Kader Muhammadiyah Raih Penghargaan AIOS 2026 di India, Ini Sepak Terjang Prof Budu

MAKLUMAT — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof Budu menerima penghargaan Internasional dalam Annual Meeting All India Ophthalmological Society (AIOS) 2026 di Kota Jaipur, India.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kepeduliannya dalam mendorong upaya pemberantasan kebutaan sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Dokter Mata Indonesia atau PP PERDAMI.

“Upaya pemberantasan kebutaan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi antarnegara, antarorganisasi profesi, dan jejaring internasional agar target Sight 2030 dapat tercapai,” ujar Prof Budu dalam acara yang digelar di Jaipur Exhibition and Convention Centre pada Kamis-Ahad, (12-15/3/2026).

Prof Budu menegaskan bahwa penghargaan ini bukan semata penghormatan pribadi. Penghargaan ini justru mencerminkan apresiasi internasional terhadap kerja panjang komunitas dokter mata Indonesia dalam memperluas pelayanan, edukasi, hingga advokasi kebijakan di bidang kesehatan mata.

Annual Meeting AIOS sendiri merupakan salah satu forum ilmiah oftalmologi terbesar di kawasan. Penghargaan yang diterima Prof Budu ini menjadi simbol bahwa kontribusi Indonesia dalam pemberantasan kebutaan telah memperoleh pengakuan yang semakin luas.

Hadiri Sight 2030

Kehadiran Prof Budu di India juga dalam rangka mengikuti agenda strategis lainnya. Agenda itu adalah penandatanganan deklarasi bersama India, Indonesia, Nepal, dan Sri Lanka dalam gerakan pemberantasan kebutaan yang bertajuk Sight 2030.

Deklarasi tersebut mempertegas komitmen lintas negara untuk menekan angka kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah. Kerja sama itu mencakup penguatan layanan kesehatan mata, pencegahan, edukasi, dan dukungan kelembagaan.

“Keterlibatan Indonesia dalam deklarasi tersebut menunjukkan posisi aktif Indonesia dalam agenda kesehatan mata internasional. Indonesia, kini juga telah menjadi bagian dari International Agency for the Prevention of Blindness, jejaring global yang berfokus pada pencegahan kebutaan dan gangguan penglihatan,” katanya.

Jejak Pengabdian

Prof Budu adalah Guru Besar dan pakar retina bertaraf internasional dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas). Pria kelahiran Maros, Sulawesi Selatan itu menyelesaikan Pendidikan Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Unhas pada 1993.

Setelah lulus, ia menjalani masa pengabdian sebagai dokter puskesmas di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Kepekaan sosialnya semakin terasah melalui pengalaman ini. Terlebih, puskesmas tersebut areanya meliputi pulau-pulau kecil.

Minatnya dalam ilmu kesehatan mata, membawa Prof Budu menempuh studi doktoral di Toyama Medical and Pharmaceutical University di Jepang hingga meraih PhD pada 2002.

Sepulangnya ke tanah air, ia menempuh Pendidikan Dokter Spesialis Mata di Unhas sembari terlibat dalam pengembangan kurikulum pembelajaran Student Center Learning (SCL).

Prof Budu juga melengkapi keahlian dengan pelatihan bedah mata di RS Ciptomangungkusumo Jakarta. Ia juga menambah perspektif dengan menempuh magister bidang Medical Education di Universitas Gadjah Mada.

Pada tahun 2008, ia resmi menyandang gelar konsultan Mata Khusus Vitreoretina dari Kolegium Oftalmologi Indonesia. Pada tahun tersebut, ia tengah dipercaya sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Prof Budu juga mendalami penyakit genetik molekuler mata (seperti Mutasi Gen Rhodopsin dan Gen Peripherin/RDS pada Pasien dengan Retinitis Pigmentosa) dan telah menulis beberapa publikasi ilmiah bertaraf internasional.

Mengabdi dari Bawah

Di Unhas sendiri, ia mengabdi mulai dari struktural paling bawah. Ia pernah menjadi pengelola mahasiswa di departemen, Kepala Departemen Pendidikan Kedokteran, Ketua Medical Education Unit, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran, hingga Wakil Rektor.

Saat pandemi COVID-19 melanda dunia, ia juga berhasil memimpin Fakultas Kedokteran Unhas dalam masa yang penuh krisis. Kini sejak tahun 2022, ia dipercaya sebagai Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas.

Prof Budu juga dikenal sebagai salah satu kader terbaik yang dimiliki Muhammadiyah. Selain mendapat amanah sebagai Wakil Ketua PWM Sulawesi Selatan, ia juga adalah Anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah.

Selain itu, ia kini juga adalah Ketua Umum PP PERDAMI. Sebelumnya pada 2019–2022, ia mendapat amanah sebagai Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Periode, forum strategis yang menghimpun fakultas kedokteran se-Indonesia.

Berbagai penghargaan pernah diterimanya. Salah satunya pada tahun 2010, ia mendapat Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia.

Pada 2019, Asia-Pacific Academy of Ophthalmology menganugerahinya International Distinguished Service Award, sebuah pengakuan internasional atas dedikasinya pada pengembangan oftalmologi di kawasan Asia-Pasifik.