FGD di Jombang, Kemendikdasmen Perkuat Kolaborasi untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia

FGD bertajuk "Pendidikan Bermutu untuk Semua" yang digelar di sela agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jumat (28/8/2026). (Foto: Kemendikdasmen)

MAKLUMAT — Upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pendidikan Bermutu untuk Semua” yang digelar di sela agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Bagian Informasi dan Fasilitasi Layanan Terpadu-BKHM Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Anandes Langguana MIKom, Dosen sekaligus Kepala Pusat Pengembangan Desa dan Daerah pada LPPA UNESA Dr. Mufarrihul Hazin SPdI MPd, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Agil Nuruzzaman.

Lebih dari 50 peserta yang terdiri dari anggota IPNU dan masyarakat umum mengikuti diskusi tersebut. Kegiatan digelar di sela pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Lima Kunci Kebijakan

Dalam kesempatan itu, Anandes memaparkan lima kata kunci kebijakan untuk mendorong kemajuan pendidikan. Kelima poin tersebut termuat dalam buku “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-pokok Pikiran Abdul Mu’ti“, yakni: karakter, guru, kolaborasi, konsep pembelajaran bermakna, dan keadilan.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan literasi digital. Menurutnya, derasnya informasi melalui media sosial dan media digital dapat memengaruhi perilaku individu.

Baca Juga  Gus Ipul Bantah Dana Kasus ATR/BPN Mengalir ke Muktamar NU

“Berbagai informasi di media sosial dan media digital sangat bisa mempengaruhi perilaku kita. Pendidikan karakter diharapkan memperkuat tanggungjawab sosial, selalu bisa bersama dengan masyarakat, juga mencari solusi akan permasalahan di masyarakat,” ujar Anandes.

Selain karakter, pembelajaran mendalam atau deep learning disebut menjadi salah satu pendekatan yang perlu diperkuat dalam proses pendidikan. Anandes menegaskan pembelajaran mendalam bukan dimaksudkan untuk mengganti kurikulum, melainkan memperkuat proses pembelajaran.

“Pembelajaran Mendalam juga diperkenalkan dan diimplementasikan. Ada tiga “full” untuk menjelaskan kriteria pembelajaran mendalam, yaitu mindful, meaningful, dan joyful,” jelasnya.

Menurut Anandes, peningkatan kompetensi guru juga menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Kemendikdasmen telah menjalankan sejumlah program, salah satunya melalui pemberian beasiswa bagi guru untuk melanjutkan pendidikan.

“Guru menjadi aktor utama, bisa menempatkan perbaikan kualitas pendidikan melalui kompetensi yang dimiliki oleh guru. Ada beasiswa untuk guru menempuh D4/S1,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mewujudkan pendidikan bermutu. Konsep tersebut disebut sebagai Partisipasi Semesta yang melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem pendidikan.

“Untuk pendidikan bermutu tidak terlepas dari kolaborasi dengan rekan-rekan semua. Konsep ini tertera pada catur pusat pendidikan,” tandas Anandes.

Baca Juga  Kasus Gibran Ungkap Celah Aturan, DPR Siapkan Payung Hukum Penyetaraan Ijazah

Mendorong Regulasi yang Komprehensif

Dari perspektif akademisi, Mufarrihul Hazin menyoroti pentingnya regulasi pendidikan yang lebih tertata dan komprehensif.

“Pendidikan perlu untuk dirumuskan regulasinya. Tidak hanya omnibus law melainkan perumusan yang lebih mendalam,” kata dia.

Hazin juga mendorong pelajar dan generasi muda NU untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, kader pelajar perlu memiliki kapasitas intelektual, sosial, dan profesional.

“Perlu menjadi kader tiga ‘al’: Intelektual, sosial, dan profesional. Kader yang hebat adalah kader yang mampu menulis sejarah perubahan. Tidak hanya menyelenggarakan kegiatan seremonial melainkan juga meningkatkan SDM,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP IPNU Agil Nuruzzaman menyampaikan apresiasi kepada Kemendikdasmen atas dukungan terhadap pelaksanaan diskusi tersebut. Ia berharap gagasan yang muncul dapat menjadi bahan rekomendasi bagi organisasi.

“Terima kasih kepada Kemendikdasmen telah mendukung diskusi ini. Kami berharap dari kegiatan ini dapat memberi rekomendasi bagi PBNU maupun PP IPNU ke depan,” ujar Agil.

FGD di sela Muktamar ke-35 NU tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan Indonesia, melalui implementasi dalam kerangka Pendidikan Bermutu untuk semua.***