Kader IMM Terpilih Menjadi Ketua DPW Laskar Gibran DKI Jakarta

MAKLUMAT — Ahmad Nabil, seorang Kader IMM terpilih menjadi Ketua DPW Laskar Gibran DKI Jakarta, Selasa (13/1/2026). Ia terpilih setelah melalui serangkaian tahapan konsolidasi internal, diskusi visi, serta kepercayaan dari pengurus pusat dan anggota-anggota.

Ia menjelaskan bahwa Laskar Gibran sendiri adalah organisasi kepemudaan, bukan relawan politik musiman maupun sekadar komunitas informal. Organisasi ini hadir sebagai wadah bagi anak muda untuk terlibat aktif dalam pembangunan bangsa, mendukung kepemimpinan nasional secara kritis dan konstruktif, serta menjadi jembatan aspirasi masyarakat.

“Visi organisasi ini adalah untuk mewujudkan generasi muda yang progresif, nasionalis, dan berdaya saing, serta berperan aktif dalam pembangunan nasional,” jelasnya kepada wartawan Maklumat.id pada Rabu (14/1/2026).

Ia mengenal Laskar Gibran melalui ruang-ruang diskusi anak muda di Jakarta yang menginginkan politik yang lebih inklusif, membumi, dan tidak elitis. Motivasinya bergabung pun sederhana, yakni anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pengambilan kebijakan publik.

“Saya melihat Laskar Gibran sebagai ruang kaderisasi dan pengabdian, bukan sekadar simbol dukungan politik. Bagi saya, ini adalah amanah untuk membuktikan bahwa organisasi kepemudaan dapat bekerja secara nyata, terukur, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Milad ke-62 IMM: "Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia" Bukan Cuma Slogan

Laskar Gibran memiliki struktur organisasi mulai dari tingkat pusat hingga wilayah dan daerah. Nabil menjelaskan bahwa organisasi ini telah terbentuk di berbagai provinsi serta kabupaten/kota di Indonesia, dengan anggota yang berasal dari kalangan mahasiswa, aktivis, hingga profesional muda. Jumlah anggotanya secara nasional mencapai ribuan dan terus berkembang.

Dari Aceh ke Jakarta

Sebelum menjadi mahasiswa, Nabil sudah terlebih dahulu merantau ke Jakarta dengan untuk mencari kerja dan mengubah nasib. Jakarta lantas menyambutnya dengan keras. Ia mendapatkan banyak tantangan, mulai dari persaingan yang ketat hingga biaya hidup yang tinggi.

“Hingga awal 2020, saya masih bertahan di Jakarta. Namun badai besar datang, Pandemi COVID-19. Situasi ekonomi memburuk, lapangan pekerjaan menyempit, dan akhirnya memutuskan kembali ke Aceh,” jelasnya.

Pada tahun 2020, atas dorongan keluarga, Nabil memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) di Kota Banda Aceh. Selama kuliah, ia aktif dalam organisasi kampus dan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengerjakan berbagai pekerjaan yang tersedia bagi mahasiswa perantau.

“Alhamdulillah kepercayaan mulai datang. Akhirnya dipercaya beberapa rekan untuk mengelola berbagai proyek, mulai dari bidang properti hingga industri lainnya. Dari sini ya mulai membangun relasi yang lebih luas, terutama di dunia bisnis, sosial, dan politik,” jelasnya.

Baca Juga  Pesan Ketua PWM Jatim Agar Siapkan Kader Secara Serius untuk Berdiaspora di Pemerintahan

Hingga Maret 2024, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam 3,5 tahun dengan predikat cumlaude. Menjelang akhir 2024, dengan restu keluarga dan para senior, ia kembali berangkat ke Jakarta. Namun kali ini modalnya menjadi tiga, yakni ilmu, relasi, dan gelar.

Dengan modal baru tersebut, ia lantas mampu menembus lingkaran strategis hingga tinggal dan beraktivitas di wilayah elit Jakarta Pusat, kawasan para pengambil keputusan. Kepercayaan besar kembali datang hingga dipercaya mengelola dan membesarkan organisasi Laskar Gibran.

Diaspora Kader IMM

Saat berkuliah di kampusnya, Nabil tergabung ke dalam IMM Fakultas Hukum UNMUHA. Baginya, IMM menjadi ruang awal belajar tentang nilai, ideologi gerakan, dan kepemimpinan. Dari sini juga ia belajar mengenai pentingnya diaspora kader IMM.

“Proses kaderisasi di IMM membentuk cara berpikir kritis, sekaligus menekankan etika dalam menyampaikan kritik. Semua kegiatan ini dilakukan dengan berpegang pada keberpihakan terhadap umat dan bangsa,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa IMM mengajarkan bahwa aktivisme tidak boleh berhenti pada wacana, tetapi harus berujung pada aksi dan memberi manfaat bagi masyarakat. Nilai-nilai inilah yang terus dibawanya hingga saat ini dalam ruang kepemudaan dan politik.

Baca Juga  Diaspora Kader Muhammadiyah: Bukti Nyata untuk Bangsa

“Selama kader IMM tetap menjaga integritas, etika, dan keberpihakan pada rakyat, maka keterlibatan mereka di berbagai medan perjuangan justru menjadi bentuk lanjutan dari dakwah dan pengabdian, bukan pengkhianatan terhadap nilai organisasi,” jelasnya.

Nabil juga menekankan bahwa diaspora kader IMM adalah kekuatan besar yang sering kali belum disadari sepenuhnya. Kader IMM yang menyebar di berbagai sektor, baik di politik, birokrasi, dunia usaha, maupun gerakan sosial adalah aset strategis bangsa.

“IMM tidak hanya mencetak kader untuk ruang kampus, tetapi melahirkan individu-individu yang memiliki daya juang, nalar kritis, dan nilai ideologis yang kuat. Sebuah hal yang sangat dibutuhkan dalam dunia perjuangan sosial, politik, dan kebangsaan,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa perjuangan hari ini tidak cukup hanya dengan idealisme, tetapi juga membutuhkan kehadiran kader di pusat-pusat pengambilan keputusan. Di sinilah peran diaspora IMM menjadi penting. “Kita harus membawa semangat intelektual dan moral ke ruang-ruang strategis, termasuk dalam gerakan politik anak muda seperti Laskar Gibran ini,” tandasnya.