MAKLUMAT — Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PWM Jawa Timur, Muhammad Mirdasy, menyoroti fenomena viral di era post-truth yang tengah terjadi, dimana sesuatu yang dinilai sebagai suatu kebenaran belum tentu sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.
Hal itu ia ungkapkan ketika menghadiri Pelatihan Influencer Dakwah Digital Muhammadiyah yang diselenggarakan di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (30/8/2025).
“Dunia hari ini berada di era post-truth, dimana ternyata kebenaran saat ini tidak lagi bergantung pada apa kejadiannya, tetapi hanya karena banyak yang membicarakan, viral, akhirnya dianggap sebagai sebuah kebenaran. Padahal belum tentu sesuai dengan fakta yang terjadi,” sebutnya.
Generasi Muda dan Dakwah Digital
Lebih lanjut, Mirdasy mengungkapkan alasannya menggelar Pelatihan Influencer Dakwah Digital Muhammadiyah. Menurutnya, esensi dakwah adalah menyampaikan. Dalam konteks hari ini dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi digital semakin massif, maka dakwah di ruang-ruang digital juga menjadi sebuah keniscayaan.
“Esensi dakwah adalah menyampaikan, melalui apapun, jangan diam. Dulu itu menyampaikan ya mungkin kaitannya hanya dengan mulut, tapi sekarang itu bukan hanya mulut, tapi bisa berbagai medium sekarang ada, jangan diam,” katanya.
Anak-anak muda saat ini, lanjut Mirdasy, sangat melek teknologi dan memiliki energi yang luar biasa. Menurutnya, hal tersebut sangat penting untuk diarahkan sehingga mampu semakin memassifkan gerakan dakwah Muhammadiyah dan narasi-narasi positif di ruang-ruang digital.
“Energi anak-anak muda ini sangat hebat dan mereka sangat melek digital. Harapannya para influencer muda ini nanti pada akhirnya bisa memperkuat jangkauan dakwah Muhammadiyah, agar pesan-pesan Islam yang berkemajuan dapat menjangkau lebih banyak generasi milenial dan gen z,” tandasnya.
Senada, Bendahara PWM Jatim, drh Zainul Muslimin, menandaskan bahwa fenomena viral di era post-truth bak pisau bermata dua. Di satu sisi, viralitas dapat membuat suatu isu semakin banyak dibicarakan. Namun, di sisi lain juga dapat membuat informasi-informasi yang tidak akurat, bahkan hoaks, menjadi lebih mudah tersebar dan mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek.
Sebab itu, Zainul menyambut positif Pelatihan Influencer Dakwah Digital Muhammadiyah tersebut, yang diharapkan dapat menjadi suatu langkah bagi Persyarikatan untuk merebut dan menguasai narasi di jagat digital.
Ia menandaskan, kader-kader influencer Muhammadiyah harus senantiasa berpijak pada nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan, serta senantiasa menebarkan manfaat dalam bentuk apapun dan di mana pun, melalui platform apapun.
“Muhammadiyah ini, LHKP, Lazismu, dan sebagainya, termasuk kita secara pribadi masing-masing ini, akan disebut baik ketika ada kebermanfaatan yang kita tebar. Maka, mari kita bangun, mari kita berikan kontribusi terbaik bagi Persyarikatan, bagi umat, dan bangsa,” tandas pria yang juga merupakan Penasihat Lazismu Jatim itu.
Sekadar diketahui, Pelatihan Influencer Dakwah Digital Muhammadiyah tersebut diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai layar belakang. Mulai para pelajar SMA, mahasiswa, aktivis, guru, hingga para penggerak dan relawan Lazismu daerah.