Marak Pelecehan Seksual di Kampus, Dosen Umsida: Tingkat Pendidikan Tidak Menjamin Akhlak Terpuji

Dosen Psikologi Umsida, Nurfi Laili MPsi Psikolog. (Foto: Dhona)

MAKLUMAT — Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nurfi Laili MPsi Psikolog, menyebut bahwa masalah pelecehan seksual di lingkungan pendidikan tinggi banyak terjadi sejak lama. Bahkan seperti fenomena gunung es.

Hal itu ia sampaikan merespons maraknya kasus pelecehan seksual di sejumlah kampus di tanah air yang belakangan mencuat dan memantik keprihatinan luas. Mulai dari kasus di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMT ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), hingga dugaan kasus yang melibatkan Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad).

Menurut Nurfi, kasus pelecehan seksual sebenarnya telah lama terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Namun, sejumlah kasus baru ramai dibicarakan karena beberapa kejadian terbongkar dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Kasus pelecehan seksual di kampus itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bisa ter-blow up sekarang karena ada orang dalam yang merasa tidak nyaman dan akhirnya berani menyampaikan ke luar untuk mencari pertolongan,” ujarnya.

Yang menjadi keprihatinan juga adalah kecenderungan dari sebagian institusi yang justru memilih untuk menutup-menutupi kasus semacam ini, sehingga publik seolah tidak mengetahui apa yang terjadi di dalamnya.

Baca Juga  Penutupan Rakornas Forpimawa di IKN, Wamen Fauzan: Kampus Jangan Tertinggal dengan Perkembangan yang Ada

Nurfi menilai, pelaku pelecehan yang kerap berasal dari kalangan yang dianggap terdidik, tidak terlepas dari rendahnya kesadaran diri (awareness).

Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin seseorang memiliki akhlak dan pemahaman yang baik dalam menghargai diri sendiri maupun orang lain.

“Meskipun dia sudah banyak belajar tentang ilmu, namun kalau kesadaran atas dirinya itu masih kurang, menurut saya itu juga bisa menjadi celah. Apalagi di lingkungan yang kurang baik pula,” tandasnya.

Selain aspek kesadaran diri, sosok yang juga menjabat Kasi Abdimas dan Kekayaan Intelektual DRPM Umsida itu menilai pola komunikasi di dalam keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

“Jika di keluarga tidak ada komunikasi yang berkaitan dengan cara memaknai kondisi diri sendiri dan menghargai kondisi orang lain, maka itu bisa jadi celah bagi mereka untuk menyampaikan hal-hal kotor ke luar,” jelasnya.

Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan pola pengasuhan generasi sebelumnya yang cenderung memberikan fasilitas berlebih kepada anak. Menurutnya, kondisi itu dapat melemahkan daya juang serta kepekaan sosial individu.

“Itu akan melemahkan kemampuan individu untuk bisa aware dengan dirinya, kebutuhannya, dan lingkungan sekitarnya,” kata Nurfi.

Baca Juga  Upacara HUT ke-80 RI, Rektor Umsida Tekankan Semangat Persatuan

Lebih jauh, Nurfi juga menyorot bahwa dalam beberapa kasus yang terjadi di perguruan tinggi, pelaku pelecehan seksual kerap melakukannya secara berkelompok.

Hal itu, kata dia, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk terafiliasi pada kelompok tertentu. Terlebih pada masa remaja, banyak individu berorientasi pada friendship centered agar diterima di lingkar pergaulan.

Akibatnya, pelaku bisa saja mengikuti tindakan kelompok demi mendapat pengakuan dan tidak dikucilkan.

“Seseorang yang memiliki pikiran berbeda dari kelompok itu maka ia akan berpikir panjang. Dia tidak tahu bagaimana keluar dari situasi yang toxic tersebut sehingga yang dia lakukan hanya mengikuti arus agar punya teman” terang Nurfi.

Nurfi menegaskan bahwa dampak terbesar pelecehan seksual terjadi pada kondisi psikologis korban. Ketika seseorang menjadi objek pembicaraan yang tidak senonoh, hal itu dapat menghancurkan harga diri atau self-esteem.

“Ketika tahu bahwa kita itu menjadi objek pembicaraan yang porno, kita merasa bahwa sejijik diri kita. Dan pikiran itu akan menghancurkan self-esteem atau harga diri. Apalagi tidak ada keluarga yang mendukung,” katanya.

Dalam jangka panjang, tekanan psikologis dapat berkembang menjadi gangguan fisik atau psikosomatis, seperti kecemasan, jantung berdebar, hingga reaksi ekstrem seperti pingsan atau freeze saat menghadapi situasi tertentu.

Baca Juga  80 Tahun Indonesia Merdeka: Kesejahteraan Rakyat Masih Jadi PR Besar

“Kalau tidak ditangani, respon fisiknya akan lebih besar. Bisa saja dia menarik diri dari lingkungan sosial,” tegasnya.

Nurfi juga menyoroti soal pelaku pelecehan seksual yang menurutnya sering kali menargetkan individu yang dianggap memiliki harga diri rendah, karena dianggap lebih mudah menjadi korban.

“Pelaku seperti punya radar untuk mendeteksi mana individu yang self-esteem-nya rendah, dan itu yang dijadikan target,” jelasnya. Karena itu, ia menekankan pentingnya pengenalan harga diri sejak dini, bahkan sejak anak memasuki fase toilet training sekitar usia dua tahun.