk belajar, berpikir, dan menciptakan perubahan.

Spirit Al-Ma’un dan Perjuangan Kemanusiaan

Selain kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan sosial masih menjadi tantangan bangsa. Dalam kondisi tersebut, keberagamaan tidak seharusnya berhenti pada simbol dan ritual.

Muhammadiyah memiliki warisan pemikiran melalui spirit Surah Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Pesannya menegaskan bahwa keimanan harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap anak yatim, masyarakat miskin, dan kelompok rentan.

Semangat tersebut diterjemahkan Muhammadiyah melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, panti asuhan, serta berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat.

Nilai ini relevan untuk merefleksikan peran santri hari ini. Apakah ilmu agama yang dipelajari telah mendorong kepedulian sosial? Apakah pengetahuan yang dimiliki telah membantu menyelesaikan persoalan masyarakat?

Baca Juga  Festival Hari Santri 2025: AMM Klojen Satukan Langkah Bangun Generasi Qurani

Jika dahulu santri mempertahankan tanah air, kini perjuangan dapat diwujudkan dengan memperluas akses pendidikan, membantu masyarakat miskin, dan memperjuangkan keadilan.

Santri dan Tantangan Peradaban Digital

Perkembangan teknologi menghadirkan medan perjuangan baru. Media sosial membuka kesempatan menyebarkan pengetahuan, tetapi juga memunculkan disinformasi, ujaran kebencian, dan perpecahan.

Di sinilah santri perlu hadir sebagai penggerak literasi digital. Tradisi keilmuan yang menekankan adab, ketelitian, dan prinsip tabayyun menjadi bekal menghadapi derasnya informasi.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak, melainkan dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk kemaslahatan manusia.

Karena itu, santri tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu menjadi pencipta inovasi, penyebar pengetahuan, dan penggerak perubahan sosial.

Pada akhirnya, Hari Santri bukan sekadar momentum mengenang perjuangan masa lalu, melainkan kesempatan mengevaluasi kontribusi generasi hari ini.

Dulu, santri berjuang agar bangsa ini tidak dijajah. Kini, perjuangan harus dilanjutkan agar masyarakat terbebas dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Sebab, menjadi pewaris perjuangan bukan tentang siapa yang paling lantang mengenang sejarah, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh menghadirkan perubahan.

Selamat Hari Santri Nasional 2026.***

*) Penulis: Akhmad Hasbul Wafi
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Anggota Bidang KDI PW IPM Jawa Timur

Baca Juga  Kemenag dan DPR Sepakat Percepat Pembentukan Ditjen Pesantren: Komitmen Perkuat Layanan Santri Nasional