Gen Z Bukan Generasi Pemalas, IMM Ganesha Dorong Dakwah Digital di Anak Muda

imm

MAKLUMAT — Generasi Z kerap mendapat cap pemalas dan mudah menyerah. Namun, Syafiq Abdillah, CPS, mahasiswa Al-Azhar Kairo, mengajak anak muda melihat potensi diri dan memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam sharing session GADIS (Ganesha Berdiskusi) yang digelar PK Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ganesha secara daring melalui Google Meet, Rabu (14/10/2026). Kegiatan bertema Gen Z Bukan Generasi Pemalas: Show Your Passion and Build Your Impact itu dimulai pukul 19.00 WIB dan dipandu Fajri Putra.

Dalam sesi bertajuk “Strategi Dakwah Era Digital 2026”, Syafiq membahas perubahan orientasi hidup generasi muda. Ia merujuk Gen-Z Report 2026 dari IDN Research Institute untuk menjelaskan bahwa sebagian anak muda kini mempertimbangkan kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kesesuaian pekerjaan dengan nilai pribadi saat menentukan tujuan hidup.

Perubahan tersebut, menurutnya, perlu dipahami agar masyarakat tidak terburu-buru menilai pilihan hidup anak muda sebagai bentuk kemalasan. Pendekatan terhadap generasi Z juga perlu menyesuaikan kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi.

Mengolah Ketakutan Menjadi Motivasi

Syafiq kemudian membahas pengaruh rasa takut terhadap keputusan seseorang. Ia menjelaskan bahwa ketakutan dapat mendorong tindakan yang kurang tepat, tetapi juga bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki diri.

Baca Juga  Gen Z UMKM Accelerator, UMM Latih Pelaku Usaha Muda Kuasai Pemasaran Digital

Ketakutan terhadap kemiskinan, misalnya, dapat mendorong seseorang bekerja dengan cara yang benar dan membantu sesama. Sementara itu, ketakutan terhadap kegagalan bisa menjadi alasan untuk memperkuat doa dan ikhtiar.

“Dalam dakwah, pemahaman terhadap kondisi psikologis audiens membantu pendakwah memilih pendekatan yang sesuai. Pesan keislaman perlu disampaikan dengan mempertimbangkan pengalaman dan persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda,” ujarnya.

Syafiq menghubungkan pembahasan tersebut dengan QS An-Nazi’at ayat 40–41 tentang orang yang takut kepada kebesaran Allah dan menahan diri dari hawa nafsu. Baginya, nilai tersebut berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri dan menjaga perilaku.

Media Sosial sebagai Sarana Dakwah

Syafiq mengajak peserta memandang media sosial sebagai ruang yang dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Platform digital yang selama ini akrab dengan hiburan juga bisa menjadi tempat anak muda berbagi gagasan dan inspirasi.

“Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai berkarya,” menjadi salah satu pesan yang relevan dengan pembahasannya.

Ia memaparkan lima bentuk pemanfaatan media sosial untuk dakwah, yakni halaman For You Page (FYP) untuk menyebarkan syiar, media sosial sebagai ruang dakwah, kolom komentar sebagai tempat berdiskusi, caption untuk menyampaikan literasi, serta story untuk berbagi inspirasi.

Baca Juga  Mudik Lebaran, Jalan Pulang yang Tak Lagi Sama

Syafiq juga menekankan bahwa kontribusi dalam dakwah tidak mengharuskan seseorang tampil di depan publik. Anak muda dapat mengambil peran melalui pembuatan konten, pengembangan ide, atau pengelolaan komunitas sesuai kemampuan masing-masing.

“Konsistensi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Konten sederhana yang dibuat secara berkelanjutan dapat menjadi sarana untuk menjangkau audiens dan menyampaikan pesan positif,” jelasnya.

Komunitas Dakwah yang Dekat dengan Anak Muda

Selain media sosial, Syafiq membahas pentingnya komunitas dalam mengembangkan gerakan dakwah. Menurutnya, komunitas perlu memahami karakteristik audiens agar kegiatan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Riset terhadap audiens dapat membantu menentukan platform komunikasi, pendekatan, dan bentuk kegiatan. Dengan cara itu, komunitas dapat merancang program yang dekat dengan keseharian generasi muda.

Syafiq mencontohkan Circle Masjid sebagai gerakan komunitas yang mengajak anak muda mendekatkan diri dengan masjid. Gerakan semacam ini dapat menjadi ruang perjumpaan sekaligus mendukung terbentuknya kebiasaan positif.

Ia mendorong peserta melihat dakwah sebagai kegiatan yang bisa dilakukan melalui berbagai bidang sesuai minat dan keterampilan. Media digital dan komunitas dapat saling mendukung untuk memperluas jangkauan pesan keagamaan.

GADIS sebagai Ruang Belajar Kader

Setelah pemaparan materi, kegiatan berlanjut ke sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu Fajri Putra. Peserta mendapat kesempatan memperdalam pembahasan mengenai tantangan dakwah digital dan peran anak muda dalam membangun lingkungan yang positif.

Baca Juga  Ketika Ratusan Pelajar Muhammadiyah Diajari Cerdas Bermedia

PK IMM Ganesha mengadakan GADIS sebagai ruang belajar dan diskusi untuk mengembangkan potensi kader. Kegiatan ini juga sejalan dengan gerakan #TalentaBerbudaya yang mendorong kader mengenali kemampuan diri, mengembangkan kreativitas, dan berkontribusi di lingkungan sekitar.

Melalui forum tersebut, PK IMM Ganesha berharap mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial untuk berkarya dan menyebarkan gagasan yang bermanfaat. Anak muda juga diharapkan mampu memilih peran dalam dakwah sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

“Media sosial bisa menjadi ruang untuk menyebarkan inspirasi dan nilai-nilai positif,” pesan Syafiq.

 

*) Penulis: Tsania Salsabila