KKN Internasional UMM Sentuh Anak PMI di Malaysia agar Tak “Kenyang di Perut, Lapar di Ilmu”

Dr. Nasrullah (tengah, berkacamata) mendampingi KKN Internasional UMM di Malaysia.

MAKLUMAT — Program KKN Internasional UMM kembali menyentuh masyarakat Indonesia di luar negeri. Sebanyak 11 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengunjungi Sanggar Bimbingan (SB) Kubu Gajah di Selangor, Malaysia, Selasa (28/7/2026). Jauh dari kesan sekolah yang megah, sanggar ini menjadi ruang belajar darurat bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang belum terjangkau pendidikan formal. Tanpa bangku yang memadai, apalagi fasilitas modern seperti smartboard, puluhan anak tetap belajar dengan penuh semangat demi memperoleh hak atas pendidikan.

Puluhan anak berusia 4 hingga 14 tahun tampak belajar di beberapa bilik bersekat tripleks. Mereka duduk lesehan beralas karpet seadanya. Sebagian menggunakan meja duduk tanpa kursi, sementara lainnya belajar tanpa meja. Dari wajah mereka terpancar semangat yang sama, yakni ingin belajar.

Tempat belajar itu bernama SB Kubu Gajah, mengikuti nama kampung tempat sanggar pertama kali didirikan. Meski kini telah dipindahkan ke Kampung Sungai Plong karena lokasi lama kerap dilanda banjir, nama Kubu Gajah tetap dipertahankan.

“SB Kubu Gajah berdiri sejak 2023. Walau pindah ke sini, nama Kubu Gajah tetap kami gunakan karena nama ini terdaftar di SIKL,” ungkap perintis sanggar, Ida Muhtar.

Sanggar tersebut berada di dalam kawasan pabrik pengolahan kayu di Lot 182 Jalan Batu Bata, Kampung Sungai Plong, Selangor. Suara anak-anak bernyanyi dan belajar kerap bersahutan dengan deru mesin gergaji dari pabrik. Namun, kondisi itu tidak mengurangi semangat mereka mengikuti proses pembelajaran.

Baca Juga  P2KK Batch 9 UMM: Cetak Mahasiswa Unggul, Berkarakter, dan Berjiwa Pemimpin

Sanggar Bimbingan merupakan lembaga binaan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN). Di Malaysia, pembinaannya berada di bawah Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) sebagai upaya memenuhi hak pendidikan anak-anak Indonesia yang belum dapat mengakses sekolah formal.

SB Kubu Gajah menjadi sanggar ke-49 dari total 79 Sanggar Bimbingan yang tersebar di Malaysia. Saat ini terdapat 48 peserta didik mulai jenjang TK hingga SMP.

“Kami tidak sampai ke jenjang SMA karena diharapkan di usia itu anak-anak sudah kembali ke Indonesia dan bisa meneruskan sekolah di Tanah Air. Kami daftarkan nomor induk siswa (NIS) agar kelak kalau pulang bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya,” terang Ida.

Ida merintis sanggar bersama adiknya, Sinah Husen. Kakak beradik asal Sumenep, Jawa Timur, itu telah puluhan tahun bekerja di Malaysia. Mereka terdorong mendirikan sanggar setelah melihat banyak anak PMI yang terlantar pascapandemi Covid-19.

Sebagian besar peserta didik SB Kubu Gajah diasuh oleh orang lain setelah ditinggal orang tua mereka bekerja. Karena para pengasuh juga merupakan pekerja migran, anak-anak tersebut tidak memperoleh akses pendidikan yang layak.

“Mereka ini kenyang di perut, tapi lapar di ilmu,” tutur Ida saat menerima rombongan mahasiswa KKN internasional UMM yang didampingi dosen pembimbing lapangan (DPL), Nasrullah.

Menurut Sinah, kemampuan akademik anak-anak sangat beragam. Sebagian sudah mampu membaca, tetapi banyak pula yang belum mengenal huruf maupun angka.

“Setelah belajar di SB, kini mereka terpetakan bahwa ada anak-anak yang pandai membaca, tapi lebih pandai berhitung atau sebaliknya,” jelasnya.

Selain persoalan akademik, lingkungan tempat mereka tumbuh juga memengaruhi pembentukan karakter. Anak-anak terbiasa berinteraksi dengan orang dewasa sehingga kerap belum memahami sopan santun maupun tata cara beribadah.

“Itulah sebabnya kami juga mengajarkan adab. Mulai dari cara berjalan di depan orang yang lebih tua, tata cara makan, bersalaman, bila perlu saya minta untuk membungkuk atau mengesot melewati guru,” ujar Ida.

Menurutnya, pendekatan tersebut bukan untuk menanamkan budaya feodal, melainkan melatih pengendalian diri serta membentuk sikap hormat kepada orang lain.

Baca Juga  Learning Express: Laboratorium Sosial di Antara UMM dan Singapura

Ida mengaku kehadiran mahasiswa KKN dari Indonesia sangat membantu proses pembelajaran. Selama ini sejumlah perguruan tinggi secara bergantian mengirim mahasiswa setelah memperoleh izin dari SIKL.

“Mahasiswa KKN banyak membantu mengajar, termasuk mengaji dan salat,” ungkap Ida yang mengaku akrab dengan kultur Muhammadiyah karena pernah aktif di Partai Amanat Nasional (PAN) bersama Amien Rais ketika tinggal di Yogyakarta.

Koordinator mahasiswa KKN UMM, Muhammad Arya Dwipa Ananta, menjelaskan kelompoknya dibagi ke dalam beberapa tugas di SB Kubu Gajah. Arya, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, didampingi wakil ketua Finanda Salsa Fella Octavia, sekretaris Vika Julyanti Sundiasih, serta bendahara Andi Auliyah Shafirah.

Arya menunjuk Naura Venda Aulia sebagai koordinator pengajaran yang dibantu Mochamad Galuh Rachmadany dan Callista Jevira Wijaya.

“Ketiganya mahasiswa PGSD, jadi sangat memahami persoalan pembelajaran anak-anak,” kata Arya.

Selain itu, mahasiswa Psikologi Nur Rahmatia Luturlean melakukan observasi perilaku anak sekaligus memberikan pendekatan psikologis. Ia dibantu Andi Auliyah Shafirah, Mohammad Khodaifi Mubarak, dan Dian Nur Citra dalam kegiatan pembelajaran mengaji.

Riset Kondisi Peserta Didik

Sebelum terjun ke lapangan, tim KKN lebih dahulu melakukan riset awal mengenai kondisi peserta didik. Naura menjelaskan metode pembelajaran yang diterapkan disesuaikan dengan kurikulum Indonesia, tetapi dimodifikasi agar lebih menyenangkan.

“Karena kurikulumnya sama dengan di Indonesia, maka kami tinggal menyesuaikan saja dengan modifikasi metode pembelajaran yang menyenangkan,” katanya.

Selama satu bulan pelaksanaan KKN, Arya berharap mahasiswa tidak hanya membantu proses belajar mengajar, tetapi juga membangun pola pikir dan karakter anak-anak.

“Target kami selama sebulan di sini sudah bisa mengubah mindset anak-anak bagaimana cara belajar yang efektif dan perilaku yang sesuai adab keindonesiaan agar tidak hanya kenyang di perut, tapi lapar di ilmu,” pungkas Arya, koordinator kelompok KKN Dhirgantara.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Internasional UMM, Nasrullah, mengatakan program KKN Internasional menjadi salah satu bentuk pengabdian yang dikelola secara serius oleh UMM. Program tersebut tidak hanya menyasar masyarakat Indonesia di luar negeri, tetapi juga masyarakat lokal agar mahasiswa memiliki pengalaman berinteraksi lintas budaya.

“KKN Internasional ini memberi pengalaman wawasan sekaligus pengalaman internasional. Itulah sebabnya selain bersentuhan dengan anak-anak dan PMI, mahasiswa juga kami ajak untuk berkunjung ke kampus dan kedutaan di Malaysia,” pungkas Nasrullah.***