Jelang Muktamar ke-35 NU, KH Imam Jazuli: Gus Ipul Figur Transformatif yang Layak Pimpin PBNU 2026–2031

gus ipul

MAKLUMAT— Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dinilai layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Penilaian itu disampaikan pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon sekaligus alumni Lirboyo Kediri, KH Imam Jazuli menjelang Muktamar ke-35 NU.

Menurut KH Imam , NU di abad kedua menghadapi tantangan jauh lebih kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, transformasi digital, hingga penguatan ekonomi umat. Karena itu, NU membutuhkan pemimpin transformatif yang memahami tradisi sekaligus mampu mengelola organisasi modern.

“NU membutuhkan sosok yang memahami Aswaja secara mendalam dan mampu menerapkan tata kelola profesional. Gus Ipul memiliki paket lengkap itu,” tegasnya, Rabu (18/2/2026).

KH Imam menilai pengalaman Gus Ipul di birokrasi menjadi modal penting. Ia pernah menjabat Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Menteri Sosial, Wakil Gubernur Jawa Timur dua periode, dan Wali Kota Pasuruan.

Menurutnya, struktur NU saat ini mengelola aset besar, mulai dari lembaga pendidikan hingga fasilitas kesehatan. Organisasi sebesar itu membutuhkan kepemimpinan dengan kemampuan manajerial dan tata kelola yang akuntabel.

“ Gus Ipul memahami governance modern dan tahu cara menggerakkan organisasi secara efisien. Sebagai mantan Ketua Umum GP Ansor, Gus Ipul dinilai memahami karakter gerakan pemuda, sekaligus tetap menjunjung tinggi tradisi dan adab kepada para kiai sepuh,” ujarnya.

Baca Juga  Gus Ipul: PBNU Kembali Solid, Gus Yahya Dipastikan Tetap Ketua Umum

KH Imam menilai kemampuan ini penting untuk menjembatani jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah dalam proses pengambilan keputusan strategis di internal NU.

Ia juga menyoroti luasnya jaringan lintas sektoral yang dimiliki Gus Ipul, baik di tingkat nasional maupun internasional. Relasi dengan pemerintah, kalangan pengusaha, hingga tokoh lintas agama dinilai menjadi nilai tambah untuk memperkuat posisi tawar NU dalam kebijakan publik dan diplomasi kemanusiaan.

Di sisi lain, lanjut dia, visi kemandirian ekonomi jam’iyah dinilai menjadi tantangan besar NU ke depan. Gus Ipul mampu mengonsolidasikan potensi ekonomi warga NU menjadi kekuatan korporasi sosial yang solid.

“ Gus Ipul mampu menerjemahkan konsep Islam Nusantara secara konkret tanpa meninggalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). NU tidak hanya butuh sosok alim, tetapi juga pemimpin yang cekatan dalam khidmah dan memahami peta politik serta ekonomi global,” tandasnya.