Krisis Iklim, Green Jobs dan Transisi Energi Bisa Jadi Masa Depan Karier

Syahrul Ramadan dari GreenFaith Indonesia menyampaikan pendekatan ekoteologi dan green jobs. Foto: Farah Adibah

MAKLUMAT — Krisis iklim tidak hanya menghadirkan ancaman ekologis, tetapi juga membuka peluang baru di sektor ketenagakerjaan. Konsep green jobs atau pekerjaan hijau kini dipandang sebagai bagian penting dari transformasi menuju ekonomi berkelanjutan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan Ruang Aksi Goes to Campus yang digelar di Kampus Universitas Saintek Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (25/2). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Universitas Saintek Muhammadiyah, Koaksi Indonesia, dan GreenFaith Indonesia.

Wakil Rektor I Universitas Saintek Muhammadiyah, Imam Suprapta, mendorong mahasiswa memperluas cara pandang dalam merencanakan masa depan karier. Ia menegaskan bahwa dunia kerja terus berubah seiring dinamika global, termasuk isu lingkungan dan transisi energi.

“Karier tidak selalu harus dimaknai secara sempit sebagai bekerja di sektor formal tertentu. Forum seperti ini menjadi ruang refleksi untuk menemukan posisi dan peran strategis mahasiswa di masa depan,” ujarnya.

Direktur Kemitraan Strategis dan Pengembangan Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menjelaskan bahwa meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim menuntut transformasi sistem ekonomi secara menyeluruh. Perubahan tersebut, kata dia, membuka ruang tumbuhnya sektor-sektor kerja baru yang berorientasi pada keberlanjutan.

Menurut Indra, green jobs memiliki tiga karakter utama: berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan, menyediakan pekerjaan yang layak dan adil, serta bersifat inklusif bagi berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian.

Baca Juga  Buku “Energi Terbarukan dalam Pandangan Islam”: Perspektif Baru tentang Energi Bersih dan Amanah Menjaga Bumi

“Mahasiswa adalah penggerak pembangunan masa depan. Green jobs bukan sekadar tren, tetapi bagian dari transformasi ekonomi menuju keberlanjutan,” tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, perspektif nilai keagamaan juga turut menguat. Syahrul Ramadan dari GreenFaith Indonesia mengangkat pendekatan ekoteologi, yakni cara pandang yang mengaitkan ajaran agama dengan tanggung jawab ekologis.

Ia memaparkan bahwa krisis lingkungan tidak cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis dan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kesadaran spiritual.

“Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Green jobs bisa menjadi salah satu bentuk konkret pengejawantahan nilai iman,” ungkapnya.