Dapur Jadi Laboratorium, Maryati Widiharto Bangun Industri Kosmetik dan Beasiswa

Maryati Widiharto

MAKLUMAT — Dari dapur rumah kontrakan, Maryati Widiharto membangun industri kosmetik yang kini menaungi dua pabrik dan membantu puluhan merek, sekaligus membiayai beasiswa mahasiswa kurang mampu.

Setiap pagi, aktivitas produksi bergeliat di dua pabrik kosmetik milik Maryati Widiharto. Bahan formulasi, kemasan, hingga proses pengemasan menjadi bagian dari rutinitas para pekerja.

Namun, perjalanan dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan suaminya, Hasto Widiharto, S.T., membangun industri kosmetik lokal itu bermula dari tempat yang jauh lebih sederhana: sebuah rumah kontrakan di Dalangan, Pabelan, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dapur rumah menjadi laboratorium pertama Maryati. Garasi kemudian disulap menjadi ruang uji coba berbagai formula. “Dapur itu pokoknya sudah seperti laboratorium. Ada beker gelas dan segala macam. Kami praktik kecil-kecilan di sana,” kenang Maryati saat ditemui di kediamannya pada akhir September.

Berbekal Ilmu Farmasi

Maryati mengawali perjalanan tersebut dengan bekal keilmuan di bidang farmasi. Sejak remaja, ia tertarik pada ilmu sains.

Ketertarikan itu membawanya menempuh pendidikan Sarjana Farmasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), dilanjutkan pendidikan profesi apoteker dan magister di almamater yang sama.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di The University of Nottingham, Inggris, melalui beasiswa penuh Islamic Development Bank (IDB) Jeddah.

Namun, pendidikan tersebut bukan satu-satunya bekal ketika Maryati mulai masuk ke industri kosmetik.

Gagal Jadi Titik Balik

Sebelum memiliki pabrik sendiri, Maryati bersama keluarganya pernah mencoba menjadi perantara produksi kosmetik. Mereka membantu mencarikan pabrik untuk memproduksi kosmetik milik pihak lain.

Baca Juga  Doxing: Senjata Baru yang Membungkam Suara Kritis

Usaha itu justru berujung kerugian. Salah satu pabrik di Jawa Barat yang mereka kunjungi tidak mampu memenuhi standar kualitas yang diharapkan.

“Kualitasnya sangat tidak bagus. Krim pagi dan malamnya berjamur setelah beberapa bulan diproduksi. Akhirnya kami rugi ratusan juta,” ujar Maryati.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik. Maryati menyadari bahwa industri kosmetik tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan memproduksi dan menjual produk.

Pemahaman mengenai formulasi, proses produksi, dan standar mutu menjadi bagian penting dalam menghasilkan produk yang berkualitas.

“Dari situ langsung kepikiran, pokoknya ingin membuat pabrik sendiri yang bagus dan mutunya terjamin,” katanya.

Setelah menyelesaikan studi doktoral, Maryati kembali ke Indonesia pada akhir 2015.

Setahun kemudian, ia bersama suami dan mantan mahasiswanya, apt. Fina Triana Dewi, S.Farm., mulai merintis perusahaan dari nol.

Pabrik pertama didirikan dengan nama CV Garuda Mas. Produksi masih dilakukan di rumah kontrakan sederhana yang disewa untuk memulai usaha.

Produk pertama yang dikerjakan tim Maryati adalah sabun Javalgae untuk PT Natural Nusantara (NASA) di Yogyakarta.

“Awal-awal berdiri itu saya belum memiliki merek sendiri. Saya membantu proses produksi PT NASA,” jelasnya.

Pandemi Menghentikan Produksi

Bisnis yang mulai berkembang kemudian menghadapi ujian besar ketika pandemi Covid-19 melanda.

Sebelum pandemi, permintaan produksi meningkat. Salah satu produk maklon yang diproduksi perusahaan Maryati bahkan mencapai penjualan 70 ribu pcs per bulan.

Namun, pandemi mengubah keadaan.

“Baru tiga bulan setelah Covid-19 melanda, tidak ada orderan masuk sama sekali,” ujarnya.

Baca Juga  MPKSDI Muhammadiyah Gelar Rakornas 2025: Rombak Sistem Kader Songsong Society 5.0

Dari sekitar 30 karyawan, Maryati terpaksa mempertahankan lima orang.

“Saya kasih THR karyawan sambil memberhentikan. Berat sekali hati saya, tetapi mau bagaimana lagi? Memang tidak ada pekerjaan karena produksi juga mandek,” kenangnya.

Keadaan perlahan membaik setelah pandemi. Maryati kembali memanggil sejumlah pekerja yang sebelumnya diberhentikan ketika permintaan produksi mulai tumbuh.

Situasi tersebut sekaligus mendorongnya memikirkan strategi baru untuk mempertahankan bisnis.

Bangun Merek Sendiri

Setelah bertahun-tahun menjadi mitra produksi, Maryati mulai membangun merek sendiri.

Happy White dikembangkan sejak 2021. Setelah itu, ia menghadirkan Saliha yang menyasar segmen remaja.

“Sekarang kosmetik itu seperti kebutuhan primer. Anak-anak yang masih sekolah sekarang saja lebih memilih tidak jajan untuk membeli skincare,” kata Maryati.

Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi diperluas. CV Garuda Mas Kosmetik kemudian berkembang menjadi PT Garuda Mas Kosmetik.

Dua perusahaan yang kini dijalankan Maryati, yakni PT Natural Cosmetics Indonesia dan PT Garuda Mas Kosmetik, telah memproduksi berbagai produk untuk merek lain.

Menurut Maryati, sudah ratusan merek pernah menggunakan jasa produksinya. Namun, tidak semuanya bertahan dalam jangka panjang.

“Kalau ditotal sebenarnya sudah ratusan merek yang meminta kami memproduksi produk mereka. Namun, ada yang baru mencoba kemudian tidak balik modal sehingga tidak melanjutkan produksi. Sekarang ada puluhan merek yang masih bertahan,” terangnya.

Sejumlah produk yang diproduksi bahkan mengalami peningkatan permintaan, di antaranya body lotion Ratu Arab dan produk Haloca Beauty.

Baca Juga  UMS Kirim 100 Perawat Muhammadiyah ke Arab Saudi

Saat ini, sekitar 40 karyawan bekerja di dua pabrik tersebut, mulai dari produksi, riset dan pengembangan (R&D), hingga pemasaran.

Ketika permintaan meningkat, perusahaan juga melibatkan masyarakat di sekitar pabrik dan rumah untuk membantu proses pengemasan.

Keuntungan Bisnis Jadi Beasiswa

Bagi Maryati, perkembangan bisnis bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Sejak 2022, ia menggunakan sebagian hasil usahanya untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa baru dari keluarga kurang mampu melalui program Happy White Scholarship.

Program tersebut menyasar mahasiswa semester pertama yang baru memasuki perguruan tinggi.

Sebagai dosen, Maryati melihat mahasiswa baru kerap menghadapi kendala mendapatkan beasiswa karena sejumlah program mensyaratkan indeks prestasi semester (IPS).

“Kalau semester satu biasanya mencari beasiswa itu sulit. Harapannya nanti semester berikutnya mereka sudah bisa mencari beasiswa lain dengan nilai yang bagus,” katanya.

Beberapa penerima bahkan mendapatkan dukungan hingga lulus, terutama mahasiswa yatim piatu.

Dalam setiap periode penerimaan, Maryati biasanya memberikan bantuan kepada sekitar 20 mahasiswa.

Hingga 2026, program tersebut telah membantu lebih dari 50 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Perjalanan Maryati dari dapur rumah kontrakan hingga memiliki dua pabrik kosmetik memperlihatkan bagaimana pengetahuan, pengalaman, kegagalan, dan keberanian mengambil keputusan menjadi bagian dari proses membangun usaha.

Namun, bagi Maryati, keberhasilan tersebut tidak berhenti pada pertumbuhan perusahaan.

Ada manfaat yang ingin terus diperluas: membuka lapangan kerja, membantu pengembangan merek kosmetik, serta memberikan kesempatan pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan.***