19.5 C
Malang
Rabu, Juli 24, 2024
KilasHari Raya Idul Adha di Arab Saudi Berbeda dengan Indonesia, Muhammadiyah: Bukan...

Hari Raya Idul Adha di Arab Saudi Berbeda dengan Indonesia, Muhammadiyah: Bukan Hal Baru

Suasana sidang Isbat 1 Dzulhijah 1445 H

PELAKSANAAN hari raya Idul Adha 1445 Hijriyah dipastikan akan berbeda antara Arab Saudi dengan Indonesia. Umat Islam di Arab Saudi diketahui akan merayakan Idul Adha pada Ahad, 16 Juni 2024. Sedangkan, muslim di Indonesia akan serentak berhari raya lebih lambat sehari, yakni pada Senin, 17 Juni 2024.

Penetapan tanggal hari raya Idul Adha 1445 H yang lebih lambat sehari itu diputuskan setelah Kementerian Agama (Kemenag) RI mengadakan sidang Isbat di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2024). Kemenag telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1445 H jatuh pada hari Sabtu (8/6/2024). Ketetapan tersebut secara otomatis membuat hari raya Idul Adha itu jatuh pada 17 Juni 2024.

“Disepakati bahwa 1 Dzulhijjah tahun 1445 H jatuh pada hari Sabtu, 8 Juni 2024 masehi, dan insyallah hari raya Idul Adha 10 Zulhijah 1445 hijriah jatuh pada 17 Juni 2024,” kata Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat usai sidang Isbat.

Menyikapi perbedaan waktu itu, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Agus Purwanto menerangkan, perbedaan penetapan hari raya Idul Adha antara Indonesia dan Saudi Arabia bukanlah hal yang baru. Bahkan, perbedaan ini bukan kali pertama terjadi.

“Sudah sering terjadi. Sehingga, seharusnya warga Muhammadiyah dan umat Islam di Indonesia tidak lagi merasa kaget dengan fenomena ini,” kata Guru Besar Fisika ITS Surabaya, Jumat (7/6/2024).

Agus mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, pola perbedaan ini cukup bervariasi. Selama dua tahun berturut-turut misalnya, hari raya Idul Adha di Saudi Arabia pelaksanaannya bersamaan dengan Muhammadiyah. Namun, itu mendahului Pemerintah Indonesia.

“Sebelumnya lagi, hari raya Idul Adha di Saudi bersamaan dengan Pemerintah Indonesia. Sementara, Muhammadiyah mendahului. Namun, ada juga tahun di mana Muhammadiyah, Pemerintah, dan Saudi Arabia ber-Idul Adha pada hari yang sama,” paparnya.

Di tahun 2024 ini, kata Agus, hari raya Idul Adha di Saudi Arabia mendahului Muhammadiyah dan juga Pemerintah Indonesia. Setelah sebelumnya Muhammadiyah telah jauh hari menetapkan tanggal 29 Dzulqa’dah 1445 H jatuh pada Kamis, 6 Juni 2024.

“Namun, ketika maghrib tanggal 6 Juni 2024, konjungsi belum terjadi (konjungsi baru terjadi pada pukul 19:04 WIB), sehingga siklus bulan Dzulqa’dah belum berakhir. Dengan demikian, berdasarkan kriteria Wujudul Hilal, Dzulqa’dah disempurnakan menjadi 30 hari, dan 1 Dzulhijjah 1445 H jatuh pada Sabtu, 8 Juni 2024. Sehingga, Idul Adha pada Senin, 17 Juni 2024,” terangnya.

Sementara, Pemerintah Indonesia yang awal bulan Dzulqa’dahn satu hari lebih lambat dari Muhammadiyah, dan menetapkan tanggal 29 Dzulqa’dah 1445 H jatuh pada Jumat, 7 Juni 2024. “Ketika maghrib pada Jumat, 7 Juni 2024, konjungsi telah terjadi dan tinggi hilal mencapai 8 derajat 48 detik, memenuhi kriteria awal bulan versi MABIMS. Maka, Sabtu, 8 Juni 2024 ditetapkan sebagai 1 Dzulhijah 1445 H, dan Idul Adha pada Senin, 17 Juni 2024,” jelasnya.

Di sisi lain, Agus Menerangkan, Saudi Arabia telah menetapkan awal Dzulqa’dah sama dengan Muhammadiyah, sehingga 29 Dzulqa’dah 1445 H juga jatuh pada Kamis, 6 Juni 2024. Berdasarkan perhitungan di Stellarium untuk Jeddah, matahari terbenam pada pukul 19:00 Waktu Saudi atau 23:00 WIB dan tinggi hilal 1 derajat 58 detik. Metode hisab Saudi yang mirip dengan Muhammadiyah menggunakan Wiladatul Hilal.

“Karena posisi hilal positif, maka Jumat, 7 Juni 2024 sudah masuk 1 Dzulhijah 1445 H. Terlebih lagi, diumumkan bahwa ada yang berhasil melihat hilal, sehingga lebih mantap menetapkan Jumat, 7 Juni 2024 sebagai awal Zulhijah, dan Idul Adha pada Ahad, 16 Juni 2024,” ungkapnya.

Menurut Agus, perbedaan ini tentu saja akan berdampak pada perbedaan dalam pelaksanaan puasa Arafah dan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Idealnya, puasa dan wukuf di Arafah dilakukan pada waktu yang bersamaan.

“Adanya perbedaan ini semakin menegaskan pentingnya Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang memiliki prinsip satu hari untuk seluruh dunia, sehingga perbedaan puasa dan wukuf di Arafah tidak lagi terjadi,” harapnya.

Agus menegaskan, dengan adanya Kalender Hijriyah Global Tunggal, umat Islam di seluruh dunia dapat merayakan hari-hari besar Islam secara serempak. “Ini bukan hanya menyelaraskan waktu puasa dan wukuf, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kebersamaan di antara umat Islam di berbagai belahan dunia,” pungkasnya.

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer