Harga Plastik Melonjak, Dosen Umsida: Ketergantungan Impor Jadi Alarm Ekonomi

Dosen Ekonomi Umsida, Dr Hadiah Fitriyah SE MSi Ak CIBA CPS. (Foto: Humas)

MAKLUMAT — Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Hadiah Fitriyah, menyoroti lonjakan signifikan harga plastik, yang mencapai 50-100%.

Menurutnya, kenaikan harga tersebut dipicu oleh konflik geopolitik yang memanas di Asia Barat yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel, sehingga mengganggu distribusi nafta (naphtha) melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Nafta sendiri merupakan cairan hidrokarbon cair hasil distilasi minyak bumi yang menjadi bahan baku krusial dalam industri petrokimia, khususnya untuk memproduksi plastik, karet sintetis, hingga bahan campuran bensin.

Melonjaknya harga plastik—yang menjadi salah satu bahan terpenting yang banyak digunakan sehari-hari—menurut Hadiah bakal sangat berdampak di beberapa sektor, terutama ekonomi. Ia menilai, kondisi ini menjadi peringatan serius bagi industri dalam negeri.

“Bahkan banyak yang menyebut bahwa harga plastik ini bukan naik lagi, melainkan ganti harga,” sorotnya, dalam keterangan kepada Maklumat.id, Jumat (17/4/2026).

Menurut Hadiah, sebagian besar bahan baku plastik di Indonesia masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut berpotensi memicu krisis pasokan bahan baku di tengah situasi global yang tidak menentu.

Ketergantungan Impor: Ancaman Ketahanan Industri

Hadiah menilai, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor membuat risiko ekonomi meningkat, mulai dari tekanan pada neraca perdagangan hingga inflasi produk turunan.

Baca Juga  Dorong Kolaborasi HIPMI dan Pemkab Sidoarjo, Wabup Mimik Idayana: Perkuat Ekonomi Daerah

“Ini bisa menyebabkan kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya berakibat pada kenaikan biaya operasional dan menekan margin keuntungan produsen, sehingga memicu adanya kenaikan harga jual ke konsumen,” katanya.

Tak cuma itu, ia menyebut bahwa lonjakan harga plastik juga mencerminkan lemahnya ketahanan industri nasional.

“Karena industri dalam negeri masih tergantung impor, jadi ketika kondisi global tidak stabil, maka industri dalam negeri terdampak besar,” tandasnya.

UMKM Tertekan, Inovasi Kemasan Jadi Solusi

Lebih jauh, Hadiah menyebut bahwa UMKM menjadi kelompok industri yang paling merasakan dampak kenaikan harga plastik. Pasalnya, plastik merupakan komponen penting dalam aktivitas usaha sehari-hari, terutama untuk kebutuhan kemasan.

“Kenaikan harga plastik memaksa pelaku UMKM untuk meningkatkan harga jual atau justru mengurangi margin keuntungan,” tuturnya.

Situasi tersebut membuat pelaku usaha dihadapkan pada pilihan sulit, antara menaikkan harga jual atau menekan keuntungan agar tetap bisa bersaing di pasar. Meski demikian, Dr Hadiah menilai kondisi ini masih dapat diatasi bahkan dapat menjadi peluang baru dalam jangka panjang.

“Fenomena ini merupakan krisis jangka pendek yang bisa dijadikan peluang untuk jangka panjang, terutama dalam diversifikasi bahan baku dan inovasi kemasan sehingga tidak hanya bergantung pada stok nafta,” jelasnya.

Baca Juga  PS RES Umsida Jadi Pusat Studi Terbaik 2025: Berhasil Jaga Kesinambungan Kerja Sama untuk Kajian Sosial

Ia mendorong agar industri mulai menerapkan konsep 3R (reduce, reuse, recycles). Salah satunya dengan beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti kertas daur ulang atau bahan alternatif lainnya.

Untuk merealisasikan langkah tersebut, Hadiah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan sektor industri.

“Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur industri Petrokimia dalam negeri untuk menekan impor nafta, dan membuat kebijakan untuk mengimplementasikan 3R,” tegasnya.

Sementara itu, dari sisi industri, ia menyarankan agar pelaku usaha mulai melakukan investasi teknologi yang lebih berkelanjutan. “Sedangkan untuk pihak industri, lanjut Dr Hadiah, bisa melakukan investasi pada teknologi bioplastik,” pungkas Hadiah.