Maklumat Salat Istisqa Nasional: Jika Hujan Belum Turun, Salat Bisa Diulang

Maklumat Salat Istisqa Nasional: Jika Hujan Belum Turun, Salat Bisa Diulang

MAKLUMAT — Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat Nomor 2/MLM/I.1/E/2026 tentang seruan pelaksanaan salat istisqa, muhasabah, dan ikhtiar bersama menghadapi kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan.

Maklumat yang ditetapkan di Yogyakarta pada 20 Oktober 2026 itu mengajak umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah di daerah terdampak kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), untuk memohon hujan melalui salat istisqa, doa, istigfar, dan tobat.

Seruan tersebut disampaikan di tengah kondisi kemarau panjang yang menyebabkan menyusutnya sumber air dan menyulitkan sebagian masyarakat memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian. Pada saat bersamaan, kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah menimbulkan asap yang mengganggu kesehatan, pendidikan, perekonomian warga, dan kelestarian lingkungan.

Dalam maklumat tersebut, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menegaskan bahwa doa perlu disertai muhasabah dan ikhtiar nyata sesuai kemampuan masing-masing.

Muhammadiyah Serukan Salat Istisqa Berjamaah

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyerukan warga Muhammadiyah, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan dan karhutla, untuk menyelenggarakan salat istisqa berjamaah di tanah lapang.

Salat istisqa merupakan ibadah berupa doa atau salat untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kemarau dan kekeringan panjang.

Berdasarkan tuntunan dalam lampiran maklumat, salat istisqa dilaksanakan dua rakaat pada pagi hari setelah matahari terbit. Salat tidak didahului azan maupun ikamah. Takbir dilakukan tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, sebagaimana takbir salat Id. Bacaan Al-Fatihah dan surah dilantunkan dengan suara jelas pada kedua rakaat.

Baca Juga  Pemilu 2024 Usai, Ketua PWM Jatim Ajak Semua Elemen Segera Rekonsiliasi

Khotbah istisqa dapat disampaikan setelah salat atau sebelum salat. Khotbah berisi ajakan untuk memperbanyak istigfar, bertobat, melakukan muhasabah, serta memanjatkan doa memohon ampunan dan hujan.

Majelis Tarjih dan Tajdid juga mengingatkan jamaah agar mempersiapkan pelaksanaan salat dengan memperbanyak istigfar, menyelesaikan hak dan kewajiban kepada sesama, serta bersedekah.

Doa Bersama Bisa Dilakukan di Masjid atau Rumah

Bagi masyarakat yang belum dapat menyelenggarakan salat istisqa di tanah lapang, permohonan hujan dapat dilakukan melalui doa dalam khotbah Jumat, doa bersama di masjid, maupun doa secara perorangan.

Maklumat tersebut menjelaskan bahwa doa bersama dipimpin oleh seseorang yang memanjatkan doa, sedangkan jamaah mengaminkannya. Doa tidak dilantunkan serempak oleh seluruh jamaah seperti paduan suara.

Warga di daerah yang telah memperoleh hujan juga dianjurkan mendoakan masyarakat di wilayah lain yang masih mengalami kekeringan dan terdampak asap.

Anjuran ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar kepedulian terhadap masyarakat terdampak tidak terbatas pada wilayah yang mengalami kekeringan secara langsung.

Muhammadiyah Tekankan Muhasabah dan Kepedulian Lingkungan

Selain menyerukan salat istisqa, Muhammadiyah mengajak umat Islam melakukan muhasabah, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa.

Dalam maklumatnya, Majelis Tarjih dan Tajdid mengingatkan bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia. Pesan tersebut merujuk pada nilai-nilai yang dibahas dalam buku Teologi Lingkungan, Fikih Air, dan Fikih Kebencanaan.

Maklumat itu juga mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Ayat tersebut menjadi salah satu landasan ajakan untuk memperbaiki perilaku dan meningkatkan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Baca Juga  Demonstrasi Harus Tetap Bermartabat, Namun Pemerintah Harus Segera Selesaikan Akar Masalah

Umat Islam juga diminta memperbanyak istigfar, bertobat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan perbuatan maksiat, menyelesaikan hak sesama, serta memperbanyak sedekah, terutama untuk masyarakat yang terdampak kekeringan dan karhutla.

Pemerintah Diminta Perkuat Pencegahan Karhutla

Muhammadiyah menegaskan bahwa doa dan ibadah perlu berjalan bersama langkah nyata untuk mengatasi dampak kemarau panjang.

Majelis Tarjih dan Tajdid menyatakan dukungan terhadap upaya para pemangku kebijakan untuk memperkuat pemadaman dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, menegakkan hukum secara adil terhadap pelaku pembakaran, serta menjamin ketersediaan air bersih dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Seruan tersebut menempatkan penanganan kekeringan dan karhutla sebagai persoalan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait.

Salat Istisqa Perhatikan Kondisi Kesehatan

Dalam maklumatnya, Muhammadiyah juga mengingatkan penyelenggara salat istisqa agar memperhatikan keselamatan dan kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan kualitas udara buruk akibat asap kebakaran.

Masyarakat dianjurkan menggunakan masker. Anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan gangguan pernapasan dapat berdoa dari rumah. Pelaksanaan salat istisqa juga dapat dipindahkan ke masjid atau diganti dengan permohonan hujan melalui doa sebagaimana tuntunan dalam maklumat.

Ketentuan ini didasarkan pada prinsip pemeliharaan jiwa atau hifz al-nafs.

Muhammadiyah juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi banjir dan longsor ketika hujan turun setelah periode kemarau panjang.

Baca Juga  Kurban di Titik-titik Konflik Agraria, LHKP PP Muhammadiyah: Perlawanan dengan Semangat Kemanusiaan

Salat Istisqa Bisa Diulang jika Hujan Belum Turun

Majelis Tarjih dan Tajdid menjelaskan bahwa salat istisqa dapat diulang pada hari lain apabila hujan belum turun. Permohonan hujan juga dapat diteruskan melalui doa dalam khotbah Jumat, doa bersama, maupun doa perorangan.

Umat Islam diimbau tetap berprasangka baik kepada Allah dan tidak tergesa-gesa menganggap doa tidak dikabulkan.

Sebaliknya, apabila hujan telah turun merata dan kebutuhan air terpenuhi sebelum hari pelaksanaan, salat istisqa tidak perlu dilaksanakan. Pertemuan yang telah dijadwalkan dapat diisi dengan doa syukur dan pengajian. Jika hujan baru turun sedikit atau belum merata, pelaksanaan istisqa tetap dapat dilakukan sesuai rencana.

Ketika hujan turun, umat Islam dianjurkan membaca doa Allāhumma ṣayyiban nāfi‘an, yang berarti memohon agar hujan menjadi hujan yang bermanfaat, serta memperbanyak rasa syukur.

Jika hujan sangat lebat dan dikhawatirkan menimbulkan bahaya, umat Islam dianjurkan membaca doa Allāhumma ḥawālainā wa lā ‘alainā, yakni memohon agar hujan turun di sekitar wilayah yang membutuhkan dan tidak menimbulkan bahaya.

Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini ditutup dengan harapan agar Allah menerima tobat umat, menurunkan hujan yang membawa rahmat, memadamkan api yang membakar hutan dan lahan, serta menguatkan manusia dalam menjaga bumi yang diamanahkan kepada mereka.***