Lya Fahmi, Psikolog Klinis yang Tulisannya Selalu Kritis

Lya Fahmi, Psikolog Klinis yang Tulisannya Selalu Kritis

MAKLUMAT – Beberapa waktu lalu, sebuah unggahan seorang psikolog klinis menjadi trending di media sosial. Sosok di balik unggahan itu adalah Mufliha Fahmi yang juga akrab disapa Lya Fahmi.

Dalam unggahannya, ia menulis bahwa dirinya terkejut ketika dua klien datang ke sesi konseling secara berurutan bukan untuk membahas masalah pribadi, melainkan karena tekanan psikologis yang dipicu oleh kondisi negara saat ini.

Lya Fahmi menyebut pengalaman itu sebagai sesuatu yang belum pernah ia temui sepanjang 7,5 tahun kariernya sebagai psikolog. Berkat hal ini, masyarakat mulai memperbincangkan bahwa kesehatan mental seseorang memang bisa sangat dipengaruhi oleh isu-isu struktural dan kebijakan negara.

Adapun unggahan yang dibagikan itu sekaligus memperkuat citra Lya Fahmi sebagai psikolog klinis yang kritis terhadap berbagai isu. Sedari lama, Lya Fahmi telah dikenal sebagai seorang psikolog klinis yang tulisan-tulisannya selalu kritis. Gaya bertuturnya jujur tapi tajam, apa adanya serta mendalam.

Bukan hanya lewat buku maupun artikelnya di media massa, sentuhan khas itu juga dapat ditemukan lewat berbagai unggahannya di media sosial. Perempuan kelahiran Sleman, 23 September 1989 ini sering membagikan keresahan, refleksi, hingga pengalaman kesehariannya.

Tak sedikit pembaca yang akhirnya merasa tersentuh dengan tulisan-tulisan dari alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Misalnya ketika ia membagikan pengalamannya saat mengisi materi tentang ketahanan keluarga.

Baca Juga  Jadi Guru Besar dalam Kepakaran Fisiologi Olahraga, Sukadiono Bakal Dikukuhkan Besok

Mulanya, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur mengadakan agenda bertajuk Samara Course. Agenda itu digelar di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Ahad (7/12/2025) silam.

Ketahanan Keluarga di Era Ketidakpastian

Lya Fahmi, yang diundang sebagai pemateri, awalnya berpikir bahwa materinya tidak akan jauh berbeda dari yang biasa ia sampaikan. Karena itulah, ia merasa tidak perlu menyiapkan bahan khusus.

“Tapi persis satu malam sebelum acara, aku tiba-tiba ingin memberi lebih. Materinya tidak hanya tentang ketahanan keluarga, tapi juga tentang ketahanan keluarga di era ketidakpastian,” ujarnya dikutip dari akun Facebook Lya Fahmi.

Ia ingin mengajak peserta melihat bagaimana keluarga bertahan di tengah keterancaman lingkungan, ketidakadilan sosial, dan pemerintahan yang kerap tidak kompeten dalam mengelola berbagai stresor.

Keputusan untuk memperluas pembahasan, dari sekadar dinamika pasangan dan pengasuhan ke pembahasan mengenai peran negara ternyata tepat sasaran. “Diskusi ketahanan keluarga menjadi lebih seru dengan hampir semua peserta ingin bertanya. Sayang, waktunya sangat terbatas. Hiks,” tulisnya.

Dalam unggahan itu, Lya Fahmi juga menerima beragam respons dari pembaca. Ada yang berkomentar bahwa apa yang ia sampaikan bukan sekadar materi, melainkan benar-benar berbagi makna. Pemikiran kritis Lya Fahmi melihat ketahanan keluarga dari sudut yang lebih luas membuat tema itu terasa lebih segar.

Ada pula yang berseloroh kagum, mengatakan bahwa meski tidak mengenal penulisnya, begitu membaca unggahan itu mereka langsung berpikir, “Kok keren sih! Padahl aku gak kenal penulisnya. Begitu membaca postingan ini. Isi kepala penulise keren.” Bahkan, Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, David Effendi pun juga memberikan apresiasinya terhadap unggahan tersebut.

Baca Juga  Mengenal Gangguan OCD dan Penyebabnya, Bersifat Genetik?

Psikologi Perkawinan hingga Politik

Lya Fahmi menekuni Psikologi Konseling Keluarga dan Perkawinan. Minatnya terhadap isu keluarga dan perkawinan terus berkembang, terutama setelah ia resmi menjadi psikolog klinis pada 2018. Saat ini, ia juga aktif sebagai konselor pernikahan.

Dengan latar belakang tersebut, Lya Fahmi kerap membagikan unggahan yang membahas dinamika keluarga, hubungan pernikahan, maupun berbagai isu psikologi yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Kini, isu psikologi yang dibagikan Lya Fahmi kerap dikaitkan dengan politik.

Dalam salah satu unggahannya lewat Instagram @lyafahmi, ia menulis bahwa akunnya awalnya dimaksudkan untuk berbagi wacana psikologi perkawinan. Namun ia mengajak para pembaca bertanya, “Ngapain membahas psikologi perkawinan kalau perkawinan nantinya hanya akan penuh tekanan akibat kondisi lingkungan, ekonomi, dan sosial yang tidak mendukung kesejahteraan?”

“Cintamu saja tidak cukup untuk membangun perkawinan yang bahagia. Kita juga membutuhkan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang baik agar bisa tumbuh sebagai manusia yang mampu merawat cinta,” tulis perempuan yang juga bekerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.

Dalam unggahan lain, ia menjelaskan mengapa orang yang peduli dengan kesehatan mental juga perlu memperhatikan politik. Penulis buku Sebelum Harimu Bersamanya (2023) itu menjelaskan bahwa kesehatan mental selalu berkaitan dengan stres.

Stres akan selalu ada dan bahkan bisa berdampak positif, asalkan mampu diatasi dengan baik. Di sinilah peran politik menjadi krusial. Sebab politik akan melahirkan kebijakan publik yang menentukan sejauh mana individu bisa menghadapi dan mengelola stres dalam hidupnya.

Baca Juga  Lama Vakum, Cut Intan Akhirnya Kembali ke Jalan Pedang

“Makanya, sebelum kebijakan itu menjadi stressor yang menimbulkan stress berkepanjangan, yang malah merusak kesehatan mental, mending kita berpartisipasi aktif melakukan fungsi pengawasan. Dan, sikap ini berlaku kepada siapapun yang memimpin kita,” ujarnya.

*) Penulis: M Habib Muzaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *