
MAKLUMAT — Raja Yordania Abdullah II menyerukan penghentian segera serangan udara pasukan Israel di Gaza, Palestina. Hal itu ia tegaskan ketika melangsungkan pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Bulgaria Rosen Zhelyazkov di Sofia, Jumat (4/4/2025) waktu setempat.
Raja Abdullah dikabarkan telah tiba di ibu kota Bulgaria pada Kamis (3/4/2025) untuk kunjungan yang durasinya dirahasiakan, usai kunjungannya dari Berlin. Dalam kesempatan itu, ia mendesak pemberlakuan segera gencatan senjata menyeluruh dan pemulihan akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.
Dilansir dari Anadolu Ajansi, Raja Abdullah menekankan bahwa “serangan berkelanjutan terhadap warga sipil dan infrastruktur kemanusiaan hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan,” menurut pernyataan dari Pengadilan Kerajaan Yordania.
Dalam diskusinya dengan PM Zhelyazkov, Raja Abdullah juga memuji upaya Bulgaria dalam menyelenggarakan Pertemuan Aqaba, sebuah inisiatif yang diluncurkan oleh Raja Abdullah pada tahun 2015 yang bertujuan untuk mendorong keamanan dan kerja sama regional.
Lawatan ke Berlin, Serukan Gencatan Senjata
Sebelumnya, Raja Abdullah juga telah melakukan pertemuan dengan Kanselir Jerman Olaf School di Berlin pada Kamis (3/4/2025) waktu setempat. Ia meminta agar komunitas internasional segera mengambil langkah dan tindakan nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan di Gaza.
“Perang Israel di Gaza harus dihentikan” gencatan senjata harus dikembalikan, dan bantuan kemanusiaan kembali dilanjutkan.
“Yordania melakukan segala upaya yang dapat dilakukannya untuk membantu meringankan situasi kemanusiaan yang kritis di Gaza dengan memberikan bantuan melalui semua cara yang memungkinkan, dan memuji dukungan Jerman terhadap upaya kemanusiaan di Jalur Gaza,” tandas Raja Abdullah..
Lebih lanjut, ia menegaskan kembali perlunya masyarakat internasional “mengambil tindakan untuk menghentikan eskalasi berbahaya di Tepi Barat, tempat puluhan ribu warga Palestina telah mengungsi dari rumah dan desa mereka,” seraya mencatat bahwa pengungsian warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza “mengancam akan menjerumuskan seluruh wilayah ke dalam ketidakstabilan lebih lanjut.”
Raja Abdullah juga memperingatkan tentang bahaya pelanggaran keberlanjutan terhadap tempat-tempat suci Muslim dan Kristen di Yerusalem, “yang memicu ketegangan lebih lanjut dan merusak peluang perdamaian.”
Ia menggarisbawahi bahwa satu-satunya jalan ke depan adalah melalui solusi politik berdasarkan solusi dua negara yang menjamin perdamaian dan keamanan bagi warga Palestina, Israel, dan seluruh wilayah.
Netanyahu Ancam Tingkatkan Serangan
Di sisi lain, pada Ahad (30/3/2025) lalu, PM Israel Benjamin Netanyahu mengancam bakal meningkatkan serangan ke wilayah Gaza, karena upaya sedang dilakukan untuk melaksanakan rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengusir warga Palestina dari daerah kantong itu.
Sekadar diketahui, sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023 lalu, sudah lebih dari 50.600 warga Palestina tewas di Gaza akibat serangan brutal Zionis Israel. Sebagian besar di antaranya adalah dari kalangan perempuan dan anak-anak.
Gencatan senjata sempat berjalan mulai 19 Januari 2025 lalu. Namun, kedamaian yang baru seumur jagung itu gagal dan lenyap, lantaran pasukan Zionis Israel kembali melakukan eskalasi dengan melancarkan serangan udara. Bahkan di Bulan Ramadan.
Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024 lalu, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Selain itu, Israel juga menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) atas kebrutalan peran yang digelorakannya di daerah kantong tersebut.