MAKLUMAT — Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kediri Raya, Dimas Tri Kurniawan menyoroti bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto yang diberikan kepada masyarakat di Kediri.
Menurut dia, bantuan tersebut belum serta-merta menambah penghasilan pribadi para penerima karena persoalan yang dihadapi pengayuh becak tidak hanya berkaitan dengan alat transportasi.
“Pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor tidak turut dirasakan oleh lapisan masyarakat, baik kaum marjinal yang hidupnya bergantung pada harapan dan sisa-sisa keberuntungan orang lain. Persoalan yang sering kali ditemui yaitu tidak adanya upaya dari pemerintah untuk menanggulangi gelombang penderitaan masyarakat kalangan bawah,” ujar Dimas pada Sabtu (21/6/2026).
Dimas menilai keberadaan becak bertenaga listrik belum menjadi solusi utama untuk meringankan beban pengayuh becak. Ia melihat persoalan yang lebih besar terletak pada perubahan pola masyarakat dalam menggunakan moda transportasi. Penggunaan becak mulai ditinggalkan dan saat ini lebih banyak digunakan oleh pelanggan dari kalangan orang tua.
Menurut Dimas, Kota Kediri sebagai kota dengan perkembangan perkotaan yang semakin masif memiliki beragam persoalan sosial, agama, dan ekonomi. Berdasarkan data BPS Februari 2026, Kota Kediri memiliki populasi 42.500 jiwa. Ia menilai pertumbuhan ekonomi yang terjadi seharusnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok marjinal dan masyarakat kalangan bawah.
PC IMM Kediri Raya juga melakukan wawancara dengan sejumlah penerima manfaat becak listrik pada 20 Juni 2026 di Kota Kediri. Dalam wawancara tersebut, salah satu penerima yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan adanya perbedaan kualitas antara unit becak listrik yang diterima.
Ia menyebut unit yang diterima rekannya terasa ringkih, kurang bertenaga, dan baterainya lebih cepat habis dibandingkan unit lain yang dinilai lebih kokoh dan mampu bekerja lebih efisien.
“Program bantuan becak bertenaga listrik sing digawe kanggo ningkatake kesejahteraan pengayuh durung mesthi maringi tambahan penghasilan. Akeh pengayuh ngomong, wong-wong saiki wis owah cara lelungane, mula penumpang becak dadi suda. Mas-mas muda saiki luwih seneng naik ojek online utawa mobil, dadi becak paling kanggo wong tuwa wae,” ujar penerima yang enggan disebutkan namanya.
Dimas menilai perbedaan kualitas unit tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam desain dan pelaksanaan program bantuan alat transportasi. Menurut dia, bantuan seharusnya meningkatkan produktivitas penerima, bukan menambah beban biaya perawatan akibat kualitas alat yang tidak seragam.
Ia merekomendasikan pemerintah dan penyedia bantuan menetapkan standar minimum terkait daya motor, kapasitas baterai, serta kekuatan rangka becak listrik. Selain itu, penyedia juga perlu memberikan garansi, layanan purna jual, serta solusi pengisian daya bagi penerima yang tidak memiliki akses listrik, seperti stasiun pengisian komunitas atau subsidi listrik.
Dimas juga melihat becak, baik listrik maupun manual, memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari sektor wisata di Kota Kediri. Menurut dia, pengelola becak dapat bekerja sama dengan hotel dan homestay agar wisatawan memiliki pilihan transportasi untuk mengunjungi tempat wisata di sekitar lokasi penginapan.
“Becak, baik yang pakai listrik maupun yang manual, bisa dimanfaatkan untuk wisata di Kota Kediri. Caranya mudah: ajak kerja sama penginapan seperti hotel dan homestay. Misalnya, tamu hotel bisa memilih naik becak keliling kota untuk melihat tempat wisata dekat penginapan. Becak listrik cocok untuk rute sedikit lebih jauh dan lebih nyaman, sedangkan becak manual memberi pengalaman tradisional yang menarik bagi wisatawan,” ujar Dimas.
Menurut Dimas, pemanfaatan becak sebagai bagian dari paket wisata dapat memberikan tambahan penghasilan bagi pengemudi sekaligus memberi nilai tambah bagi penginapan. Namun, pelaksanaannya membutuhkan aturan sederhana seperti jadwal layanan, titik penjemputan di hotel, harga yang jelas, serta tempat pengisian baterai untuk becak listrik.
“Kasus ini menjadi pengingat bahwa bantuan alat transportasi listrik untuk kelompok rentan memerlukan pendekatan holistik: memastikan kualitas, memikirkan biaya jangka panjang, dan menyiapkan infrastruktur pendukung agar tujuan sosial program tercapai,” pungkasnya.
*) Penulis: M Idris Falakhuddin













