“Republik Indonesia ini berada di ring of fire, daerah yang sangat rentan bencana. Tapi setiap kali bencana terjadi, kita selalu tergagap-gagap. Seperti anak yang baru belajar berdiri dan berjalan,” kata Deddy di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Deddy menilai dari sisi kebijakan dan penganggaran, pemerintah belum menunjukkan kepekaan terhadap potensi kebencanaan. Bahkan dirinya melihat tidak adanya skenario penanganan yang jelas untuk wilayah rawan dan terdampak bencana.
“Sudah hampir 80 tahun merdeka, tapi rakyat seolah hidup sendiri tanpa kehadiran negara. Desa-desa bisa hilang habis. Kebijakan kita tidak pernah dirancang secara hulu-hilir,” ujar Anggota Komisi II DPR RI itu.
Menurut Deddy, kondisi tersebut berisiko terus berulang jika pemerintah tidak segera melakukan pembenahan menyeluruh dalam tata kelola penanggulangan bencana.
Ia juga menyindir sikap masyarakat yang dinilainya terlalu sabar dalam merespons buruknya penanganan bencana. Deddy menyinggung fenomena pengibaran bendera putih oleh warga Aceh beberapa waktu lalu.
“Kita harus bersyukur rakyat kita tidak pemarah. Tapi kejadian seperti bendera putih itu perlahan menggerus kepercayaan rakyat kepada pemerintah,” tandasnya.
“Ini bukan business as usual. Ini soal nyawa manusia. Negara harus hadir secara penuh,” tukas Deddy.














