Iran Bisa Targetkan Desalinasi Teluk, Dampaknya Lebih Dahsyat Ketimbang Kilang Minyak

MAKLUMAT — Arah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bergerak ke strategi yang menyasar jalur energi dan pasokan air kawasan Teluk. Dalam satu bulan sejak serangan dimulai pada 28 Februari 2026, Iran dinilai tidak hanya bertahan, tetapi juga menggeser medan konflik ke titik-titik vital di luar wilayahnya.

“Tujuan utama Amerika adalah menjaga eksistensi Israel dan melemahkan Iran di kawasan,” kata Prof. Dr. Siti Mutiah Setiawati, Guru Besar Bidang Geopolitik Timur Tengah di Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Diskusi Awal Pekan Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita, Senin (30/3/2026).

Ia menjelaskan, langkah Amerika juga terkait kepentingan energi global, termasuk menjaga kontrol atas distribusi minyak Timur Tengah dan menghambat stabilitas pasokan bagi China.

Sementara itu, Israel disebut mengarahkan serangan untuk menghilangkan ancaman langsung dari Iran, termasuk dengan mendorong perubahan kepemimpinan dan menghancurkan jaringan aliansinya di kawasan. “Israel ingin menghilangkan ancaman Iran, termasuk dengan menggulingkan kekuasaan yang ada,” ujarnya.

Pasca serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Iran bergerak cepat menjaga stabilitas internal dengan menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru pada 9 Maret 2026. Garda Revolusi kemudian mengambil alih fungsi keamanan setelah sejumlah pejabat tinggi gugur.

Baca Juga  Trump Janji Akhiri Perang Gaza “Sekarang Juga” di Hadapan Pemimpin Arab-Muslim Termasuk Prabowo

Dalam merespons tekanan militer, Iran memanfaatkan posisi strategisnya di jalur pelayaran global. Selat Hormuz menjadi instrumen utama untuk mengontrol arus energi, sementara pengaruh terhadap Selat Bab el-Mandeb dijalankan melalui kelompok Houthi di Yaman.

Selain itu, Iran disebut menyiapkan serangan terhadap fasilitas energi dan desalinasi air laut di negara-negara Teluk. Target ini dinilai lebih berdampak langsung dibandingkan gangguan terhadap minyak. “Jika fasilitas desalinasi dihancurkan, negara Teluk bisa langsung kekurangan air bersih,” kata Siti.

Iran juga memperkuat aliansi regional yang dikenal sebagai Poros Perlawanan, melibatkan Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta kelompok Syiah di Suriah dan Irak. Pola ini mendorong konflik menyebar dalam bentuk proxy war di berbagai titik.

Perkembangan tersebut membuka kemungkinan keterlibatan negara besar lain. China dinilai akan terdampak langsung jika jalur impor energinya terganggu, sementara Rusia memiliki kepentingan geopolitik terkait peran Amerika dalam konflik Ukraina. “Konflik ini bisa mendorong terbentuknya poros baru Iran, Rusia, dan China,” ujar Siti.

Tekanan terhadap negara-negara Teluk, terutama jika pasokan air bersih terganggu, dinilai dapat mengubah sikap politik kawasan terhadap kelanjutan perang.

Baca Juga  JK Desak Indonesia Tegas dalam Konflik Iran: Jangan Netral Jika Ada Negara Diserang