Kisah dr Melinda, Nyaris Pingsan Layani Ratusan Korban Gempa NTT Hingga Dibantu Muhammadiyah

dr melinda

MAKLUMAT — Di tengah kepanikan warga setelah gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), dr Melinda Bella tetap berada di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur. Pasien terus berdatangan, sementara tenaga medis yang tersedia sangat terbatas.

Tubuhnya mulai kelelahan. Bahkan, dr Melinda disebut hampir pingsan ketika harus terus memberikan pelayanan kepada banyak korban gempa.

Namun, pelayanan tidak boleh berhenti. Di tengah keterbatasan itu, dr Melinda tetap menangani pasien yang membutuhkan pertolongan.

Bagi seorang dokter, bencana menghadirkan situasi yang tidak biasa. Pasien datang dalam jumlah besar pada waktu yang hampir bersamaan, sementara fasilitas dan tenaga kesehatan tidak selalu mencukupi. Kondisi itu pula yang dialami dr Melinda.

Ia harus tetap berkonsentrasi memberikan pelayanan ketika fisiknya mulai terkuras. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa di balik jas dokter yang selama ini terlihat tegar, ada manusia yang juga bisa kelelahan.

Tetapi dalam situasi darurat, kebutuhan banyak pasien hingga mencapai ratusan membuat tenaga kesehatan harus terus bertahan.

Perjuangan tersebut kemudian diketahui melalui chat dr Melinda dari grup Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Informasi dr Melinda harus menangani banyak pasien seorang diri, mendorong Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerjunkan satu dokter dan dua perawat ke Puskesmas Dampek.

Baca Juga  Gus Bachtiar Dorong Muhammadiyah Perkuat Perkaderan Kultural

Tim MDMC yang bersertifikat WHO itu bergerak setelah mendapat informasi mengenai keterbatasan tenaga medis dalam menangani lonjakan pasien pascagempa.

“Saya sangat kelehan berat menangani ratusan pasien korban gempa sendirian. Saya harus bertahan meski nyaris pingsan. Puji Tuhan sudah dibantu dokter dari Muhammadiyah, terima kasih,’’kata dr Melinda.

Kehadiran tim Muhammadiyah menjadi dukungan penting bagi dr Melinda yang sebelumnya harus memberikan pelayanan kepada banyak pasien dengan tenaga kesehatan yang sangat terbatas. Kehadiran tim tersebut membuat dr Melinda tidak lagi menghadapi lonjakan pasien seorang diri. Kisah ini pun viral media sosial.

“Kami bergeser ke Dampek untuk membantu dr. Melinda dengan satu dokter dan dua perawat,” ujar dr. Baim dari MDMC.

Bawa Obat dan Logistik Medis

Tim medis Muhammadiyah tidak hanya menambah tenaga pelayanan. Mereka juga membawa obat-obatan dan logistik medis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa.

Tim memberikan pelayanan kepada pasien di Puskesmas Dampek sekaligus membantu menangani korban yang membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.

Sebanyak tiga pasien dengan kondisi patah tulang telah dievakuasi dan dirujuk ke RSUD Borong untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Baca Juga  Menyogok untuk Meraih Hak Dibolehkan: Sebuah Penjelasan

Pendampingan tim medis Muhammadiyah masih berlangsung. Mereka terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan setempat untuk menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan korban di lapangan.

Ketika Beban Tenaga Kesehatan Terbagi

Kisah dr Melinda memperlihatkan sisi lain dari penanganan bencana. Ketika jumlah korban meningkat, kebutuhan terhadap tenaga medis ikut melonjak. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan tenaga kesehatan tambahan menjadi sangat penting.

Bantuan Muhammadiyah tidak hanya berarti tambahan satu dokter dan dua perawat. Kehadiran mereka juga membuat pelayanan kesehatan di Puskesmas Dampek tidak lagi bertumpu pada satu orang.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam situasi darurat. Pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar korban bencana mendapat pertolongan secara cepat dan berkelanjutan.

Di Balik Gempa, Ada Kisah Dokter yang Bertahan

Gempa sering diberitakan melalui angka korban, jumlah bangunan rusak, atau banyaknya bantuan yang dikirim. Namun, di balik angka-angka tersebut ada orang-orang yang bekerja dalam diam. dr. Melinda adalah salah satunya.

Ia berada di garis depan ketika korban membutuhkan pertolongan. Ia tetap melayani meski tubuhnya hampir menyerah. Dan ketika tenaganya membutuhkan dukungan, tenaga medis lain datang untuk berdiri di sampingnya.

Baca Juga  Arsitektur Perlawanan Muhammadiyah

Kisah ini menunjukkan bahwa penanganan bencana bukan hanya tentang seberapa banyak bantuan yang dikirim. Ada pula tentang bagaimana orang-orang saling menopang agar tidak ada yang harus berjuang sendirian.

Bantuan Muhammadiyah akhirnya bukan sekadar tambahan tenaga medis. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, seorang dokter yang berada di garis depan juga membutuhkan seseorang untuk membantunya berdiri.