Serangan Terbaru Iran: Lebih 100 Rudal Hantam AS–Israel

Serangan terbaru Iran

MAKLUMAT — Serangan terbaru Iran ke aset Amerika Serikat dan Israel semakin gencar.  Iran mengklaim telah meluncurkan lebih dari 100 rudal dan ratusan drone serta roket ke target AS dan Israel, menandai eskalasi besar konflik di Asia Barat.

Serangan besar-besaran itu diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang menyebut operasi dilakukan secara terkoordinasi bersama angkatan bersenjata Iran dan front perlawanan pada Rabu (1/4/2026).

Dalam pernyataan resminya, IRGC mengklaim serangan menyasar sejumlah titik strategis, termasuk Eilat, Tel Aviv, dan Bnei Brak. Sumber lokal disebut melaporkan adanya korban jiwa di pihak Israel.

Tak hanya itu, IRGC juga menyatakan telah menargetkan posisi militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk pangkalan di Bahrain dan Al-Udayri. Dalam serangan tersebut, satu helikopter dilaporkan hancur dan lainnya mengalami kerusakan berat.

Serangan Laut dan Drone Massif

Press TV melaporkan, operasi lanjutan IRGC mencakup lima aksi militer angkatan laut dalam gelombang ke-89 serangan. Targetnya meliputi aset militer AS dan Israel di berbagai wilayah, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone peledak.

Salah satu serangan terbaru Iran menghantam titik berkumpul pasukan AS di dekat Armada Kelima di Bahrain. Sejumlah perwira disebut mengalami luka serius dan dilarikan ke rumah sakit di Manama.

Baca Juga  SUMU Gelar Kopdar Venture Capital Academy, Bahas Strategi Pendanaan Usaha

Selain itu, dua sistem radar peringatan dini milik AS di wilayah perairan Uni Emirat Arab juga diklaim berhasil dihancurkan. Sementara sebuah kapal tanker Israel bernama Aqua One dilaporkan terbakar setelah menjadi sasaran di Teluk Persia.

IRGC juga menyebut telah meluncurkan gelombang drone ke arah gugus kapal induk USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia. Berdasarkan klaim mereka, kapal tersebut mundur dari posisi sebelumnya.

Klaim Korban dan Dampak Global

Dalam pernyataan lanjutan, IRGC mengklaim serangan sebelumnya di Uni Emirat Arab menewaskan 37 personel AS dan melukai sejumlah lainnya. Iran juga menyoroti dampak luas dari konflik ini, termasuk tekanan ekonomi global, gangguan logistik, hingga meningkatnya ketegangan di kawasan.

IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh mereka dan tidak akan dibuka untuk pihak yang dianggap sebagai musuh.

Gelombang serangan ini merupakan bagian dari Operasi “Janji Sejati 4”, yang disebut sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan awal itu, menurut Iran, mencakup pemboman sejumlah kota serta pembunuhan pemimpin tertinggi mereka.

Sejak saat itu, Iran secara konsisten melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke berbagai target militer di kawasan Asia Barat dan Israel. *

Baca Juga  Jerman Desak Kepatuhan Gencatan Senjata Usai Israel Serang Lebanon: Berakibat Fatal Bagi Rakyat