MAKLUMAT — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyiapkan penanganan lanjutan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain menyalurkan bantuan darurat, ITS akan mengirim tim teknis ke lima kabupaten untuk menilai kondisi infrastruktur dan memperluas dukungan pemulihan.
“ITS mengerahkan dua tim pada tahap awal penanganan bencana, yakni tim yang membawa dan menyalurkan bantuan kemanusiaan serta tim yang melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan dan infrastruktur terdampak,” kata Rektor ITS Prof Dr Bambang Pramujati di Surabaya, Senin.
Menurut Bambang, pemeriksaan kondisi bangunan menjadi bagian penting dalam penanganan setelah gempa. Hasil asesmen diperlukan untuk menentukan bangunan yang masih aman digunakan serta bangunan yang membutuhkan perbaikan atau penanganan lebih lanjut.
“Karena gempa itu merusak gedung-gedung, sehingga kita harus tahu kira-kira gedung apa yang sudah tidak aman digunakan. Nanti pemerintah punya informasi yang lebih pasti apa yang harus dilakukan dalam perbaikan,” katanya.
Bambang mengatakan keterlibatan ITS tidak diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan darurat. Kapasitas akademik dan teknologi ITS juga akan digunakan untuk membantu proses pemulihan masyarakat dan infrastruktur di wilayah terdampak.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany, S.T., Ph.D., mengatakan kampusnya telah menyiapkan pengiriman tim berikutnya untuk memperluas cakupan penanganan.
“Di ITS sendiri juga akan mengalokasikan anggaran. Kita akan mengirimkan beberapa tim lagi. Di tahap kedua kita akan fokus di lima kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ende, Nagekeo, dan Sikka,” kata Fadlilatul.
Pada tahap kedua, ITS akan memperkuat distribusi kebutuhan pokok dan obat-obatan serta mendirikan posko yang mendukung operasional dapur umum. Program pemulihan trauma atau trauma healing juga disiapkan dengan melibatkan sivitas akademika, termasuk dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan.
Fadlilatul mengatakan bantuan yang disiapkan mencakup kebutuhan pokok, obat-obatan, dan vitamin. Jumlah bantuan akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat berdasarkan kondisi di lapangan.
Pada tahap awal, empat truk logistik telah diberangkatkan dengan target distribusi ke enam titik. Dalam pelaksanaannya, distribusi diperluas menjadi sembilan titik yang mencakup wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan sejumlah lokasi di Flores.
Bantuan tersebut terdiri atas sembako, tenda darurat, selimut, perlengkapan shelter, kebutuhan permukiman sementara, obat-obatan, serta logistik medis. Distribusi dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan di setiap lokasi.
Perwakilan Ikatan Alumni ITS (IKA ITS), Adi Dharma, mengatakan penanganan bencana tersebut melibatkan berbagai pihak, antara lain ITS, IKA ITS, alumni ITS di daerah, Yayasan Manarul Ilmi ITS (YMI ITS), pemerintah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), badan usaha milik negara (BUMN), dan sejumlah mitra.
Menurut Adi, kerja sama tersebut berjalan melalui dua jalur. Jalur kemanusiaan menangani distribusi logistik, sedangkan jalur teknis melakukan penilaian cepat terhadap infrastruktur strategis yang terdampak gempa.
“Model kolaborasi kita lintas kementerian ini dengan kolaborasi bantuan kemanusiaan, keahlian teknis yang dibina ITS,” ujar Adi.
Ketua YMI ITS Triyanto mengatakan pemulihan masyarakat terdampak gempa membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Bantuan pada fase darurat, menurut dia, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pemulihan dalam jangka panjang.
Karena itu, YMI ITS akan kembali menggalang donasi dari keluarga besar ITS, termasuk mahasiswa, alumni, dosen, dan karyawan.
“Ini butuh stamina yang panjang, karena kita tidak tahu harus melakukan treatment sampai berapa bulan. Otomatis ini membutuhkan dana yang sangat besar,” ujar Triyanto.
Ia berharap informasi mengenai kondisi korban gempa dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga dukungan untuk proses penanganan dan pemulihan di NTT terus bertambah.













