MAKLUMAT — Mahasiswa KKN 89 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar Gerakan Bebas Jentik (GBJ) bersama warga RT 1 Desa Laren, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, di kediaman salah satu warga, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan ini bertujuan mencegah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui pemberantasan sarang nyamuk sejak dini. Melalui edukasi dan praktik langsung, mahasiswa mengajak warga membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan rutin memeriksa tempat penampungan air di rumah.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai bahaya DBD dan pentingnya menerapkan gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, serta memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Materi disampaikan oleh mahasiswa KKN 89 UINSA, Fandi Margono Saputra dan Nada Putri Alisyabani. Keduanya menekankan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah berkembangnya jentik nyamuk di lingkungan sekitar.
“Kami berharap kegiatan ini bisa dijadikan kebiasaan baru bagi masyarakat untuk rutin memeriksa dan membersihkan tempat penampungan air di rumah masing-masing,” ujar Fandi.
Selain menjelaskan materi, pemateri juga memperagakan cara sederhana untuk menemukan dan membasmi jentik nyamuk. Mereka menggunakan bak berisi air yang diletakkan di lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Setelah jentik ditemukan, air disaring menggunakan saringan teh agar jentik terpisah. Bak kemudian dikuras dan dibersihkan agar telur maupun jentik nyamuk tidak berkembang lagi.
Praktik tersebut sekaligus menjadi media edukasi bagi warga. Dengan melihat langsung bentuk jentik nyamuk, peserta lebih mudah memahami cara mengenali dan mencegah penyebaran DBD di lingkungan sekitar.
“Untuk membasmi jentik nyamuk, kita tidak perlu alat yang rumit. Cukup pakai bak dan air. Bak diisi air lalu diletakkan di tempat yang berpotensi jadi sarang nyamuk. Kalau sudah ada jentik, air disaring dengan saringan teh agar jentiknya terpisah. Setelah itu, bak dikuras dan dibersihkan supaya jentik tidak berkembang lagi,” jelasnya.
Ibu-ibu yang mengikuti kegiatan tampak menyimak materi dengan antusias. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melihat langsung bentuk jentik nyamuk sehingga lebih memahami langkah-langkah pencegahan DBD yang dapat diterapkan di rumah.
“Kegiatan ini menjadi pengingat bagi kami bahwa pencegahan demam berdarah bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar rumah. Kami berharap masyarakat dapat terus menerapkan ilmu yang telah kami sampaikan hari ini dan menjadikan pembasmian jentik nyamuk sebagai kebiasaan bersama, sehingga lingkungan desa tetap bersih, sehat, dan terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh nyamuk,” tutup Nada.
Salah seorang peserta, Ibu Karmuwah, mengaku baru mengetahui bahwa alat sederhana seperti bak dan air dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi sekaligus membasmi jentik nyamuk.
“Penggunaan alat sederhana seperti bak dan air untuk membasmi jentik nyamuk baru saya ketahui, dan ternyata sangat bermanfaat. Saya juga jadi lebih paham karena pemateri tidak hanya menjelaskan, tetapi juga menunjukkan langsung bentuk jentik nyamuk, sehingga kami tahu cara mencegah demam berdarah dengan benar,” ujarnya.
Mahasiswa KKN 89 UINSA berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Warga juga diharapkan menjadikan pemeriksaan tempat penampungan air sebagai kebiasaan agar risiko penyebaran DBD dapat ditekan.
*) Penulis: Galvani Baihaqi Alizuan












