Kuliah Pak Pacee: Kesetaraan dan Kebersamaan

Bagi-bagi jabatan. (Ilustrasi diolah menggunakan SORA)

MAKLUMAT — Jarum jam belum lagi sempurna menunjuk pukul dua belas, gawai Mamad yang tergeletak di dashboard bergetar. Mamad baru saja merapat di rest area  KM 234 A di ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung dalam perjalanan pulang dari Bumi Andalas menuju Mataram.

Mamad memang sudah berniat istirahat di rest area untuk salat dan menyantap makan siang, bersegera meraih gawai yang sedari tadi tak tersentuh olehnya, Mamad  membuka beberapa pesan masuk sepanjang perjalaan yang belum sempat ia buka.

Pesan yang masuk rata-rata menanyakan perjalanan Mamad, di antaranya terdapat dua pesan yang datang dari Maman dan Pak Pacee, isi WA keduanya sama-sama mengingatkan begitu sampai di Bumi Mataram segera beri kabar.

Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya Mamad tiba, yang menurut pelakon serta pujangga, menyebutkan Bumi Mataram adalah penggal rindu yang tidak akan lapuk oleh hujan serta tak lekang oleh waktu, dan ketika kamu sudah menginjak serta meneguk air yang keluar dari tanahnya, kamu bakal rindu ingin kembali bahkan bisa tertambat di sana.

Sore itu, di lantai dua, Mamad dan Maman duduk berdampingan, di atas meja, kopi sudah dingin, tetapi obrolan mereka justru menghangat, Pak Pacee duduk bersandar sembari membuka majalah yang dipegangnya, seolah tak ikut campur, tapi jelas mendengar pembicaraan yang sedang didiskusikan Mamad dan Maman.

Pak Pacee menutup sementara majalah yang sejak tadi dibacanya, liputan majalah kali ini menyinggung independensi lembaga negara, soal kedekatan dan soal pertanyaan lama yang selalu muncul setiap kali kekuasaan berpindah tangan.

Mamad mendekat dan bertanya, liputan majalahnya terkait yang lagi ramai itu ya? terkait bagi-bagi jabatan, ada yang menyebutnya sebagai praktik nepotisme, karena kader partai, tapi ada juga yang menyimpulkan bila mareka itu kolega lama yang dulu sama-sama berjuang.

Baca Juga  Refleksi Iduladha: Apa yang Bisa Diceritakan dari Halal Sains?

Pak Pacee menutup majalah dengan perlahan. “Di negeri ini, kemampuan memang penting, tapi begitu yang duduk menjabat itu terlalu dekat, baik secara keluarga atau politik, publik pasti bertanya, bukan soal dia bisa atau tidak, tapi soal pantas atau tidak, apalagi menyalahi prosedurnya,” tegas Maman.

Pimpinan tidak hidup dari hukum saja, ia juga hidup dari rasa kepantasan, memimpin adalah seni, Maman mengangguk, Pak Pacee menarik nafas, independensi itu rapuh, bukan karena aturannya lemah, tapi karena persepsi, sekali orang curiga, kepercayaan pun mulai retak.

“Jadi salah siapa Pak?” Pak Pacee tersenyum kecil, bukan soal salah siapa, setiap kekuasaan baru, selalu dan selalu tergoda menaruh orang-orang dekat di kursi penting. Katanya demi kelancaran, padahal sering kali itu awal dari patronase. Coba kamu hitung saja saat ini, berapa kursi yang diberikan penguasa saat ini kepada para kolega dengan dalih legalitas yang beragam, dari komisaris BUMN, Menteri, hingga jabatan-jabatan publik lainnya.

Mamad masih duduk bersandar, matanya menatap layar ponsel yang sejak tadi menampilkan potongan berita internal perusahaan mareka, ia menarik nafas pelan, lalu menoleh ke Maman yang duduk di sebelahnya.

“Man…,” ujar Mamad pelan, “kamu dengar kabar soal layanan pimpinan itu enggak?” Maman mengangguk, “yang katanya nanti ada pembeda layanan? Bahkan petuah pimpinan mau dinominalkan itu?” Mamad menarik napas. Katanya kalau pimpinan hadir di acara perusahaan, tiap untaian kata yang keluar bisa dihitung nilainya, ada tarifnya, Maman tersenyum kecut, berarti bukan cuma makan yang dibedakan, nasihat pun jadi komoditas.

Mamad melanjutkan, padahal selama ini kan sudah aturannya, aku baca, standar biaya makan pimpinan itu jelas, rapat biasa pada nominal tertentu, rapat khusus bisa mencapai nilai tertentu, yang diatur itu batas tertinggi, bukan keharusan.

Baca Juga  Berjuang di Jalur Politik Bersama PSI karena Melihat Harapan Baru

Maman menimpali, iya prinsipnya efisiensi dan akuntabilitas, supaya anggaran enggak liar, tapi kok melahirkan kasta di meja makan ya? sela Mamad.

Masalahnya, Mamad menghela napas, sekarang muncul wacana layanan khusus, seolah pimpinan perlu diperlakukan berbeda dari manusia lain.

Mereka terdiam sejenak, sampai langkah kaki pelan terdengar, Assalamualaikum, suara salam nyaring terdengar, Kang Sasan datang, menggendong tas lusuh yang sama sejak dulu membersamainya, ia senior Mamad dan Maman, lebih tua pengalaman, lebih tenang cara pandang. Sembari menyodorkan dua plastik oleh oleh yang baru saja dibawa dari tanah kelahirannya, buah tangan yang dibawanya terlihat seperti butiran BB atau ball peluru Airsoft guns.

Kalian lagi mendiskusikan apa? tanya Kang Sasan sambil duduk merapat di samping Pak Pacee, Maman menjawab cepat, soal kesetaraan Kang… soal layanan pimpinan. Kang Sasan tersenyum kecil. Ah…, soal itu.

Kang Sasan menatap ke luar jendela yang semakin mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, saat ini cuaca memang sulit ditebak, padahal cuaca memang bukan tebakan yang memerlukan jawaban.

Kesetaraan itu bukan berarti semua orang harus sama persis, tapi prinsip yang harus dipegang, tidak ada yang boleh merasa lebih manusia dari yang lain. Maman mengangguk pelan. Kalian tahu, lanjut Kang Sasan, standar itu dibuat bukan untuk memanjakan pimpinan, tapi untuk membatasi, supaya kekuasaan tidak menjelma jadi Candrama tunggangan mewah yang bikin lupa jalan kaki.

Mamad bertanya, jadi wajar kalau pimpinan makannya sama, duduk sama, dilayani sama?

Bukan cuma wajar, jawab Kang Sasan, itu sehat, karena dari situ pimpinan ingat, ia dipilih untuk melayani, bukan dilayani berlebihan.

Maman menunduk, kalau petuah dinominalkan, Kang? Kang Sasan tersenyum getir, nasihat yang dibayar mahal biasanya kehilangan daya ubahnya, yang mengubah orang itu keteladanan, bukan tarif. Kesetaraan bukan soal angka di anggaran, tapi sikap dalam memandang sesama.

Baca Juga  Ketua Dikdasmen PWM Jatim: Marketplace Guru Memperuncing Masalah

Pak Pacee masih diam dan tidak berkata apa-apa, tapi Mamad dan Maman tahu, diamnya Pak Pacee selalu lebih panjang dari kuliahnya nanti, di luar, langit semakin mendung, sesekali gemuruh mulai terdengar. Tidak lama berselang Pak Pacee pun bertutur.

Dalam kearifan Nusantara, pemimpin tidak diletakkan untuk berjarak, melainkan dipanggil untuk mendekat, karena kepemimpinan sejatinya adalah amanah yang harus dirasakan kehadirannya. Pemimpin hanya didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting agar ia dapat memberi arah tanpa kehilangan sentuhan.

Sejalan dengan falsafah Minang yang menempatkan pemimpin sebagai pelindung yang berpijak pada adat dan keadilan, falsafah Jawa juga menegaskan bahwa di depan ia memberi teladan, di tengah membangun daya dan di belakang mendorong dengan bijaksana.

Pemimpin tidak tumbuh dari keangkuhan kuasa atau kebanggaan, melainkan dari kesediaan untuk melayani, memanusiakan, dan menjaga agar pijakannya tetap membumi serta pandangannya tetap menjulang pada nilai.

Prinsip kedekatan akan lahir ketika kebersamaan yang menolak pemisahan berlebihan antara pemimpin dan yang dipimpin, wibawa tidak dibangun dari privilese, melainkan dari keteladanan hidup yang setara.

Pemimpin yang adil tidak menempatkan dirinya dalam keistimewaan fasilitas, tidak membedakan hidangan, tempat, maupun standar hidup dari mereka yang dipimpinnya, sejatinya keadilan dimulai dari kesediaan berbagi keadaan dan rasa.

Dengan hidup sederhana dan setara, pemimpin meneguhkan teladan bahwa kekuasaan adalah khidmat, bukan pada perlakuan istimewa. Di titik inilah kepemimpinan menjelma sebagai seni, hadir bersama dengan berjalan seiring.

Jabatan boleh naik setinggi apa pun, tapi ada perkara yang seharusnya tetap dijaga, kerendahan hati saat menyapa, kesediaan untuk mendengar dan kejernihan hati dalam memandang sesama harus tetap ada.