MAKLUMAT — Invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela memicu pertanyaan besar tentang motif di balik operasi tersebut. Sejumlah pengamat menilai langkah Washington tidak sekadar bertujuan menstabilkan politik, tetapi juga berpotensi mengarah pada penguasaan sumber daya strategis, terutama minyak.
Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Data OPEC menunjukkan cadangan minyak Venezuela mencapai lebih dari 300 miliar barel, mengungguli Arab Saudi dan Iran. Cadangan raksasa ini menjadikan Venezuela aset energi strategis dalam peta geopolitik global.
Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Faris Al-Fadhat PhD, menilai sektor minyak menjadi taruhan utama dalam invasi AS ke Venezuela. Selama ini, minyak menyumbang sekitar 90% pendapatan negara dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Faris menyoroti pernyataan AS yang menyebut akan menjalankan pemerintahan dan mengambil alih operasi sektor minyak. Ia menilai sikap tersebut masih ambigu dan membuka ruang konflik kepentingan.
“Ketika Amerika Serikat menyampaikan akan running the country sekaligus menguasai operasi minyak, kita perlu bertanya: apakah manfaat ekonominya benar-benar kembali ke Venezuela, atau justru dinikmati perusahaan-perusahaan Amerika,” kata Faris seperti dilansir laman UMY, Senin (5/1/2026).
Guru Besar Hubungan Internasional Fisipol UMY ini menegaskan krisis ekonomi Venezuela tidak muncul secara tiba-tiba. Ia menyebut kebijakan blokade dan pembatasan ekspor minyak yang diterapkan AS di masa lalu berkontribusi besar memperparah kondisi fiskal negara tersebut.
Blokade itu memukul langsung sumber pendapatan utama negara. Produksi dan ekspor minyak anjlok, penerimaan negara merosot, dan pemerintah kesulitan membayar gaji aparatur serta menjaga layanan publik dasar.
Di tengah krisis berkepanjangan, sebagian masyarakat Venezuela menyambut kehadiran AS. Publik yang kecewa terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro berharap invasi membawa perubahan ekonomi dan kehidupan yang lebih layak.
Namun, Faris mengingatkan harapan tersebut berpotensi berbenturan dengan kepentingan ekonomi global. Ia menilai cadangan minyak Venezuela yang sangat besar membuat negara itu rawan menjadi objek perebutan kepentingan.
“Minyak Venezuela bukan sumber daya biasa. Cadangannya terbesar di dunia. Dalam banyak kasus, stabilisasi politik sering berjalan seiring dengan pengamanan aset energi,” ujarnya.
Wakil Rektor UMY Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan ini juga menilai AS belum memaparkan peta jalan pemulihan ekonomi Venezuela secara transparan. Hingga kini, belum ada jaminan kebijakan ekonomi pasca-invasi akan berorientasi pada kepentingan nasional Venezuela.
“Pertanyaan kuncinya tetap sama: apakah invasi ini bertujuan memperbaiki ekonomi Venezuela atau justru mengamankan pasokan energi dan kepentingan ekonomi Amerika Serikat,” tegas Faris.
Ia menilai masih terlalu dini menyimpulkan invasi AS akan membawa dampak positif. Menurutnya, arah pemulihan ekonomi Venezuela akan ditentukan oleh kebijakan konkret di sektor energi, tata kelola negara, dan distribusi manfaat ekonomi.
“Venezuela berada di persimpangan. Cadangan minyaknya bisa menjadi modal kebangkitan atau justru sumber krisis baru,” pungkasnya.***