MAKLUMAT— Islam memandang bullying atau perundungan bukan sekadar masalah sosial, tetapi cerminan lemahnya akhlak. Perilaku merendahkan, mencaci, hingga menyakiti orang lain bertentangan langsung dengan nilai adab yang diajarkan dalam ajaran Islam.
Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup dilakukan di sekolah, melainkan harus dimulai dari rumah melalui pendidikan akhlak yang kuat sejak dini.
Islam Letakkan Akhlak sebagai Fondasi Utama
Dalam Islam, pendidikan anak tidak hanya menekankan kecerdasan, tetapi lebih utama pada pembentukan adab.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab terbesar orang tua bukan pada materi atau prestasi, melainkan membentuk karakter anak agar tidak menyakiti orang lain.
Bullying Berawal dari Lisan yang Tidak Dijaga
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Banyak praktik bullying justru berawal dari ucapan—ejekan, hinaan, atau candaan yang melukai.
Ulama besar Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa anak harus dijauhkan dari kebiasaan berkata kasar, mencaci, dan merendahkan orang lain.
Menurutnya, ucapan yang buruk akan membentuk karakter yang buruk pula.
Didikan Rumah Menentukan Karakter Anak
Lingkungan keluarga menjadi madrasah pertama. Anak belajar dari apa yang ia lihat dan dengar setiap hari. Jika orang tua sering berkata kasar, meremehkan orang lain, dan tidak mengajarkan empati, maka anak berpotensi meniru perilaku tersebut dalam pergaulan.
Sebaliknya, jika rumah dipenuhi dengan adab, kelembutan, dan penghormatan, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang menjaga lisan dan perilaku.
Islam Ajarkan Empati dan Rendah Hati
Islam melarang sikap sombong dan membanggakan diri di hadapan orang lain.
Imam Al-Ghazali menekankan bahwa anak harus dibiasakan rendah hati, menghormati teman, dan bertutur kata lembut. Nilai ini menjadi benteng utama agar anak tidak tumbuh menjadi pelaku bullying.
Pergaulan Buruk Bisa Menular
Islam juga mengingatkan pentingnya memilih lingkungan. Pergaulan dengan teman yang terbiasa berkata kasar atau merendahkan orang lain dapat menular dan membentuk kebiasaan buruk. Karena itu, orang tua tidak hanya mendidik, tetapi juga wajib mengawasi lingkungan sosial anak.
Bullying adalah Bukti Krisis Akhlak, Bukan Sekadar Perilaku
Dari perspektif Islam, bullying bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi krisis akhlak.
Ada tiga akar utama yang bisa dibaca:
1. Hilangnya Pendidikan Adab Sejak Dini
Banyak keluarga lebih fokus pada prestasi akademik dibandingkan pembentukan akhlak. Padahal dalam Islam, adab adalah fondasi utama.
2. Lemahnya Kontrol Lisan
Islam menempatkan lisan sebagai cermin iman. Ketika anak terbiasa berkata kasar, itu tanda lemahnya pembinaan spiritual.
3. Minimnya Keteladanan Orang Tua
Anak tidak belajar dari nasihat, tetapi dari contoh. Ketika orang tua gagal menjadi teladan, nilai yang diajarkan tidak akan efektif.
Kunci Cegah Bullying Ada pada Akhlak
Islam telah memberikan solusi yang jelas, bangun akhlak sebelum menghukum perilaku.
Jika anak dibesarkan dengan adab, empatiLisan yang terjaga dan lingkungan yang baik, maka potensi menjadi pelaku bullying dapat dicegah sejak awal. Bullying bukan sekadar masalah anak, tetapi refleksi dari kualitas pendidikan dalam keluarga.













