MAKLUMAT — Kiprah pendidikan lintas negara dari Blitar mengantarkan Wakil Rektor UNISBA Dr. Drs. Supriyono, M.Ed., meraih penghargaan tingkat Asia.
Supriyono menerima Asian Education & Academic Impact Leadership Awards 2026 yang diberikan oleh World Achievement Association bekerja sama dengan Majalah Penghargaan Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam seremoni di Hotel Sheraton Surabaya pada 24 Januari 2026. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi panjang Supriyono dalam pengembangan pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan kewirausahaan bagi mahasiswa dan pelaku UMKM.
Bagi Universitas Islam Balitar, penghargaan ini menjadi capaian penting dalam perjalanan kampus yang mengusung konsep The Entrepreneurial University. Sebelumnnya, UNISBA juga mencatat sejarah dengan mengukuhkan profesor pertama, yakni Prof. Dr. Suyitno, M.Pd.
Supriyono menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menilai pengalaman pendidikan lintas negara memberinya pelajaran tentang makna kepemimpinan.
“Kepemimpinan sejati bukan hanya tentang jabatan, melainkan tentang memberi cahaya, membuka peluang, dan menginspirasi generasi muda untuk menjadi pribadi yang berwawasan global dengan tetap berpijak pada kearifan lokal,” ujar Dr. Supriyono kepada Maklumat.id, Sabtu (14/3/2026).
Ia mempersembahkan penghargaan tersebut kepada komunitas pendidikan, mahasiswa, pesantren, pelaku UMKM, serta berbagai organisasi sosial dan keagamaan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Menurutnya, kepemimpinan transformasional dan filantropis yang dibangun bersama berbagai pihak diharapkan dapat memberi kontribusi bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia
Jejak Pendidikan Lintas Negara
Perjalanan Supriyono di dunia pendidikan dimulai dari Blitar pada awal 1980-an. Ia pernah menjadi guru madrasah dan SMP pada periode 1983–1985. Pengalaman internasionalnya dimulai saat menjadi asisten guru seni dan ilmu sosial di Dryden High School, Kanada pada 1986.
Setahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan menjadi sukarelawan guru di SDN Jokoh, Pagar Alam, Sumatera Selatan. Karier akademiknya berlanjut sebagai asisten dosen Program Studi Bahasa Inggris di STKIP PGRI Blitar pada 1988–1991. Selain mengajar, ia aktif membina organisasi kemahasiswaan.
Pada 1992–1994, ia menjadi dosen di IKIP PGRI Malang sekaligus menjabat Kepala Subbagian Kemahasiswaan bidang minat dan bakat. Pada 1992, ia juga terlibat sebagai Protocol Officer dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok ke-10 di Jakarta sebelum melanjutkan studi di Australia.
Sepulang dari Australia, ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI Malang serta Wakil Ketua Bidang Akademik STIBA Kanjuruhan Malang. Pada 1995–1996, ia kembali menjalani pengalaman internasional di Australia. Ia menjadi peneliti dan pengajar Bahasa Indonesia di sejumlah sekolah dasar di Victoria.
Ia juga mengajar di La Trobe Language Center serta menjadi guru Bahasa Indonesia di Ivanhoe Grammar School. Di Melbourne, ia aktif dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia, menjadi editor majalah Indonesia Today, serta tamu siaran di Radio SBS Melbourne.
Karier dari Papua ke Kampus
Perjalanan karier Supriyono kemudian berlanjut di PT Freeport Indonesia pada 1997–2011. Di perusahaan tersebut, ia menjalankan berbagai peran dalam pengembangan sumber daya manusia, mulai dari trainer Literacy and Language Program, supervisor pelatihan bahasa, hingga memegang sejumlah posisi dalam program pelatihan kepemimpinan.
Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Jaya Wijaya dan memimpin Tomawin Dormitory. Sejak 2012, Supriyono bergabung sebagai dosen di Universitas Islam Balitar. Ia turut merancang berbagai inovasi pengembangan kampus menuju konsep entrepreneurial university.
Di UNISBA, ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan serta Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Sistem Informasi sebelum akhirnya menjabat Wakil Rektor III hingga sekarang.
Pemberdayaan UMKM dan Kolaborasi Global
Selain aktif di bidang akademik, Supriyono juga terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya pengembangan UMKM di Blitar.
Ia aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan serta organisasi profesional di tingkat regional maupun nasional.
Kerja sama internasional juga menjadi bagian dari kiprahnya. Ia menjalin kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan luar negeri, di antaranya St John College dan Charles Darwin University di Australia.
Melalui Universitas Islam Balitar, kerja sama tersebut berkembang dengan perguruan tinggi di Kanada, Thailand, Malaysia, India, hingga Australia.
Supriyono juga mendirikan lembaga pelatihan dengan program G*GOLD Way yang telah melatih lebih dari 28.000 peserta di berbagai kota di Indonesia. ***













