MAKLUMAT – Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini tidak lagi dipandang sekadar instrumen pemetaan kompetensi, melainkan oase untuk mengasah nalar literasi dan menanamkan benih integritas sejak dini.
Fenomena ini tertangkap jelas dalam kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen), Fajar Riza Ul Haq, di beberapa sekolah dasar di Kota Medan, Kamis (30/4/2026). Di tengah gempuran konten digital yang serba instan, TKA hadir menantang murid untuk kembali menyelami kedalaman makna melalui teks, sekaligus menguji kejujuran di atas selembar kertas ujian.
Berbeda dengan format ujian konvensional, desain soal TKA menuntut ketelitian ekstra melalui narasi cerita yang panjang dan kompleks. Bagi para murid di UPT SD Negeri 060864 Medan, tantangan ini menjadi simulasi nyata dalam mengukur daya tahan literasi mereka.
”Murid-murid merasakan perbedaan pada desain pertanyaan yang menggunakan cerita lumayan panjang. Secara intelektual, ini melatih mereka untuk membaca lebih hati-hati dan melakukan penalaran mendalam,” ujar Wamen Fajar saat berdialog dengan peserta ujian.
Kesan serupa diungkapkan oleh Hafiz Al-Hafzi dan Rizki Akila Pangaribuan. Meski sempat didera rasa cemas menghadapi ambang batas SMP impian, keduanya sepakat bahwa ketelitian adalah kunci. Hal ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan mengeja, melainkan kemampuan mengelola konsentrasi di tengah tekanan.
Integritas: Kurikulum Tersembunyi
Selain aspek kognitif, nilai filosofis yang ditekankan dalam TKA adalah integritas. Wamen Fajar mengapresiasi kegigihan warga sekolah, proktor, hingga pengawas dalam menjaga kesucian proses ujian. Baginya, kejujuran dalam TKA adalah “kurikulum tersembunyi” yang akan membentuk identitas anak di masa depan.
Siska Hutapea, Guru sekaligus Teknisi TKA, menjelaskan bahwa sekolah telah memberikan pendampingan intensif sejak Februari lalu melalui 12 kali simulasi (try out). “Kami ingin murid terbiasa dengan teks panjang, namun yang lebih penting adalah mereka belajar untuk tetap gigih dan jujur apa pun hasilnya,” tuturnya.
Literasi Sebagai Bagian dari “Mindset”
Wamen Fajar mendorong agar kemampuan membaca tidak berhenti di ruang ujian, melainkan bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle). Ia mengajak para murid untuk merutinkan aktivitas membaca buku, setidaknya satu halaman sehari, guna membangun kerangka berpikir yang kritis dan berbobot.
Perjuangan literasi ini juga terlihat dari kegigihan teknis sekolah. Di UPT SD Negeri 060862, keterbatasan perangkat tidak menjadi penghalang. Para guru secara sukarela meminjamkan laptop pribadi demi memastikan 31 murid mereka dapat menuntaskan tes. Semangat gotong royong ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah kerja kolaboratif untuk menghadirkan masa depan yang lebih mencerahkan.
Pada akhirnya, TKA di Medan bukan sekadar angka di atas rapor. Ia adalah refleksi dari sebuah filosofi hidup: bahwa kecerdasan tanpa integritas adalah hampa, dan literasi adalah jembatan menuju hidup yang lebih berkesadaran.***













