MAKLUMAT — Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah saat ini, muncul satu slogan yang ramai diperbincangkan di media sosial, forum diskusi, bahkan mimbar-mimbar kajian: “Iran Yes, Syiah No.” Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan teologis, politik, dan kemanusiaan yang sangat kompleks.
Sebagian umat Islam mendukung Iran karena melihat negeri itu sedang berhadapan dengan kekuatan besar dunia, khususnya Amerika Serikat dan Israel. Namun pada saat yang sama, mereka tetap menolak ideologi Syiah yang dianut oleh Republik Islam Iran. Maka lahirlah slogan kompromistis: mendukung Iran secara politik, tetapi menolak Syiah secara akidah.
Pertanyaannya, apakah pemisahan seperti itu mungkin dilakukan secara jernih? Ataukah slogan tersebut justru menunjukkan kebingungan umat Islam modern dalam membedakan antara solidaritas kemanusiaan, geopolitik, dan persoalan mazhab?
Konflik Iran saat ini bukan lagi sekadar urusan regional. Ketegangan yang meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada awal 2026 telah memunculkan ancaman perang kawasan yang lebih luas. Pemimpin Iran bahkan memperingatkan kemungkinan “perang regional” jika eskalasi terus berlanjut. Situasi ini berdampak pada ekonomi global, jalur minyak dunia, hingga stabilitas negara-negara Muslim, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi seperti ini, banyak umat Islam merasa simpati kepada rakyat Iran karena melihat adanya ketidakadilan global. Simpati itu sesungguhnya wajar. Islam mengajarkan keberpihakan kepada korban kezaliman tanpa melihat mazhab dan kelompoknya. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (QS. Al-Anfal: 72)
Akan tetapi, dukungan kemanusiaan tidak otomatis berarti persetujuan total terhadap seluruh ideologi politik dan keagamaan Iran. Di sinilah pentingnya kedewasaan berpikir umat Islam.
Kita perlu membedakan antara negara Iran, rakyat Iran, rezim politik Iran, dan doktrin Syiah Imamiyah yang menjadi fondasi revolusi Iran. Empat hal ini sering dicampuradukkan dalam diskusi publik.
Tidak semua rakyat Iran identik dengan fanatisme Syiah politik. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Iran menghadapi gelombang protes internal akibat krisis ekonomi, kebebasan sipil, dan tekanan politik domestik. Artinya, Iran sendiri adalah masyarakat yang kompleks dan tidak tunggal.
Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa revolusi Iran tahun 1979 memang membawa proyek ekspansi ideologi Syiah ke berbagai kawasan. Pengaruh politik Iran meluas melalui jaringan milisi dan kelompok perlawanan di Timur Tengah. Inilah yang membuat sebagian ulama Sunni tetap bersikap kritis terhadap agenda ideologis Iran.
Karena itu, slogan “Iran Yes, Syiah No” sebenarnya adalah upaya sebagian umat Islam Sunni untuk mengambil posisi tengah: menolak agresi terhadap Iran, tetapi tetap menjaga identitas akidah Ahlussunnah.
Sayangnya, slogan ini kadang berkembang menjadi sikap yang tidak proporsional. Ada yang begitu membela Iran hingga menutup mata terhadap problem internal Syiah. Sebaliknya, ada pula yang begitu anti-Syiah sampai kehilangan rasa kemanusiaan terhadap korban perang di Iran.
Padahal Islam mengajarkan keadilan, bukan kebencian yang membabi buta.
Al-Qur’an menegaskan:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
Ayat ini relevan sekali dalam membaca konflik Iran hari ini. Kita boleh berbeda secara teologis dengan Syiah. Kita boleh mengkritik doktrin-doktrin yang dianggap menyimpang menurut perspektif Sunni. Tetapi perbedaan itu tidak boleh menghilangkan objektivitas dan rasa kemanusiaan.
Di sisi lain, umat Islam juga perlu berhati-hati agar solidaritas terhadap Iran tidak berubah menjadi romantisme politik yang emosional. Banyak masyarakat awam tiba-tiba menganggap Iran sebagai simbol tunggal perlawanan Islam global, tanpa memahami sejarah panjang konflik Sunni-Syiah dan dinamika politik Timur Tengah.
Media sosial memperparah situasi ini. Narasi perang sering disederhanakan menjadi “Islam versus Barat” atau “Syiah versus Sunni.” Padahal realitas geopolitik jauh lebih rumit. Ada kepentingan ekonomi, energi, senjata, kekuasaan regional, dan perebutan pengaruh global.
Bahkan di Indonesia sendiri, respons publik terhadap Iran sangat beragam. Ada yang mendukung penuh Iran karena sentimen anti-Barat. Ada yang menolak Iran karena alasan mazhab. Ada pula yang memilih posisi netral demi perdamaian. Diskusi-diskusi publik menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya masih mencari cara memahami konflik ini secara lebih dewasa.
Dalam konteks Indonesia, slogan “Iran Yes, Syiah No” seharusnya dibaca secara lebih bijak. Maksud utamanya bukan membenci Iran, tetapi menjaga keseimbangan antara solidaritas kemanusiaan dan kehati-hatian akidah.
Indonesia memiliki tradisi Islam moderat yang relatif matang. Organisasi-organisasi besar Islam di Indonesia selama ini cenderung menjaga jarak dari konflik sektarian Timur Tengah. Ini penting dipertahankan. Jangan sampai umat Islam Indonesia terseret pada polarisasi mazhab yang justru merusak ukhuwah nasional.
Kita harus belajar dari negara-negara Timur Tengah yang hancur akibat konflik sektarian berkepanjangan. Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon menjadi contoh bagaimana pertarungan identitas mazhab dapat menghancurkan peradaban dan menelan jutaan korban.
Karena itu, yang dibutuhkan umat Islam hari ini bukan fanatisme mazhab, tetapi kejernihan berpikir.
Jika Iran dizalimi, maka kezaliman itu harus ditolak. Jika ada penyimpangan akidah menurut keyakinan Sunni, maka kritik ilmiah tetap boleh dilakukan. Tetapi keduanya harus berjalan secara proporsional dan beradab.
Islam tidak mengajarkan kebencian kolektif. Islam juga tidak mengajarkan pembelaan buta.
Sikap terbaik adalah tetap memegang prinsip akidah, tetapi tidak kehilangan nilai kemanusiaan. Mendukung perdamaian tanpa harus larut dalam propaganda politik. Menolak agresi tanpa harus mengorbankan objektivitas.
Pada akhirnya, slogan “Iran Yes, Syiah No” mencerminkan kegelisahan umat Islam modern dalam menghadapi dunia yang penuh polarisasi. Namun slogan saja tidak cukup. Umat memerlukan literasi geopolitik, kedewasaan beragama, dan kemampuan membedakan antara agama, negara, dan kepentingan politik.
Sebab perang hari ini bukan hanya perang senjata, tetapi juga perang narasi.
Dan di tengah perang narasi itulah umat Islam harus tetap menjaga akal sehat, keadilan, dan persaudaraan kemanusiaan.***













