MAKLUMAT — Istilah “lazy economy” merujuk pada tren konsumsi layanan siap pakai yang memudahkan aktivitas sehari-hari melalui teknologi dan jasa berbasis aplikasi. Sering kali istilah ini menimbulkan salah paham; banyak orang langsung membayangkan generasi muda yang malas dan hanya ingin hidup santai.

Namun, jika kita menengok ke kota-kota besar di China, gambaran itu ternyata jauh dari kenyataan. Di sana, “lazy economy” justru tumbuh sebagai respons terhadap tekanan hidup urban (merujuk pada pola kehidupan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kota-kota besar, dengan ciri utama ritme cepat, tekanan tinggi, dan ketergantungan kuat pada teknologi serta layanan modern) yang semakin berat, perubahan nilai generasi muda, dan transformasi besar dalam cara orang bekerja serta mengelola waktu.
Menurut laporan Analisis, nilai pasar layanan on-demand di China mencapai 1,5 triliun Yuan pada tahun 2023, meningkat sekitar 18% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan betapa besarnya dampak lazy economy dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, masyarakat urban China semakin kekurangan waktu untuk mengurus kebutuhan domestik. Banyak profesional muda kini memilih jasa koki pribadi yang datang langsung ke rumah mereka. Bagi mereka, ini bukan soal kemewahan, melainkan strategi rasional untuk menjaga kesehatan, menghemat waktu, dan mengurangi stres.
Sementara itu, bagi koki pribadi, pekerjaan ini menawarkan pendapatan stabil dan fleksibilitas yang jarang ditemukan di restoran konvensional. Sebagai contoh, Li Wei, seorang mantan koki restoran di Beijing, mampu meningkatkan pendapatannya hingga 30% setelah beralih menjadi koki pribadi berbasis aplikasi.
Ia mengaku bisa mengatur jadwal kerja sendiri dan memiliki waktu lebih untuk keluarga. Fenomena ini menunjukkan bahwa efisiensi telah menjadi “mata uang” utama di kehidupan modern, membuka peluang kerja baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Fenomena “lazy economy” di China tidak muncul begitu saja. Ia berakar pada jam kerja yang panjang, urbanisasi yang pesat, dan kemajuan teknologi digital. Warga kota hidup dalam ritme yang sangat cepat, sehingga waktu luang menjadi barang langka.
Dalam situasi seperti ini, layanan siap pakai mulai dari makanan sehat, pengantaran instan, hingga perangkat rumah pintar dipilih sebagai solusi cerdas, bukan tanda kemalasan. Istilah “smart living” juga semakin populer, yaitu gaya hidup yang mengutamakan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi aktivitas sehari-hari.
Generasi muda di China, terutama Generasi Z dan milenial, kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Mereka memanfaatkan teknologi seperti robot penyedot debu, aplikasi belanja bahan makanan, atau jasa memasak sebagai bagian dari smart living. Bagi mereka, lazy economy adalah bentuk adaptasi rasional terhadap tuntutan zaman, bukan kemunduran etos kerja.
Di balik kenyamanan yang dinikmati konsumen, muncul profesi-profesi baru seperti kurir instan, koki pribadi, dan penyedia jasa rumah tangga berbasis aplikasi. Pekerjaan ini menuntut stamina tinggi dan jam kerja panjang. Efisiensi yang dinikmati satu kelompok, sering kali dibayar dengan kerja keras kelompok lain.
Misalnya, seorang koki pribadi bisa bekerja hingga 12 jam sehari, berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Namun, banyak pelaku jasa justru melihatnya sebagai peluang mobilitas sosial. Pendapatan koki pribadi bisa setara atau bahkan lebih tinggi dari gaji pekerja kantoran pemula.
Selain itu, pekerjaan ini relatif tahan terhadap otomatisasi karena mengandalkan sentuhan personal dan interaksi manusia. Kisah Zhang Hui, seorang kurir instan di Shanghai, memperlihatkan bahwa ia mampu mengumpulkan penghasilan bulanan hingga 8.000 yuan, jauh melebihi rata-rata pekerja pabrik, sekaligus mendapatkan fleksibilitas waktu kerja.
Dari sisi ekonomi digital, lazy economy mendorong evolusi platform e-commerce dan logistik. Konsumen menuntut pengiriman super cepat, dan platform seperti Meituan, Ele.me, serta Hema berlomba membangun sistem distribusi ultra-cepat.
Sektor layanan on-demand dan perangkat rumah pintar terus tumbuh, menandakan lazy economy adalah bagian dari restrukturisasi ekonomi konsumsi. Menurut survei QuestMobile, jumlah pengguna aktif platform layanan instan di China mencapai lebih dari 400 juta pada akhir 2023.
Nilai pasar sektor ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa lazy economy bukan tren sesaat, melainkan bagian dari perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat.
Lazy economy juga punya dimensi emosional yang tidak kalah penting. Kenyamanan instan memberi rasa kontrol di tengah tekanan hidup kota. Memesan makanan sehat atau menyederhanakan rutinitas perawatan diri bukan sekadar menghemat waktu, tapi juga menjaga keseimbangan psikologis.
Konsumsi menjadi sarana self-care, teknologi menjadi perpanjangan tangan manusia untuk mengelola kelelahan hidup modern.
Pada akhirnya, lazy economy di China bagian tantangan cara lama memaknai kerja dan produktivitas. Kerja keras tidak selalu berarti melakukan segalanya sendiri. Kemampuan mendelegasikan, memanfaatkan teknologi, dan menciptakan ekosistem layanan yang saling menguntungkan adalah kunci bertahan di era urban digital. Tantangannya adalah memastikan efisiensi ini membuka ruang kerja yang adil dan bermartabat bagi semua.
Fenomena lazy economy di China bukan sekadar tren konsumsi instan atau pembenaran atas kemalasan. Ia lahir dari kebutuhan nyata masyarakat urban yang menghadapi tekanan hidup, jam kerja panjang, dan tuntutan efisiensi.
Generasi muda memilih solusi cerdas untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup, sementara pelaku jasa menemukan peluang baru yang lebih fleksibel dan tahan terhadap otomatisasi. Di sisi lain, ekonomi digital berkembang pesat, menawarkan layanan on-demand dan perangkat rumah pintar yang semakin diminati.
Namun, di balik kenyamanan dan efisiensi, ada tantangan besar: bagaimana memastikan semua pihak mendapat manfaat secara adil dan bermartabat. Lazy economy menuntut kita untuk berpikir ulang tentang makna kerja keras, produktivitas, dan cara kita menjalani hidup di era digital.
Jika dikelola dengan baik, lazy economy bisa menjadi solusi inovatif yang membuka peluang kerja baru, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.***