Kecam Invasi Militer ke Venezuela, Rusia–China Desak AS Bebaskan Nicolas Maduro

Kecam Invasi Militer ke Venezuela, Rusia–China Desak AS Bebaskan Nicolas Maduro

MAKLUMAT — Rusia dan China secara tegas mengecam operasi militer Amerika Serikat ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Kedua negara mendesak Washington segera membebaskan Maduro dan menghentikan tindakan yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Ahad (4/1/2026) menyatakan Beijing “sangat terkejut dan sangat prihatin” atas laporan bahwa AS mengirim pasukan ke Venezuela pada 3 Januari lalu untuk menangkap Maduro dan memindahkannya ke luar negeri. China menilai langkah tersebut melanggar kedaulatan Venezuela, norma dasar hubungan internasional, serta tujuan dan prinsip Piagam PBB.

“China menyerukan kepada Amerika Serikat untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, segera membebaskan mereka, menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela, dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi,” kata juru bicara tersebut, seperti dikutip Global Times.

Beijing juga mengecam keras apa yang disebutnya sebagai “tindakan hegemonik” dan “penggunaan kekuatan secara terang-terangan” oleh AS terhadap negara berdaulat di Amerika Latin. Menurut China, aksi militer tersebut mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Kecaman serupa datang dari Rusia. Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dilansir The Moscow Time menyebut serangan AS sebagai “agresi bersenjata” dan mendesak pembebasan segera Maduro dan istrinya dari tahanan AS. Dalam pernyataan resmi, Moskow meminta Washington mempertimbangkan kembali langkahnya dan menyelesaikan krisis melalui jalur diplomasi.

Baca Juga  DPRD Jatim Kritisi Ketimpangan BPOPP Sekolah Negeri dan Swasta, Sri Untari: Harus Setara

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga dilaporkan telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez Gómez, menyampaikan solidaritas Rusia kepada rakyat Venezuela dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi militer.

Seperti diberitakan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer Amerika Serikat melakukan “serangan skala besar” terhadap Venezuela, Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu Caracas. Trump mengklaim Maduro dan istrinya ditangkap dengan dukungan penegak hukum AS dan diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan pidana federal. Trump bahkan mengunggah foto Maduro di atas kapal perang USS Iwo Jima di media sosial.

Aksi militer AS tersebut memicu reaksi luas dari komunitas internasional. Sejumlah negara berhaluan kiri di Amerika Latin mengecam keras langkah Washington, sementara beberapa pemerintahan sayap kanan di kawasan itu justru menyambutnya.

Selain China dan Rusia, Korea Utara mengutip laporan Al Jazeera, juga mengecam tindakan AS sebagai “pelanggaran kedaulatan paling serius”. Sementara Korea Selatan menyerukan de-eskalasi dan menahan diri dari semua pihak.

China dan Rusia menegaskan akan terus memantau perkembangan di Venezuela. Meski demikian, para analis menilai respons Beijing kemungkinan akan terbatas pada tekanan diplomatik, mengingat kepentingan strategis dan ekonomi China di kawasan Amerika Latin, termasuk sektor energi Venezuela.

Namun bagi Beijing dan Moskow, penangkapan Presiden Venezuela oleh kekuatan asing dianggap sebagai preseden berbahaya yang dapat merusak tatanan internasional dan memperdalam ketegangan geopolitik global.***

Baca Juga  Dua Roket Katyusha Hantam Pangkalan Udara AS di Irak, Lukai 5 Tentara
*) Penulis: Edi Aufklarung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *