Kutuk Dugaan Penggunaan Senjata Termal Israel di Gaza, Ketua MUI: Dunia Internasional Tidak Boleh Diam

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim MA. (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim MA, mengutuk dugaan penggunaan senjata termal (thermal weapons) oleh militer Israel terhadap warga sipil Gaza, Palestina.

Sudarnoto mengaku shock ketika membaca hasil investigasi yang dilakukan oleh Al Jazeera terkait dugaan penggunaan senjata termal atau bom vakum (termobarik/thermobaric) dalam operasi militer yang dilancarkan pasukan Zionis Israel di Gaza.

Dalam laporan Al Jazeera, senjata termal yang digunakan pasukan Zionis diduga dipasok oleh sekutu dan pendukung utamanya, Amerika Serikat (AS).

“(Penggunaan bom) Ini menelan korban, lenyap seketika tak tersisa, (mencapai) sebesar 2.842 orang,” ujarnya, dalam keterangan kepada Maklumat.id, Senin (16/2/2026).

“Jika benar laporan tersebut, maka ini bukan sekadar pelanggaran, tetapi merupakan bentuk kebiadaban yang melampaui batas-batas kemanusiaan dan nurani paling dasar,” sambung Sudarnoto.

Ia menjelaskan, agresi militer Israel di Gaza yang dilancarkan sejak Oktober 2023 lalu itu telah mengakibatkan kehancuran luar biasa dan jumlah korban yang mengerikan.

“Namun, informasi tentang ribuan warga Palestina yang “lenyap” tanpa jejak akibat suhu ekstrem yang dihasilkan senjata semacam ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan,” kecamnya.

Pelanggaran Konvensi Jenewa dan Hukum Internasional

Menurut Sudarnoto, penggunaan senjata termal yang mampu menghasilkan suhu hingga ribuan derajat celsius dan menyebabkan tubuh manusia hancur tanpa sisa tersebut merupakan bentuk kekerasan yang sangat mengerikan dan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum humaniter internasional.

Baca Juga  Soroti Dunia Islam, Din Syamsuddin Optimis Indonesia Bisa Ambil Peran Wujudkan Perdamaian

“Penggunaan senjata semacam itu—apabila terbukti—merupakan pelanggaran serius terhadap Konvensi Jenewa dan norma-norma hukum internasional,” tandas pria yang merupakan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Serukan Peningkatan Tekakanan Diplomatik Internasional

Sudarnoto menyerukan dunia internasional tidak boleh diam. Ia menegaskan, tidak boleh ada standar ganda dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM).

Setiap bentuk kejahatan perang, lanjutnya, harus diusut secara independen dan transparan, serta para pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban.

“(Presiden Amerika Serikat/AS, Donald) Trump juga harus bertanggungjawab atas dosa kemanusiaan (yang dilakukan) Israel, yang selalu dibiarkan bahkan didukung Amerika,” serunya.

Lebih lanjut, Sudarnoto menyebut bahwa MUI memandang tragedi kemanusiaan di Gaza bukan hanya soal isu politik, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan universal.

“Kami mengutuk keras setiap bentuk penggunaan senjata yang menghancurkan secara membabi buta dan menargetkan atau berdampak pada warga sipil,” tandasnya.

“Tindakan seperti ini semakin mempertegas bahwa yang terjadi di Gaza adalah krisis kemanusiaan yang sangat serius dan memerlukan respons global yang tegas,” tegas pria yang juga menjabat Wakil Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah itu.

Baca Juga  Israel Resmi Masuk Board of Peace, Prabowo Berpotensi Semeja dengan Buronan ICC

Dorong Pembentukan Investigasi Independen

MUI, kata dia, juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun komunitas internasional untuk segera membentuk tim investigasi independen yang kredibel, guna memastikan perlindungan bagi warga sipil, serta menghentikan segala bentuk pasokan senjata yang berpotensi memperparah penderitaan rakyat Palestina.

Ia menyerukan agar umat Islam dan seluruh masyarakat internasional yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan harus terus menyuarakan keadilan.

“Solidaritas tidak boleh surut. Dukungan kemanusiaan harus diperkuat. Dan tekanan diplomatik harus ditingkatkan agar agresi ini segera dihentikan,” tandas Sudarnoto.

Tak cuma itu, ia juga menyoroti Dewan Perdamaian alias Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump, yang menurutnya secara tidak langsung telah menunjukkan keasliannya sebagai badan yang justru ikut andil dalam menghancurkan martabat dan kedaulatan Palestina.

“Trump bungkam, BoP menghancurkan di balik kata Damai. Perdamaian tak mungkin terwujud jika keadilan tak ditegakkan. Saya ingin serukan kemanusiaan harus dimenangkan. Dan penjajahan dalam bentuk apa pun di atas dunia ini harus dihapuskan,” tegas Sudarnoto.

Laporan Dugaan Israel Gunakan Senjata Termal

Sebagai informasi, sebuah laporan investigasi mendalam yang dilakukan Al Jazeera terkait agresi Israel di Gaza, Palestina, menunjukkan hal mengerikan, di mana militer Zionis diduga menggunakan senjata terlarang jenis termal (thermal weapons) yang dipasok oleh Amerika Serikat, yang menyebabkan ribuan jasad warga Palestina “lenyap” tanpa sisa.

Baca Juga  Pejabat AS Sebut Trump 'Veto' Rencana Israel Bunuh Ayatollah Ali Khamenei

Hasil investigasi tersebut menunjukkan kebrutalan ekstrem Israel dalam menjalankan operasi militernya, termasuk tanpa pandang bulu menyerang warga sipil.

Senjata termal sendiri merupakan istilah yang merujuk pada jenis persenjataan yang menggunakan energi panas ekstrem untuk melumpuhkan atau menghancurkan target. Dilaporkan, senjata jenis ini mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat celcius saat meledak. Suhu setinggi tersebut mengakibatkan tubuh manusia hancur seketika atau meleleh sepenuhnya, sehingga tidak meninggalkan jejak jenazah sama sekali untuk diidentifikasi maupun dimakamkan.

Para ahli militer dan saksi mata di lapangan mengaitkan fenomena hilangnya jenazah korban dengan penggunaan sistematis senjata termobarik, yang sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol, yang penggunaannya sangat dilarang oleh hukum internasional. Apalagi di kawasan padat penduduk seperti Gaza, Palestina.

Data dari Pertahanan Sipil di Gaza memperkuat temuan investigasi tersebut. Sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, mereka telah mendokumentasikan sebanyak 2.842 warga Palestina yang lenyap tanpa jejak. “Di lokasi pengeboman, sering kali tidak ditemukan sisa-sisa tubuh selain percikan darah atau serpihan kecil daging,” bunyi laporan itu.