LDK PDM Bondowoso Dibentuk: Perkuat Dakwah Komunitas

Pengurus LDK PDM Bondowoso. (Foto: Dok. PDM)

MAKLUMAT — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bondowoso membentuk Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) di bawah naungannya, yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Turba (Turun ke Bawah) dan Rihlah Dakwah Komunitas LDK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo Bondowoso, Ahad (23/8/2026).

Pembentukan LDK PDM Bondowoso menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan dakwah Muhammadiyah kepada komunitas dan kelompok masyarakat yang selama ini belum banyak tersentuh aktivitas dakwah.

Ketua PDM Bondowoso Muhammad Malik MAg menunjuk sejumlah kader untuk mengemban amanah sebagai pengurus LDK PDM Bondowoso. Dwimay Fawzy dipercaya sebagai ketua, dengan beranggotakan Arif Efendi, Muntasir, Muhammad Subhan, Ilham Akhmad Faizin Zen, Sofyan Suryantara N, Siti Qomariah, Affan Farqi, Fathan Nawawi Zainal Abrari, serta Sylvia Andriani.

Pembentukan kepengurusan tersebut kemudian dilanjutkan dengan konsolidasi organisasi. Jajaran LDK PDM Bondowoso mendapatkan penguatan mengenai arah gerakan, kebijakan, serta program kerja LDK PWM Jawa Timur sebagai pijakan dalam menjalankan dakwah di tingkat daerah.

Ketua LDK PWM Jawa Timur H Ahmad Tholhah SAg MAg menjelaskan karakter dakwah LDK yang berfokus pada komunitas. Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan metode dakwah Majelis Tabligh yang lebih banyak dilakukan melalui mimbar.

Baca Juga  MPKS PP Muhammadiyah dan IHC Latih Relawan dengan Hipnoterapi untuk Layanan Psikososial Penyintas Bencana Sumatera

“LDK ini berbeda dengan Majelis Tabligh. Kalau Majelis Tabligh berdakwah di atas mimbar, LDK dakwahnya di bawah mimbar, langsung menyasar komunitas-komunitas yang belum tersentuh dakwah,” jelasnya.

Ahmad Tholhah menyebut LDK sebagai salah satu laboratorium dakwah Muhammadiyah. Menurutnya, keberadaan LDK diharapkan dapat melengkapi gerakan dakwah Muhammadiyah dengan pendekatan yang menyesuaikan kondisi dan kebutuhan komunitas.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara LDK dengan unsur lain di lingkungan Muhammadiyah. Dalam pola tersebut, LDK dapat menjangkau kelompok masyarakat yang masih enggan beribadah, sementara Lazismu dapat mengambil peran dalam aspek pemberdayaan masyarakat.

Setelah masyarakat mulai memiliki keterbukaan terhadap aktivitas keagamaan dan memperoleh dukungan pemberdayaan, Majelis Tabligh dapat memberikan penguatan pemahaman Islam secara lebih mendalam.

“Dari proses tersebut diharapkan orang-orang yang sebelumnya enggan beribadah secara bertahap menjadi rajin beribadah dan lebih memahami Islam secara utuh,” terang Ahmad Tholhah.

Pola tersebut juga diarahkan untuk mendorong perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya berada dalam posisi sebagai mustahik diharapkan dapat berkembang menuju kemandirian sehingga pada tahap berikutnya mampu menjadi muzakki.

Terbentuknya kepengurusan LDK PDM Bondowoso diharapkan mampu menerjemahkan kebijakan LDK PWM Jawa Timur ke dalam program kerja yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat setempat, serta menghadirkan dakwah yang mampu hadir dan dirasakan langsung di tengah kehidupan komunitas masyarakat.***

Baca Juga  Industri Halal Indonesia, Peluang Besar di Tengah Persaingan Global

*) Penulis: Muntasir