Hari AIDS Sedunia, Prof Maksum Ungkap Sejarah, Fakta Kasus, hingga Terobosan Obat Terbaru

Hari AIDS Sedunia, Prof Maksum Ungkap Sejarah, Fakta Kasus, hingga Terobosan Obat Terbaru

MAKLUMAT — Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember merupakan sebuah momentum global untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV, serta pentingnya upaya pencegahan dan pengobatannya.

Prof Dr Maksum Radji MBiomed.
Prof Dr Maksum Radji MBiomed.

Hari AIDS Sedunia tahun ini merupakan peringatan ke-37, sejak pertama kali digelar pada tahun 1988, setelah Dr Jonathan Mann yang menjabat Direktur Program AIDS WHO saat itu, menetapkan bahwa tanggal 1 Desember resmi menjadi hari peringatan Hari AIDS Sedunia.

Guru Besar Mikrobiologi Prodi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Esa Unggul Jakarta, Prof Dr Maksum Radji MBiomed, menjelaskan bahwa AIDS alias Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan sindrom penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).

“Virus yang mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga orang yang terinfeksi virus HIV ini akan menjadi rentan terhadap infeksi, seperti infeksi bakteri dan jamur oportunistik,” ujarnya kepada Maklumat.id, Ahad (30/11/2025).

Tema Hari AIDS Sedunia Tahun 2025

Diketahui, WHO menetapkan tema Hari AIDS Sedunia tahun 2025 adalah “Overcoming Disruption, Transforming the AIDS Response,” sementara tema Hari AIDS Sedunia 2025 yang diperingati secara nasional adalah “Bersama Hadapi Perubahan, Jaga Keberlanjutan Layanan HIV.”

Menurut Prof Maksum, terdapat sejumlah pesan penting yang harus menjadi perhatian serius dalam tema Hari AIDS Sedunia kali ini. Pertama, perlunya respon yang tangguh dan adaptif dalam menghadapi HIV/AIDS; Kedua, menjamin layanan HIV/AIDS yang inklusif dan bebas stigma.

“Ketiga, pentingnya peran aktif para pemangku kebijakan dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan layanan; Keempat, mendorong inovasi dan kolaborasi untuk memperkuat pendanaan dan efektivitas program HIV/AIDS; dan kelima, komitmen bersama guna mewujudkan Indonesia tanpa AIDS di 2030,” tandasnya.

Sejarah Penemuan dan Cara Penularan

Kepada Maklumat.id, Prof Maksum menjelaskan bahwa HIV/AIDS sebenarnya merupakat penyakit yang relatif baru ditemukan. Infeksi lain seperti malaria, pes, kusta, tuberkulosis, campak, dan kolera telah lebih dulu memengaruhi sebagian besar umat manusia selama berabad-abad.

Baca Juga  Jadwal Salat Jatim, Jumat 25 Oktober

Penemuan virus HIV, kata dia, berawal dari laporan kasus penyakit aneh pada pria gay di Amerika Serikat (AS) pada awal 1980-an, yang kemudian diidentifikasi oleh para ilmuwan Prancis, yakni Luc Montagnier, Françoise Barré-Sinoussi, dan Robert Gallo dari Amerika Serikat, sebagai penyebab AIDS.

Kemudian pada Januari 1983, Françoise Barré-Sinoussi dari Laboratorium Jean-Claude Chermann, di Unit Onkologi Virus Luc Montagnier berhasil mengisolasi retrovirus yang tidak diketahui, yang mirip dengan HTLV (Human T-Lymphotropic Virus), dari sampel kelenjar getah bening dari seorang pasien dalam fase pra-AIDS.

Pada tahun 1983, lebih dari 42 tahun yang lalu, virus yang kemudian disebut dengan HIV—virus penyebab AIDS ini—secara resmi diakui setelah hasil penelitian kedua ilmuan Prancis, Luc Montagnier dan Françoise Barré-Sinoussi, dipublikasi di jurnal ilmiah bergengsi, yaitu, Science, pada Mei 1983.

“Berdasarkan hasil penemuannya pada tahun 1983 yang mengidentifikasi virus penyebab wabah AIDS inilah, Françoise Barré-Sinoussi dan Luc Montagnier mendapatkan Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2008 silam,” terang Prof Maksum.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa penularan HIV dapat terjadi melalui kontak langsung antara aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu.

“Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, saat bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh yang terkontaminasi oleh HIV tersebut,” jelasnya.

Perkembangan Temuan Kasus HIV/AIDS

Berdasarkan Laman UNAIDS yang dirilis pada 25 November 2025 tentang Laporan Hari AIDS Sedunia 2025, saat ini, tercatat 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia, 1,3 juta infeksi baru terjadi pada tahun 2024, dan 9,2 juta orang masih belum mendapatkan akses pengobatan.

Baca Juga  Wujud Ta'awun dalam Penguatan Layanan Kesehatan, Klinik Muhammadiyah Lamongan Hibahkan Kursi Gigi untuk PCM Modo

Sedangkan di Indonesia, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tercatat sebanyak 564.000 orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) pada tahun 2025.

Sementara itu, sampai bulan Maret 2025, Kemenkes telah mencatat sekitar 356.638 atau 63 persen kasus ODHIV dari estimasi 564.000. Dari jumlah tersebut, 67 persen telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV), dan 55 persen menunjukkan virus yang tersupresi.

“Temuan kasus orang dengan HIV/AIDS setiap tahun masih menunjukkan adanya peningkatan,” kata Prof Maksum.

Lenacapavir, Obat Baru Pencegahan HIV?

Lebih jauh, pria yang juga merupakan Pembina Pondok Pesantren Babussalam Socah di Bangkalan itu menyoroti bahwa pengembangan obat antivirus HIV merupakan yang paling banyak dilakukan dan dikembangkan oleh para peneliti. Meski begitu, kasus HIV/AIDS di seluruh dunia belum berhasil dieliminasi sepenuhnya.

Terbaru, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA- Amerika Serikat) telah menyetujui lenacapavir untuk pencegahan HIV pada pria dan wanita. Para peneliti percaya bahwa pengobatan yang diberikan dua kali setahun ini dapat menjadi terobosan baru dalam perang melawan epidemi HIV.

Lenacapavir, kata Prof Maksum, adalah obat yang digunakan untuk menghambat fungsi kapsid virus HIV, yaitu lapisan protein pelindung yang membungkus materi genetik virus.

“Dengan mekanisme kerja tersebut, obat ini mampu memperlambat atau menghentikan perkembangan virus di dalam tubuh. Obat ini juga mencegah virus masuk ke dalam sel hospes membentuk virion baru, sehingga mencegah penyebarannya di dalam tubuh,” ujarnya.

Lenacapavir diberikan dalam sediaan obat suntik setiap enam bulan, dan merupakan obat pencegahan HIV pertama yang disetujui yang hanya perlu diberikan dua kali setahun.

Berdasarkan hasil uji klinis yang telah dilakukan, lenacapavir terbukti sangat efektif untuk mencegah infeksi HIV pada pria dan wanita. Lebih dari 99,9% peserta yang menerima suntikan dua kali setahun tetap negatif HIV selama masa studi.

“Hasil ini menunjukkan bahwa lenacapavir merupakan salah satu pilihan obat terbaik untuk pencegahan HIV yang tersedia sejak awal epidemi HIV/AIDS,” kata Prof Maksum.

Baca Juga  Transportasi Bus Sekolah Surabaya Layani Ribuan Pelajar Selama November 2024

Diketahui, hingga September 2025 lenacapavir untuk pencegahan HIV telah disetujui oleh FDA Amerika Serikat dengan nama Yeztugo, serta mendapatkan rekomendasi dari European Medicines Agency (EMA) untuk Uni Eropa dengan nama Yeytuo.

WHO juga telah mengeluarkan rekomendasi resmi untuk penggunaan lenacapavir sebagai bagian dari program pencegahan infeksi virus HIV. Persetujuan dan rekomendasi internasional atas lenacapavir suntik dua kali setahun ini menandai kemajuan besar dalam upaya pencegahan HIV.

“Sayangnya, hingga saat ini lenacapavir belum tersedia di Indonesia,” seloroh Prof Maksum.

Mencegah Virus HIV/AIDS

Menurut Prof Maksum, HIV/AIDS adalah penyakit serius yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit tersebut menyerang sel-sel darah putih yang disebut CD4, sehingga melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit lainnya.

“Namun, risiko penularan HIV dapat dicegah dengan memahami cara penularan virus HIV yang tepat. Pencegahan HIV merupakan langkah penting untuk mengurangi infeksi baru dan mencegah penyebaran virus,” tandasnya.

Beberapa cara yang disarankan oleh Prof Maksum untuk mencegah dan menghindari penularan HIV/AIDS di antaranya: Pertama, abstinence and awareness, yaitu tidak melakukan hubungan seksual, adalah cara pencegahan yang efektif dalam menghindari penularan HIV, khususnya bagi remaja dan orang dewasa muda yang belum siap secara fisik dan emosional untuk terlibat dalam hubungan seksual.

Kedua, no drugs and safe blood sterile equipment, yakni selalu menggunakan peralatan medis yang steril, terutama saat transfusi darah dan transplantasi organ, serta menghindari penggunaan narkoba, terutama narkoba suntik, melalui jarum yang tidak steril.

Ketiga adalah education, yaitu dengan memberikan informasi yang benar tentang HIV untuk memberikan kesadaran mengenai risiko dan pencegahan HIV, serta pentingnya kepatuhan minum obat bagi penderita HIV/AIDS.

“Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari wabah HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya. Aamiin,” pungkas Prof Maksum.

*) Penulis: Ubay NA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *