Jumlah Rakaat Tarawih Berapa? Ini Penjelasan Muhammadiyah soal Asal-usul Tarawih dan Dalilnya

Jumlah-rakaat-tarawih-

MAKLUMAT — Jumlah rakaat tarawih berapa sering menjadi pertanyaan umat Islam setiap memasuki Ramadan. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan asal-usul istilah tarawih serta dasar penetapan jumlah rakaat salat malam Ramadan menurut hadis sahih.

Menurut Syamsul, istilah “tarawih” sebenarnya tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW maupun di era para Sahabat. Dalam kitab-kitab klasik seperti al-Muwaththa karya Imam Malik dan al-Umm karya Imam Syafii, istilah tersebut tidak ditemukan. Penyebutan “tarawih” muncul pada periode berikutnya, salah satunya dalam karya Imam al-Marwadzi.

Pada masa Rasulullah SAW, ibadah ini lebih dikenal sebagai qiyam Ramadan, yaitu salat malam yang dikerjakan khusus pada bulan Ramadan. Pendapat Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menegaskan bahwa qiyam Ramadan dan salat tarawih memiliki makna yang sama.

Apakah Tarawih 8, 11, atau 20 Rakaat?

Perdebatan jumlah rakaat tarawih sering muncul karena adanya praktik berbeda di masyarakat. Sebagian menjalankan 20 rakaat, sementara lainnya 11 rakaat.

Syamsul menjelaskan hadis yang sering dijadikan dasar tarawih 20 rakaat berasal dari riwayat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan disebut dalam karya al-Thabarani.

Namun mayoritas ulama hadis menilai riwayat tersebut dhaif bahkan sebagian menyebutnya mungkar, sehingga tidak tercantum dalam kitab hadis utama seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Muhammadiyah menetapkan jumlah rakaat tarawih sebanyak 11 rakaat berdasarkan hadis sahih dari Aisyah RA yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

Dalam hadis tersebut, Aisyah menjelaskan Rasulullah SAW tidak pernah menambah salat malam lebih dari sebelas rakaat, baik pada Ramadan maupun di luar Ramadan.

Riwayat itu menerangkan Nabi melaksanakan 4 rakaat pertama, 4 rakaat berikutnya, dan 3 rakaat witir. Pola inilah yang dijadikan rujukan Muhammadiyah dalam pelaksanaan salat tarawih.

Mengapa Istilah Tarawih Baru Muncul Belakangan?

Syamsul menegaskan istilah tarawih berkembang dalam tradisi fikih setelah masa Nabi. Secara substansi, ibadahnya tetap sama dengan qiyam Ramadan, yaitu salat malam pada bulan Ramadan.

Karena itu, perbedaan jumlah rakaat yang berkembang di masyarakat dipahami sebagai bagian dari khazanah fikih Islam.

Penjelasan tersebut sejalan dengan panduan dalam buku Paham Hisab Muhammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan yang diterbitkan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Muhammadiyah menegaskan penetapan 11 rakaat didasarkan pada hadis sahih serta upaya mengikuti praktik Rasulullah SAW secara lebih dekat.***