BPS Ungkap Sejumlah Faktor Pemicu Anjloknya Harga Emas di Palembang

Kantor BPS Kota Palembang. (Foto: Dok. Aldekum/ IST)

MAKLUMAT — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang mencatat adanya penurunan harga emas perhiasan yang cukup signifikan pada periode Maret 2026, di tengah fluktuasi ekonomi global yang dinamis.

Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno SE MSi, menjelaskan bahwa penurunan harga emas perhiasan di tingkat lokal dipengaruhi langsung oleh kondisi pasar internasional. Ia menyebut terdapat sejumlah faktor fundamental yang turut menekan harga emas dunia.

“Kami memantau adanya tren penurunan harga emas perhiasan di pasar domestik, khususnya Palembang. Hal ini merupakan transmisi langsung dari jatuhnya harga emas di pasar global,” ujarnya dalam rilis resmi di Palembang, Rabu (1/4/2026).

Tiga Faktor Utama

Menurut Edi, terdapat setidaknya tiga faktor utama yang memicu turunnya harga emas dunia pada Maret 2026. Pertama, melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Kedua, menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan menurun.

Faktor ketiga adalah aksi para pelaku pasar global. “Banyak investor yang memutuskan untuk menjual cadangan emas mereka di saat nilai tukar dolar sedang menguat,” kata Edi.

Aksi jual investor ini meningkatkan pasokan emas di pasar dan mendorong harga turun. Dampak koreksi harga global tersebut kemudian turut dirasakan di pasar domestik, termasuk di Palembang.

Baca Juga  Harga Emas Antam di Pegadaian 30 Maret 2026 Tembus Rp2,93 Juta per Gram

Kontribusi terhadap Deflasi

Lebih lanjut, Edi menilai bahwa penurunan harga emas perhiasan juga memberikan kontribusi terhadap deflasi pada kelompok pengeluaran tertentu di Kota Palembang.

Berdasarkan data BPS, kata dia, emas perhiasan mengalami perubahan harga sebesar -3,38 persen secara month-to-month (m-to-m).

“Emas perhiasan menjadi komoditas utama yang meredam laju inflasi di Palembang pada Maret ini dengan andil deflasi sebesar -0,142%,” jelasnya.

Meski demikian, Edi menyebut bahwa secara umum Kota Palembang tetap mengalami inflasi sebesar 0,28 persen (m-to-m). Kondisi tersebut dipicu oleh kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Meskipun harga emas turun, secara umum Kota Palembang tetap mengalami inflasi sebesar 0,28% (m-to-m) yang dipicu oleh kenaikan harga bahan pangan seperti daging ayam ras, telur ayam, dan bawang merah menjelang momen Hari Raya Idul Fitri,” tandasnya.