21.5 C
Malang
Kamis, Februari 27, 2025

Dosen FKIP Uhamka Latih Guru Kembangkan Growth Mindset

PCM Senen menggandeng Uhamka untuk meningkatkan growth mindset kepada para guru guna mendorong kesuksesan pelajar melalui tenaga pendidik.
KilasKetum PP Aisyiyah Gaungkan Kedaulatan Pangan, Sentil Soal Kesenjangan Sosial di Indonesia

Ketum PP Aisyiyah Gaungkan Kedaulatan Pangan, Sentil Soal Kesenjangan Sosial di Indonesia

Aisyiyah
Ketum PP Aisyiyah Salmah Orbayinah saat sinau bareng bersama Kiai Kanjeng di Yogyakarta, Selasa (25/2/2025). (Foto: Lia/ IST)

MAKLUMATKetum PP Aisyiyah, Dr. Salmah Orbayinah, M.Kes., menegaskan pentingnya kedaulatan pangan sebagai salah satu isu strategis Aisyiyah untuk pemerataan ekonomi.

Menurutnya, dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 60 ayat yang membahas tentang buah dan sayur, termasuk kurma berbiji banyak serta tanaman pangan lainnya. Hal ini menjadi dasar bagi Aisyiyah untuk mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kedaulatan pangan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara “Sinau Bareng Kiai Kanjeng” di Sportorium UMY, Selasa (25/2/2025), yang mengangkat tema Daulat Pangan untuk Kemanusiaan. Acara ini mengupas isu pangan, keadilan sosial, dan politik dalam kebijakan pangan Indonesia.

Dr. Salmah mengungkapkan bahwa Aisyiyah telah melakukan tiga langkah konkret dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Pertama, Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah (GLHA), yaitu pemanfaatan lahan sempit untuk menanam buah dan sayur.

Kedua, hasil dari GLHA dimanfaatkan untuk makanan bergizi bagi masyarakat. Ketiga, edukasi pengelolaan sampah rumah tangga agar lebih ramah lingkungan.

“Kedaulatan pangan bukan hanya urusan petani, tapi tanggung jawab semua pihak. Kita bisa mulai dari hal kecil, seperti menanam di pekarangan sendiri,” ujar Dr. Salmah.

Turut hadir dalam acara ini, Dr. M. Nurul Yamin, M.Si, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah. Ia menyoroti kesenjangan sosial dalam distribusi pangan dengan mengutip Surah Al-Ma’un.

Untuk mengatasi hal tersebut, Muhammadiyah membentuk Jamaah Tani Muhammadiyah dan Jamaah Nelayan Muhammadiyah. Dua organisasi ini bersifat inklusif bagi siapa saja yang peduli terhadap pertanian dan kelautan.

“Kami ingin membangun gerakan kultural yang bisa jadi solusi bagi masalah pangan, bukan hanya dari aspek ekonomi dan politik, tapi juga teknologi pangan,” katanya.

Pahlawan Nelayan Sentil Pernyataan Prabowo

Momen panas terjadi saat Kholid, yang dijuluki Pahlawan Nelayan Banten, menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan Presiden Prabowo. “Hari ini saya mau ngomong kepada Pak Presiden. Apa dasar Pak Prabowo bilang ‘Hidup Jokowi’? Kok seolah-olah tanpa Jokowi, Bapak nggak jadi presiden? Apa motivasinya bicara begitu?” ujar Kholid lantang di hadapan peserta diskusi.

Pernyataan ini langsung disambut riuh oleh audiens, menandakan bahwa isu pangan memang tidak bisa dilepaskan dari politik dan kebijakan pemerintah. Acara ini juga dimeriahkan oleh musisi Sabrang Mowo Damar Panuluh (Neo Letto), yang membawakan lagu-lagu bernuansa perjuangan.

Sementara itu, Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, MA., Ketua Lembaga Hikmah Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, membacakan puisi yang menggambarkan realitas ketidakadilan dalam distribusi pangan di Indonesia.

Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc, juga menegaskan bahwa isu pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga distribusi yang adil. Sebagai penutup, Busro Muqoddas menekankan bahwa acara ini bukan sekadar diskusi, tapi bagian dari gerakan kultural yang membawa aspirasi umat dengan pendekatan budaya.

Dengan sentuhan seni dan musik, diharapkan pesan kedaulatan pangan lebih mudah menyentuh hati masyarakat. Diskusi ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk semakin sadar bahwa kedaulatan pangan adalah kunci bagi masa depan Indonesia yang lebih adil dan berkelanjutan.

_________

Penulis: Lailatun Ni’mah

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ads Banner

Lihat Juga Tag :

Populer