MAKLUMAT — Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros oleh Amerika Serikat pada awal Januari 2026 menandai puncak dari tekanan hukum, diplomatik, dan militer yang telah berlangsung hampir satu dekade. Meski secara resmi status buronan internasionalnya dimulai pada 2020, langkah Washington membidik Maduro sejatinya sudah berjalan jauh sebelumnya.
Berikut kronologi lengkap perburuan hukum Amerika Serikat terhadap Nicolas Maduro.
Awal Tekanan: Sanksi dan Isolasi Diplomatik (2017–2019)
Langkah awal Amerika Serikat dimulai pada 2017. Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi pribadi kepada Nicolas Maduro, termasuk pembekuan aset yang berada di bawah yurisdiksi AS. Sanksi tersebut dijatuhkan dengan alasan pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia di Venezuela.
Tekanan meningkat pada 2019. Setelah pemilihan presiden Venezuela yang dinilai tidak bebas dan tidak adil, AS secara resmi berhenti mengakui Maduro sebagai presiden sah Venezuela. Washington bersama lebih dari 50 negara lain mendukung pemimpin oposisi Juan Guaidó sebagai presiden sementara.
Dakwaan Pidana Resmi AS (Maret 2020)
Status Maduro berubah drastis pada 26 Maret 2020. Departemen Kehakiman Amerika Serikat secara resmi mendakwa Maduro bersama 14 pejabat tinggi Venezuela lainnya.
Maduro dituduh memimpin Cartel of the Suns (Kartel Matahari), sebuah jaringan perdagangan narkoba yang disebut melibatkan pejabat militer dan elite politik Venezuela. AS juga menuduh Maduro bekerja sama dengan kelompok gerilya Kolombia, FARC, yang telah ditetapkan sebagai Organisasi Teroris Asing.
Dakwaan tersebut mencakup narko-terorisme, konspirasi impor kokain ke Amerika Serikat, serta kepemilikan dan konspirasi penggunaan senjata api dan bahan peledak ilegal.
Hadiah Penangkapan: Dari US$15 Juta hingga US$50 Juta
Bersamaan dengan dakwaan itu, Departemen Luar Negeri AS menawarkan hadiah bagi siapa saja yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan atau penghukuman Maduro.
Pada 2020, hadiah awal ditetapkan sebesar US$15 juta. Angka tersebut dinaikkan menjadi US$25 juta pada Januari 2025. Selanjutnya, pada Agustus 2025, AS kembali menaikkan hadiah secara drastis menjadi US$50 juta atau setara lebih dari Rp800 miliar.
Kenaikan tersebut menyusul keputusan Departemen Keuangan AS pada Juli 2025 yang menetapkan Kartel Matahari sebagai Teroris Global yang Ditunjuk Secara Khusus. Maduro tercatat sebagai target pertama dalam sejarah Program Imbalan Narkotika AS dengan nilai hadiah melebihi US$25 juta.
Kontroversi Pemilu dan Isolasi Politik (2024)
Penolakan internasional terhadap Maduro kembali menguat setelah pemilihan presiden Venezuela Juli 2024. Maduro kembali mengklaim kemenangan, namun berbagai laporan internasional menyebut adanya indikasi kuat kecurangan.
Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutu menegaskan tidak mengakui hasil pemilu tersebut, memperdalam isolasi politik Maduro di panggung global.
Operasi Militer dan Penangkapan (Januari 2026)
Puncak dari seluruh rangkaian perburuan itu terjadi pada awal Januari 2026. Pada 3 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan AS telah melakukan operasi militer di Caracas.
Dalam operasi tersebut, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dilaporkan berhasil ditangkap. Keduanya disebut telah diterbangkan keluar dari Venezuela untuk menghadapi proses hukum di New York, terkait dakwaan narko-terorisme yang dilayangkan sejak 2020.
Latar Belakang Operasi AS
Penangkapan Maduro tak bisa dilepaskan dari posisi politik dan hukum internasional yang selama ini menyelimutinya. Maduro lahir di Caracas pada 23 November 1962 dan naik ke tampuk kekuasaan pada 2013 setelah wafatnya Hugo Chávez.
Namun sejak awal pemerintahannya, Venezuela dilanda krisis multidimensi—mulai dari ekonomi, politik, hingga legitimasi kekuasaan. Tuduhan keterlibatan dalam jaringan narkotika internasional menjadi alasan utama AS menyebut operasi militernya sebagai bagian dari penegakan hukum internasional dan keamanan kawasan.***